Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dulunya, Qatar Merupakan Negara Miskin.
Dream – Beberapa hari terakhir Qatar menjadi perhatian dunia. Keputusan Arab Saudi dan enam negara di Timur Tengah lain yang memutuskan hubungan diplomatik membuat dunia terkejut.
Alasannya bukan main-main. Qatar dituding mendukung ekstremisme dan terorisme.
Dilansir dari BBC, Jumat 9 Juni 2017, negara ini menjadi pemain kunci, baik regional maupun global, dalam beberapa tahun belakangan ini. Hal ini ditandai dengan keberhasilan negara tersebut menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
Siapa juga tak kenal stasiun televisi milik pemerintah, Al Jazeera yang memantapkan diri sebagai salah satu media internasional terkemuka. Di bidang politik, Qatar menjadi sponsor utama perundingan damai pihak-pihak yang bertikai di Afghanistan.
Kondisi ini jelas berbeda beberapa puluh tahun silam lalu saat Qatar. Bagaimana sebetulnya kondisi Qatar. Berikut penelusurannya.
© Dream
Beberapa dekade lalu, Qatar merupakan daerah nelayan yang masuk protektorat Inggris. Qatar merdeka pada 1971 dan tidak lama menemukan salah satu cadangan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) terbesar di dunia, nomor tiga setelah Rusia dan Iran.
Dengan cadangan LNG yang mencapai 900 triliun kaki kubik, Qatar menjadi eksportir LNG terbesar di dunia.
Penerimaan dari minyak dan gas membuat pendapatan per kapita rata-rata negara ini mencapai lebih dari US$100 ribu (Rp1,33 miliar), jauh melampaui Amerika Serikat dan Inggris.
© Dream
Pendapatan itu memungkinkan pemerintah menggratiskan biaya pendidikan, kesehatan, air, dan listrik. Pemerintah juga menyediakan bantuan perumahan untuk rakyat dan setiap warga dijamin mendapatkan pendidikan.
Qatar juga mengeluarkan dana 80 miliar poundsterling (Rp1.335,9 triliun) untuk membangun prasarana umum. Pendapatan yang melimpah juga memungkinkan pemerintah untuk melakukan ekspansi bisnis dan investasi di luar negeri.
Di Inggris, Qatar memiliki saham kepemilikan Shard di London—salah satu gedung tertingi di Eropa dan toko serba ada Harrords. Qatar juga punya kawasan bekas perkampungan atlet Olimpiade London, blok apartemen mewah di Hyde Park, dan sebagian kawasan keuangan di Canary Wharf.
© Dream
Di samping terkenal sebagai negara yang tajir, Qatar punya sisi lain. Salah seorang warga Qatar, Kaltham Al Ghanim, mengatakan Qatar kini menjadi kaum urban.
“ Kehidupan sosial dan ekonomi kami berubah. Banyak negara yang terpisah dan budaya konsumtif semakin menonjol,” kata Kaltham.
Lalu, banyak pembangunan baru di kawasan Doha untuk menggantikan bangunan lama. Belum ditambah dengan kemacetan lalu lintas.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya