Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto:LiliBrown/Youtube.com
Dream - Lisa Brown, seorang wanita berusia 32 tahun di Wisconsin meninggal dunia akibat gangguan langka. Dimana tubuhnya tidak bisa mencerna makanan yang masuk. Ternyata Lisa mengidap sindrom superior arteri mesenterika (SMAS).
Kondisi yang membuat usus kecilnya terjebak diantra dua arteri. Sehingga makanan yang dikonsumsinya tidak dapat melewati tubuhnya. Berat badan Lisa turun drastis dari 140 pound menjadi kurang dari 90 pund. Dalam jangka waktu kurang dari lima tahun. Selama waktu itu, Lisa terus mencari penyebab turunnya berat badannya tersebut.
Selain itu, Lisa juga menjalani perawatan di Clevelan clinic yang mengirim nutrisi langsung ke usus halusnya melalui perutnya. Bahkan keluarganya sampai menggalang dana pada halaman GoFundMe, untuk membayar seluruh tagihan medisnya.
SMASH termasuk dalam penyakit yang sulit untuk didiagnosa. Tapi beberapa gejala yang sering dialami Lisa antara lain rasa mual, muntah dan perasaan kenyang sehingga menyebabkan sakit perut seperti kembung.
" Gejala spesifik untuk sindrom ini sangat jarang ditemukan dan dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mendiagnosa kebenaran penyakit tersebut," ungkap Gabriel Pivawer, seorang dokter pengobatan osteopathic dan ahli radiologi di JFK Medical Center.
Jika SMASH tidak segera diobati akan menyebabkan kematian pada pasien. Maka harus segera dilakukan dua penanganan secara medis. Melalui endoskopi yang melewati tabung makanan yang dimasukan lewat hidung. Kemudian masuk pada bagian usus yang memiliki kompresi.
Hasilnya, barus bisa dilihat setelah enam minggu kemudian. Sistem dalam tubuh pasien akan sedikit demi sedikit membentuk lapisan lemak dalam tubuhnya. Sedangkan cara yang kedua yaitu dengan menjalani operasi untuk mencoba memperbaiki kompresi. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya