Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock)
Dream – Mayoritas orang berpikir memiliki banyak uang itu menyenangkan. Bahkan, ada yang berpikir harta berlipat ganda bisa memberikan rasa bahagia. Nyatanya, tidak selalu demikian.
Hal ini dialami oleh CEO Berkshire Hathaway, Warren Buffet. Dikutip dari laman CNBC, Selasa 6 Maret 2018, Buffet mengatakan bahwa memiliki banyak uang bukanlah kunci kebahagiaan.
Miliarder ini mengakui dia menikmati hari-hari ketika memiliki sedikit kekayaan. “ Saya tidak bahagia ketika memiliki US$10 ribu (Rp137,62 juta) ketika keluar dari sekolah,” kata dia.
Lalu, uang itu dibelanjakan untuk senang-senang.
Menurut Buffet, orang-orang cenderung berpikir bahwa memiliki lebih banyak uang akan lebih bahagia. Misalnya, seseorang punya uang US$100 ribu (Rp1,37 miliar) dan tidak bahagia. Lalu, dia berpikir akan lebih bahagia kalau punya uang US$1 juta (Rp13,76 miliar).
“ Itu tidak akan terjadi,” kata dia.
Buffet mengatakan, kebahagiaan orang akan lenyap jika melihat orang lain punya uang lebih banyak, misalnya punya uang US$2 juta (Rp27,52 miliar). “ Tapi, Anda bisa bersenang-senang ketika menjadi kaya,” kata dia.
Melihat pernyataan Buffet, periset memperlihatkan orang-orang berasumsi punya banyak uang dan menghabiskan banyak uang bisa membuat mereka bahagia. Profesor psikologi dari University of British Colombia, Elizabeth Dunn, mengatakan, saat ini, yang menjadi nilai kekayaan bukanlah uang, melainkan waktu.
“ Dari segi kebahagiaan, waktu benar-benar menjadi mata uang yang fundamental. Orang memiliki uang yang terbatas. Membeli satu hal berarti tidak bisa membayar yang lain,” kata Dunn.
Dia berkata jalan membuat orang lain bahagia dengan uangnya adalah membelanjakan ke hal-hal yang bisa membuat mereka senang. “ Ada pergeseran fokus yang mengatakan ‘izinkan saya menghasilkan uang lebih banyak, tetapi juga ‘izinkan saya membelanjakan uang dalam beragam jalan’. Ini adalah strategi menjanjikan untuk membuat orang bahagia,” kata Dunn.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya