Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Dana asing membanjiri pasar modal Indonesia di pertengahan pekan terakhir Oktober 2014. Masuknya dana asing membuat IHSG melesat tinggi.
Melesatnya indeks saham acuan Indonesia turut ditopang kondisi bursa saham regional yang bergerak menguat. Bahkan rata-rata kenaikan indeks mencapai 1 persen.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 29 Oktober 2014, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 72,75 poin (1,45%) menuju 5.074,05.
Lonjakan IHSG kali ini disokong naiknya harga saham dari 245 emiten sementara 96 lainnya masih mendekam di zona hijau.
Transaksi perdagangan saham kali ini sangat ramai terlihat dari perputaran uang yang mencapai Rp 11,86 triliun. Dana itu berasal dari aksi jual beli 56,26 juta saham.
Besarnya nilai perdagangan tak terlepas dari aksi jual beli yang dilakukan pemodal asing. Dengan nilai beli Rp 9,33 triliun dan jual Rp 7,41 triliun, asing kali ini membukukan nett buy hingga Rp 1,9 triliun.
Tak heran jika maraknya aksi jual beli ini membuat seluruh sektor saham bergerak di zona hijau. Saham-saham sektor industri aneka memimpin penguatan dengan kenaikan 2,66 persen, disusul pertambangan 2,58 persen dan perkebunan 2,56 persen.
Kenaikan tajam jelang sesi penutupan juga membuat dua indeks saham syariah mencatat kenaikan signifikan.
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) sore ini ditutup menguat 2,92 poin (1,83%) ke level 162,94. Kenaikan ditopang menguatnya harga saham dari 156 emiten sementara 53 lainnya masih tertinggal di zona merah.
Transaksi perdagangan saham syariah kali ini mencapai Rp 3,51 triliun dari aksi jual beli terhadap 32,98 juta saham.
ISSI hari ini mengawali perdagangan saham di zona hijau usai menguat 0,61 poin (0,38%) ke level 160,62. Minimnya sentimen negatif yang menerpa pasar membuat ISSI nyaman di zona hijau.
Sepanjang perdagangan hari ini ISSI mencetak level terendah di teritori positif di level 160,61 dan tertinggi 162,94.
Penguatan signifikan dialami saham-saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII) yang menguat 15,17 poin (2,33%) ke level 667,79.
Deretan saham-saham syariah sore ini didominasi oleh emiten-emiten yang bergerak di zona hijau. Tercatat 27 emiten melompat masuk zona hijau sementara 3 lainnya melemah.
Hingga sore ini, seluruh indeks saham regional juga kompak bergerak ke zona hijau. Indeks Kospi Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan sebesar 1,84 persen, diikuti Shanghai Composite 1,5 persen, Nikkei Jepang 1,46 persen, dan Hang Seng 1,32 persen.
Sentimen positif juga berhembus dari pasar keuangan dunia. Seluruh mata uang utama dunia bergerak menguat terhadap dolar AS. Kurs rupiah sore ini menguat 67 poin (0,55%) menuju 12.102 per dolar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya