Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Konferensi Pers Hasil Uji Laboratorium Bumbu Solaria Di Kantor MUI Pusat (Dream.co.id/Maulana Kautsar)
Dream - Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta semua pihak tidak buru-buru menjadikan hasil Uji Cepat, sebagai kesimpulan akhir untuk setiap pengujian produk. Hasil tersebut harus dilanjutkan dengan pengujian laboratorium oleh tim LPPOM MUI.
Hal ini berangkat dari kasus pengujian bahan pangan berupa bumbu yang digunakan restoran Solaria Balikpapan, Kalimantan Timur yang diduga mengandung unsur babi.
Atas kasus ini, setiap Pemda diminta agar menyerahkan persoalan pengambilan kesimpulan atas hasil uji akhir kepada LPPOM MUI.
"Untuk persoalan pengujian halal dan haram dimohon untuk menyerahkan kepada kami, LPPOM MUI, yang sudah berpengalaman," ujar Direktur LPPOM MUI Lukmanul Hakim usai menggelar konferensi pers hasil uji laboratorium terkait bumbu Solaria di Kantor MUI Pusat, Jumat lalu.
Menurut Lukman, hasil uji laboratorium yang dilakukan LPPOM MUI memiliki tingkat keakurasian lebih tinggi dibanding hasil uji cepat Tim DPKP. Sebab, Lukman beralasan, uji laboratorium yang dilakukan LPPOM MUI menyisir struktur paling kecil yaitu DNA.
"Kami bertanggung jawab dan percaya diri atas hasil uji DNA dengan PCR (Polymerase Chain Reaction) yang menghasilkan tidak ditemukannya DNA babi. Uji laboratorium kami memiliki tingkat ketelitian lebih tinggi," kata dia.
Untuk membuktikan tingkat ketelitian itu, Lukman membandingkan durasi metode masing-masing penelitian. Menurut dia, hasil tes cepat biasanya hanya memakan waktu 15 menit. Sementara PCR DNA perlu waktu hingga 7 jam.
"Bahkan di beberapa laboratorium butuh waktu hingga 10 jam. Biaya yang dibutuhkan untuk satu sampel saja mencapai Rp 12 juta," terang dia. (Ism)
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya



Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan