Ronsen Gigi, Aman atau Tidak?

Reporter : Cynthia Amanda Male
Kamis, 17 Januari 2019 14:30
Ronsen Gigi, Aman atau Tidak?
Tindakan radiologi sudah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien.

Dream - Kini masyarakat Indonesia semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan. Tindakan pencegahan banyak dilakukan masyarakat salah satunya dengan rutin melakukan pengecekan ke rumah sakit atau klinik.

Tapi ada satu tindakan pemeriksaan yang masih banyak dihindari masyarakat di rumah sakit. Salah satunya adalah ronsen. Menghindari paparan radiasi sering dijadikan alasan.

Masih banyak masyarakat takut dengan paparan radiasi yag dianggap bisa berbahaya dan memicu penyakit lainnya.

Hal ini diakui Dokter Spesialis Radiologi Kedokteran Gigi, Menik Priminiarti. " Radiasi akibat tindakan radiologi memang sangat berbahaya. Tapi hal itu berbahaya hanya ketika dosisnya kelebihan atau tindakannya tidak dibutuhkan," jelasnya di Penang Bistro, Jakarta Selatan, Rabu, 16 Januari 2019 kemarin.

Itulah yang menjadi penyebab tindakan radiologi selalu disertai pengawasan dokter.

Tindakan radiologi sudah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien untuk menegakkan diagnosis serta menentukan rencana perawatan.

 

1 dari 1 halaman

Bagaimana dengan Ronsen Gigi?

Kalau Sahabat Dream sedang menjalani perawatan gigi, biasanya akan diminta melakukan dua teknik radiografi, yaitu Panoramik dan Sefalometri Lateral. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda.

Radiograf Panoramik atau ronsen panoramik dilakukan untuk menghitung jumlah gigi dan melihat kelainan pada mahkota atau akar.

Sedangkan, Sefalometri Lateral dilakukan untuk melihat kelainan tumbuh kembang gigi dan rahang, menilai hubungan gigi dengan rahang atas maupun bawah serta tengkorak.

 shutterstock

Foto: Ilustrasi/Shutterstock

Keduanya terlihat cukup berbeda dari segi hasil. Panoramik menampakkan struktur gigi tampak depan, sedangkan Sefalometri Lateral menampilkan tampak samping.

Selain kedua teknik tersebut, kini para dokter memiliki teknik baru yaitu Cone Beam Computed Tomography (CBCT) untuk memeriksa kasus lebih kompleks seperti penentuan lokasi gigi yang tidak dapat tumbuh, diagnosis anomali gigi maupun rahang atau evaluasi kasus celah langit-langit.

" CBCT menyerupai CT Scan, tapi dikhususkan untuk bagian kepala. Jadi, hasilnya bisa lebih jelas daripada CT Scan yang menyeluruh. Lebih jelas melihat kondisi jaringan dan sarafnya," kata Menik.

Ketiga prosedur radiologi tersebut aman diberikan pada anak-anak maupun dewasa, walaupun harus dilakukan dengan dosis tinggi.

" Jika seorang anak dapat rujukan untuk melakukan perawatan radiologi berdosis tinggi, berarti kondisi tubuhnya memang perlu dan akan siap dengan perawatannya. Justru, perawatan gigi lebih dini akan lebih baik."

Beri Komentar
Wasiat Terakhir Ustaz Arifin Ilham