Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Tidak ingin meningkatkan pinjaman bermasalah, BNI Syariah hanya berani menawarkan pembiayaan untuk rumah pertama yang harganya di atas Rp 500 juta. Hal ini disebabkan nasabah yang mengajukan pembelian rumah untuk kategori tersebut memiliki keuangan yang cukup kuat.
Dengan begitu, tidak akan berpengaruh pada kenaikan harga barang atau Bahan Bakar Minyak (BBM) yang digadang-gadangkan terjadi tahun depan. Demikian disampaikan Direktur Utama BNI Syariah Dinno Indiano di Jakarta, Senin 27 Oktober 2014.
" Yang terkena dampak BBM itu biasanya golongan marginal, tapi ekspansi kami ke rumah yang kisarannya Rp 500 juta-an dan biasanya debitur untuk rumah ini bisa menyisihkan sekitar 40-50% dari pendapatannya, jadi kami yakin kalau ada kenaikan BBM sebesar Rp 3.000 maka tidak akan berdampak pada kualitas bisnis," ujarnya.
Selain itu, Dinno menyatakan pembiayaan untuk rumah pertama ini memiliki sedikit risiko karena kebanyakan para debitur menggunakan rumah pertama sebagai tempat tinggal bukan suatu aset investasi sehingga mereka akan mengupayakan sekuat tenaga untuk pelunasannya.
" Kita bermain di griya hampir 5 tahun dengan berbagai macam permasalahan termasuk biaya hidup meningkat dari kenaikan harga BBM misalnya. Tapi selagi kita konsisten dengan rumah pertama, ini paling aman, karena debitur berusaha supaya rumah pertama ini tidak hilang, ini secara psikologisnya. Kita bahkan belum pernah hapus buku sejak 5 tahun lalu," tegasnya.
Direktur Bisnis BNI Syariah Imam Teguh Saptono menambahkan pihaknya memiliki potensi yang besar untuk masuk dalam pembiayaan jenis rumah seperti itu. Pasalnya, kebutuhan rumah masih cukup besar dan jauh dari spekulasi harga.
" Segmen rumah ini masih sangat besar backlog-nya, sebanyak 15 juta kebutuhannya. Jadi kami tidak khawatir (tidak dapat melakukan ekspansi). Selain itu rumah pertama ini jauh dari faktor spekulasi karena bubble itu potensi di rumah kedua, ketiga dan seterusnya, rumah pertama jauh dari bubble," tambahnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya