Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Seorang pria Kanada menyumbangkan uang sebanyak 10 ribu dolar Kanada, setara Rp98 juta ke sebuah penampungan. Ternyata, penampungan itu menjadi tempat tinggalnya saat masih tuna wisma dulu.
Tindakan yang dilakukan pria tersebut memicu meningkatnya donasi bagi Rumah Penampungan Thunder Bay Ontario. Pengelola terpaksa menutup rumah penampungan ini pada 1 April lalu karena ketiadaan dana untuk operasional.
Rumah penampungan ini memiliki program yang mengerahkan para staf berkeliling kota untuk memeriksa para tuna wisma, pemabuk, dan orang-orang beresiko di jalanan. Para staf akan membawa mereka ke rumah sakit, fasilitas rehabilitasi, dan penampungan.
Petugas bidang pengembangan rumah penampungan itu, Alexandra Calderon, mengatakan seorang pria yang pernah tinggal di penampungan telah meraih kesejahteraan karena program tersebut. Kini, kata Calderon, pria itu ingin membantu penampungan dengan hasil yang telah dia raih.
Calderon menyarankan agar pria tersebut menyimpan uangnya. Tetapi, pria itu berkukuh dan ingin memastikan teman-temannya dalam kondisi aman dan selamat. Keduanya lalu menangis.
" Dia sangat bangga melakukannya (memberikan donasi)," kata Calderon. " Ini adalah sumbangan bergerak karena berasal dari seseorang yang tidak memiliki apa-apa," lanjut dia.
Calderon mengatakan pria itu telah memiliki apartemennya sendiri dan berkunjung ke penampungan pada awal April. Kunjungan itu bersamaan dengan konferensi pers CEO lembaga donor Matawa First Nation, David Paul Achneepineskum, yang berencana menyumbang 10 ribu dolar Kanada setahun untuk rumah penampungan itu.
Saat itu, Achneepineskum mengajak banyak pihak untuk memberikan donasi. Hal tersebut membuat pria mantan tuna wisma itu tergerak untuk ikut berdonasi.
Pria tersebut baru saja memenangkan gugatan class action terhadap Pemerintah Federal Kanada yang telah menjalankan sistem pendidikan residensial. Sistem tersebut dianggap diskriminatif karena memaksa 150 ribu anak terpisah dari keluarganya.
Mereka harus tinggal di penampungan dan dilarang menggunakan bahasa ibunya serta dipaksa pindah agama. Banyak dari mereka menerima kekerasan secara verbal dan pemukulan. Sebanyak 6.000 anak dilaporkan meninggal akibat sistem tersebut.
(Sah/gulfnews)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya