Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Seminar Indonesia Halal Watch
Dream - Negara-negara di Asia Tenggara mulai berbenah diri menghadapi perdagangan bebas ASEAN mulai 31 Desember 2015. Dari beragam sektor usaha yang bebas keluar masuk, bidang jasa menjadi sektor yang paling siap menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN tersebut.
Tak hanya perusahaan, Lembaga Advokasi Halal 'Indonesia Halal Watch' yang juga telah melakukan pelbagai antisipasi menyambut era itu.
Ketua Komite Syariah World Halal Food Council, Asrorun Ni'am Soleh, menyayangkan kesiapan Indonesia yang baru sebatas pada sektor jasa. Sementara sektor manufaktur dan produksi masih harus banyak berbenah menghadapi MEA.
Kondisi ini sangat disayangkan mengingat pasar Indonesia dengan jumlah penduduk yang mencapai angka 250 juta jiwa menjadi terbuka lebar bagi masuknya produk negara ASEAN.
" Pasar kita sangat potensial dan berbahaya kalau hanya dimanfaatkan oleh anggota-anggota MEA lainnya," ungkap Asrorun di kawasan Matraman, Jakarta Timur pada Selasa, 29 Desember 2015.
Terlebih jumlah penduduk mayoritas muslim, dengan porsi sekitar 87 persen, Asrorun memastikan perlunya kebutuhan kepastian mengenai kehalalan produk yang akan dikonsumsinya. Lagi-lagi, Indonesia masih kalah bersaing dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang mayoritas muslim.
Brunei Darusalam, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand mengaku siap memasuki pasar domestik melalui sektor manufaktur dan jasa. Bahkan mereka telah menyiapkan strategi khusus agar dapat meraih keuntungan maksimal di pasar ASEAN.
Kelima negara tersebut telah mempersiapkan pembangunan infrastruktur fisik dan teknologi sejak lama. Ditambah dengan dukungan sumber daya manusia yang memang juga telah siap menyambut MEA.
" Infastruktur mereka sudah memadai untuk mendukung small medium enterprise atau Usaha Kecil Menengah," pungkasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya