Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
(Foto: Ilustrasi/Shutterstock)
Dream - Kini masyarakat Indonesia semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan. Tindakan pencegahan banyak dilakukan masyarakat salah satunya dengan rutin melakukan pengecekan ke rumah sakit atau klinik.
Tapi ada satu tindakan pemeriksaan yang masih banyak dihindari masyarakat di rumah sakit. Salah satunya adalah ronsen. Menghindari paparan radiasi sering dijadikan alasan.
Masih banyak masyarakat takut dengan paparan radiasi yag dianggap bisa berbahaya dan memicu penyakit lainnya.
Hal ini diakui Dokter Spesialis Radiologi Kedokteran Gigi, Menik Priminiarti. " Radiasi akibat tindakan radiologi memang sangat berbahaya. Tapi hal itu berbahaya hanya ketika dosisnya kelebihan atau tindakannya tidak dibutuhkan," jelasnya di Penang Bistro, Jakarta Selatan, Rabu, 16 Januari 2019 kemarin.
Itulah yang menjadi penyebab tindakan radiologi selalu disertai pengawasan dokter.
Tindakan radiologi sudah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien untuk menegakkan diagnosis serta menentukan rencana perawatan.
Kalau Sahabat Dream sedang menjalani perawatan gigi, biasanya akan diminta melakukan dua teknik radiografi, yaitu Panoramik dan Sefalometri Lateral. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
Radiograf Panoramik atau ronsen panoramik dilakukan untuk menghitung jumlah gigi dan melihat kelainan pada mahkota atau akar.
Sedangkan, Sefalometri Lateral dilakukan untuk melihat kelainan tumbuh kembang gigi dan rahang, menilai hubungan gigi dengan rahang atas maupun bawah serta tengkorak.

Foto: Ilustrasi/Shutterstock
Keduanya terlihat cukup berbeda dari segi hasil. Panoramik menampakkan struktur gigi tampak depan, sedangkan Sefalometri Lateral menampilkan tampak samping.
Selain kedua teknik tersebut, kini para dokter memiliki teknik baru yaitu Cone Beam Computed Tomography (CBCT) untuk memeriksa kasus lebih kompleks seperti penentuan lokasi gigi yang tidak dapat tumbuh, diagnosis anomali gigi maupun rahang atau evaluasi kasus celah langit-langit.
" CBCT menyerupai CT Scan, tapi dikhususkan untuk bagian kepala. Jadi, hasilnya bisa lebih jelas daripada CT Scan yang menyeluruh. Lebih jelas melihat kondisi jaringan dan sarafnya," kata Menik.
Ketiga prosedur radiologi tersebut aman diberikan pada anak-anak maupun dewasa, walaupun harus dilakukan dengan dosis tinggi.
" Jika seorang anak dapat rujukan untuk melakukan perawatan radiologi berdosis tinggi, berarti kondisi tubuhnya memang perlu dan akan siap dengan perawatannya. Justru, perawatan gigi lebih dini akan lebih baik."
Advertisement
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele