Penyebab Kanker Kelenjar Getah Bening Kambuh Seperti Ria Irawan

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Rabu, 13 November 2019 19:12
Penyebab Kanker Kelenjar Getah Bening Kambuh Seperti Ria Irawan
Aktris kawakan itu sulit berbicara lantaran kanker sudah mengganggu saraf motoriknya.

Dream - Chandra Ariati Dewi Irawan atau lebih dikenal Ria Irawan tengah terbaring di rumah sakit. Kanker kelenjar getah bening yang pernah diderita pada 2009 silam kembali menyerang Ria Irawan.

Artis berusia setengah abad itu menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sebagai pasien BPJS. Kondisinya terpantau kurang baik.

Pelantun 'Hatiku Hatimu' sulit berbicara lantaran kanker sudah mengganggu saraf motoriknya. Belum dipastikan kanker getah bening apa yang diderita Ria Irawan, namun kanker ini terdiri dari dua jenis.

Pertama adalah limfoma non hodgkin yang paling banyak ditemukan pada kasus kanker kelenjar getah bening. Sifatnya lebih ganas dan berbahaya. Sementara itu, limfoma hodgkin (LH) lebih mudah disembuhkan namun memiliki risiko kambuh sekitar 20-30 persen.

" Sebanyak 80 persen kanker kelenjar getah bening merupakan limfoma non hodgkin, sementara 20 persennya adalah hodgkin," kata dr. Tubagus Djumhana A, Sp.PD-KHOM, FINASIM, Ketua PHTDI & PERHOMPEDIN di seminar media bersama Takeda, Jakarta, Rabu 13 November 2019.

Keduanya disebabkan oleh sel kanker yang menyerang sel darah putih di kelenjar getah bening. Letaknya bisa di kepala, leher, ketiak, tulang selangka dan paha.

 

1 dari 5 halaman

Kambuh Seperti Kasus Ria Irawan

Pada kasus yang menimpa Ria Irawan, kanker getah bening mengalami relaps atau kekambuhan. Hal ini terjadi karena sel kanker ternyata hanya tidur dan tidak mati sepenuhnya.

 Kena Kanker Mematikan, Ria Irawan Siapkan Kain Kafan

" Semua kanker secara umum tidak bisa sembuh total. Ada masanya dia mengalami kekambuhan. Penyebabnya banyak, bisa karena perubahan kromosom, gen, paparan kimia dan radiasi, obesitas dan imunitas rendah," kata dr Tubagus.

Paparan zat kimia seperti pestisida dan pewarna rambut dapat memicu datangnya penyakit ini. Usia pasien yang semakin tinggi juga menjadi salah satu faktor. Selain itu, orang yang pernah tertular virus Epstein-Barr atau EBV lebih berisiko terkena LH.

Guna mencegah kanker kambuh dengan kondisi lebih ganas, perlu dilakukan pemantauan rutin setiap enam bulan sekali ketika pasien dinyatakan sembuh. Metode pemeriksaan bisa dilakukam dengan PET Scan maupun CT Scan. Selain itu, jangan lupa terapkan gaya hidup sehat untuk menjaga imunitas tubuh.

 



2 dari 5 halaman

Pengobatan Lebih Keras

 

Ketika mengalami relaps, pasien harus melakukan terapi dengan dosis obat lebih keras dan tinggi. Hal ini karena sel kanker sudah kebal dengan obat sebelumnya.

Pada pengobatan pertama, metode kemoterapi dan radioterapi mungkin masih bisa diterima dengan baik.

Setelah kambuh, pasien bisa memilih terapi bertarget yang lebih efektif.

" Targeted therapy hanya menyerang sel kanker dengan mendeteksi marker di permukaan sel tersebut. Sehingga sel yang sehat tidak terganggu dan efek sampingnya lebih ringan," ujar dr. Tubagus.

3 dari 5 halaman

Brentuximab Vedotin, Terapi Inovatif untuk Kanker Limfoma Hodgkin

Dream - Limfoma Hodgkin (LH) merupakan salah satu jenis kanker kelenjar getah bening yang cukup ganas. Jumlah kasus atau prevelansinya cenderung lebih rendah dibandingkan kanker non-HL. Data Globocan (Global Cancer Observatory) 2018 mencatat, ada 1.047 kasus HL di Indonesia dengan jumlah kematian 574 jiwa.

 Brentuximab Vedotin, Terapi Inovatif untuk Kanker Limfoma Hodgkin

Limfoma Hodgkin ini merupakan kanker yang terjadi karena mutasi sel B pada sistem limfatik dan biasa terjadi di kelenjar getah bening leher dan kepala. Gejalanya ditandai dengan pembesaran kelenjar, demam, kelelahan, sesak napas hingga nyeri dada.

Kanker ini memiliki angka kesembuhan yang cukup tinggi, yakni mencapai 80 persen. Pengobatan pertama dapat dilakukan dengan cara kemoterapi dan radioterapi. Sayangnya, masih ada 20-30 pasien yang tidak merespons dengan pengobatan atau mengalami kekambuhan.

" Kalau kambuh, obat kemonya harus diberikan dengan dosis lebih tinggi dengan efek samping yang tentunya lebih berat. Harus ditopang juga dengan obat stimulus atau tindakan transfusi," ujar Dr.dr. Ikhwan Rinaldi, SpPD-KHOM, M.Epid, Spesialis Hematologi Onkologi Medik FKUI-RSCM di Jakarta, Rabu 13 November 2019.

 

4 dari 5 halaman

Pengobatan Non Transplantasi

Sebagai alternatif, ada inovasi pengobatan non transplantasi dengan Antibody Drug Conjugate (ADC) yang dikategorikan sebagai terapi bertarget. Obat pintar ini berbeda dengan kemoterapi karena mampu mengenali sel limfoma hodgkin melalui ikatan antara antibodi monoklonal anti-CD30 dengan CD30 yang berada di permukaan sel.

 Aneurisma Otak, Pemicu Strok yang Sulit Dideteksi

" LH memiliki marker yang disebut CD30. Obat pintar ini bekerja dengan cara mencari marker tersebut dan masuk ke dalam inti sel guna melakukan penghancuran. Karena ini targeted therapy, jadi hanya menyerang sel kanker saja," jelasnya.

 

 

5 dari 5 halaman

Efek Samping Ringan

Obat tersebut dinamai Brentuximab Vedotin (BV) dan tidak menghancurkan sel lain sehingga efek samping yang ditimbulkan relatif lebih ringan dibandingkan kemoterapi pada umumnya.

Beberapa pasien tidak mengalami kerontokan rambut, penggelapan kulit dan lemas berlebihan.

 Takeda

Prosedur terapi hanya memakan waktu sekitar 1 - 2 jam. Sekitar 75 persen pasien merespons pengobatan BV dengan baik dan 94 persennya mengalami penyusutan tumor.

Biaya pengobatan kanker limfoma hodgkin dengan terapi BV terbilang lebih efisien dibandingkan kemoterapi lain.

" Contohnya obat ABVD yang dibanderol sekitar Rp1-3 juta. Tapi selain itu perlu penanganan segala macam seperti transfusi trombosit berkali-kali yang satunya dibanderol sekitar Rp6 juta," kata Dr.dr. Tubagus Djumhana A, Sp.Pd-KHOM, FINASIM.

Saat ini Takeda Indonesia telah menerapkan program bantuan pasien (PAP) untuk terapi BV. Bekerjasama dengan Siloam Hospital, pasien dapat lebih mudah untuk mengakses obat tersebut.

 

 

Beri Komentar
Kenangan Reza Rahadian Makan Siang Terakhir dengan BJ Habibie