Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Pertumbuhan sinyal ekspor positif di beberapa bidang industri kreatif membuat pemerintah kian optimis dengan perkembangannya. Fesyen busana muslim merupakan salah satu yang kian digandrungi bukan hanya oleh pasar Tanah Air, tetapi juga mancanegara.
Setidaknya target ekspor fesyen muslilm saat ini lebih fokus ke beberapa negara yang banyak muslimnya seperti Saudi Arabia, Pakistan, Uni Emirat Arab, Eropa Timur, dan Eropa Selatan. Senada dengan fesyen, peluang ekspor tekstil dan garmen tanah air juga menunjukkan sinyal positif dalam beberapa tahun belakangan.
" Filipina dan Myanmar menunjukkan sinyal positif untuk ekspor dua komoditas ini, meski begitu ada juga yang mengalami penurununan seperti di Malaysia dan Thailand yang meski turun tapi masih menunjuukan angka positif," ucap Nus Nuzulia Ishak, Direktorat Jenderal Pengambangan Ekspor Nasional Kementrian Perdagangan saat ditemui di sela Talkshow Fasjion Muslim for International Market di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, untuk ekspor di bidang pakaian Malaysia merupakan kompetitor terbesar di kawasan Asia Tenggara. Namun Nus optimis jika ekspor dari Indonesia dapat menghasilkan iklim yang kondusif jika terus dikembangkan dan dilakukan sinergis antara pelaku bisnis dan pemerintah.
" Setidaknya pemerintah harus fokus untuk mengembangkan komoditas mana yang mau dikembangkan, syaratnya pertumbuhan bisnis itu harus lebih dari 10 persen ya misalnya industri fesyen muslim ini," ucapnya.
Nus menyebut komoditas yang memiliki peluang besar untuk dilakukan pengembangan ekspor antara lain perhiasan, produk ikan dan olahannya, serta lobster. Sementara untuk produk batu bara saat ini sedang melemah.
" Targetnya kami bisa menjadi kiblat bisnis fesyen muslim dunia. Optimisme ini rasanya tidak berlebihan jika melihat hasil data dari Organisasi Islam bahwa saat ini Indonesia berada di peringkat ketiga untuk eksportir produk muslim," ungkapnya menambahkan. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya