Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Sektor Pertanian Masih Tumbuh Positif Dan Menyerap Tenaga Kerja. (Foto: Merdeka.com)
Dream - Peneliti Center of Food, Energy and Sustainable Development, Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rusli Abdullah mendorong pemerintah memberikan kontribusi di sektor pertanian di tengah pandemi.
Hal ini didorong atas dasar sektor pertanian masih tumbuh positif dan mampu menyerap banyak tenaga kerja.
" Kita ketahui, sektor pertanian masih tumbuh positif dan mampu menyumbang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi," jelas Rusli dikutip dari Merdeka.com, Kamis 6 Agustus 2020.
Menurut dia, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian tumbuh 16,24 persen pada triwulan-II 2020 (q to q).
" Sementara secara year on year tumbuh 2,19 persen dan menyerap banyak tenaga kerja. Harusnya dapat dimaksimalkan," terangnya lagi.
Rusli mengatakan, sektor pertanian berpotensi besar untuk terus tumbuh positif selama dan pasca pandemi Covid-19 berlangsung. Sebab penerapan kebijakan lockdown di banyak negara menghentikan aktivitas pertanian.

Berbeda dengan Indonesia, potensi sumber daya pertanian mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
Sehingga pertanian dapat menjadi bantalan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional dan penyerapan tenaga kerja yang terdampak pandemi ini.
Berdasarkan lapangan usaha secara year on year terlihat bahwa pertumbuhan sektor-sektor yang memiliki kontribusi besar bagi PDB yaitu sektor industri dan sektor perdagangan sedang mengalami perlambatan yang cukup dalam.
Sektor industri dari pertumbuhan 3,54 persen yoy pada triwulan II tahun lalu menjadi -6,19 persen yoy pada triwulan II 2020.
Sedangkan sektor perdagangan, dari tumbuh 4,63 persen yoy pada triwulan II 2019 sekarang -7,57 persen yoy di triwulan II 2020.
" Artinya saatnya sektor pertanian untuk lebih dimaksimalkan lagi, agar bisa berkontribusi lebih besar lagi," ujarnya
" Ini peluang bagi kita, karena pasar ekspor akan semakin terbuka dan membutuhkan aneka produk pertanian berkaitan dengan pangan. Juga akan menambah tingkat penyerapan bagi tenaga kerja kita," imbuh dia.
(Sumber: Liputan6.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya