Terawan Putranto, Dokter Kontroversi 'Cuci Otak' yang Jadi Menkes

Reporter :
Rabu, 23 Oktober 2019 19:42
Terawan Putranto, Dokter Kontroversi 'Cuci Otak' yang Jadi Menkes
Selama ini, dr. Terawan mengabdi kepada negara sebagai Kepala RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.

Dream - Terawan Agus Putranto dipilih oleh Presiden Joko Widodo untuk memimpin Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggantikan Nila F Moeloek.

Nama Dokter Terawan sempat menjadi perbincangan publik. Bermula saat izin praktik sang dokter yang sempat dibekukan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Tapi, peristiwa itu tak menghalanginya untuk jadi sosok nomor satu di Kemenkes.

Selama ini, Dokter Terawan mengabdi kepada negara sebagai Kepala RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Ia kerap mendamping sederet pejabat yang menjalani perawatan di RSPAD, seperti almarhumah mantan Ibu Negara Ani Yudhoyono dan Menko Polhujam Wiranto.

Selain itu, Dokter Terawan juga merupakan salah satu dokter kepresidenan. Dikutip dari Liputan6.com sejak kecil, pria kelahiran Yogyakarta 5 Agustus 1964 ini memang bercita-cita menjadi dokter. Dan, cita-citanya berhasil dicapai.

Ia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Setelah itu, ia menyelesaikan pendidikan kedokteran spesialisnya di Departemen Spesialis Radiologi di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur.

1 dari 5 halaman

Kontroversi 'Cuci Otak'

Dokter Terawan dikenal dengan temuannya yaitu metode pengobatan brain washing atau dikenal dengan cuci otak.

Metode itu diklaim bisa menyembuhkan strok, yang kemudian muncul pro dan kontra baik dari ranah medis maupun non-medis.

Hal itu lantaran anggapan bahwa metode 'cuci otak' sang dokter belum bisa dibuktikan keamanannya secara medis dan butuh penelitian lebih lanjut. Bahkan sampai saat ini kasus ini belum ada kejelasan.

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) pernah menjatuhkan sanksi pada dokter Terawan Agus Putranto, S. Rad.

Sanksi yang ditimpakan adalah, pencabutan keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dengan rekomendasi pencabutan izin praktik, selama 12 bulan, terhitung dari Februari 2018.

Sumber: Liputan6.com

2 dari 5 halaman

Seefektif Apa Metode 'Brain Wash' dr. Terawan Atasi Stroke?

Dream - Prosedur Digital Subtraction Angiography (DSA) yang dikembangkan dr. Terawan Agus Putranto membuat dirinya mendapat 'kartu merah' dari Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK) Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

 Seefektif Apa Metode 'Brain Wash' dr. Terawan Atasi Stroke?

Sang dokter yang berpraktik di RSPAD Gatot Subroto dianggap melakukan pelanggaran berat pada kode etik kedokteran. Hal ini lantaran ia dianggap mengiklankan secara berlebihan dengan klaim tindakan DSA untuk pengobatan (kuratif) dan pencegahan (preventif).

Terkait hal tersebut, Ahli Neurologi dari RS Gading Pluit, dr. Andreas Harry, Sp.S(K) mengungkap, DSA merupakan prosedur yang bisa digunakan untuk tujuan diagnostik dan terapi.

Yaitu dengan memasukkan kateter khusus ke dalam pembuluh darah yang mengaliri organ sasaran. DSA otak yang awalnya dilakukan dengan tujuan diagnostik, berkembang menjadi terapi, yang dikenal dengan istilah brain spa atau cuci otak.

" DSA itu bisa untuk diagnostik seperti pembuluh darah melembung, dan terapi pada kemoterapi," ujar Andreas, saat diwawancarai Health Liputan6.com.

 

3 dari 5 halaman

Penghancuran Gumpalan Darah

Menanggapi soal kasus cuci otak yang menimpa dokter Terawan, dr Andreas mengatakan bahwa antikoagulan bernama heparin yang disemprotkan menggunakan alat DSA hanya dapat digunakan untuk mencegah terjadinya stroke dan serangan jantung.

 Ini Sebab Serangan Jantung Mengintai Usia Muda

" Jadi bukan mengobati. Dan juga cuci otak menggunakan DSA dengan semprotan heparin itu enggak bisa digunakan untuk semua penyakit," tegas Andreas.

 

 

4 dari 5 halaman

Salah Kaprah

Terkait dengan metode 'cuci otak', Andreas mengakui banyak orang yang salah kaprah. Menurutnya, heparin, yang selama ini dianggap sebagai penghancur gumpalan darah, ternyata hanya memiliki fungsi pencegahan.

" Jadi apanya yang mau dicuci? Kalau penghancur gumpalan itu namanya trombolitik, jadi jangan salah kaprah," ujar Andreas.

 Dokter Terawan

Penyemprotan heparin dengan menggunakan metode DSA ternyata memiliki efek samping mengerikan, walau jarang terjadi, yaitu perdarahan di otak.

Oleh sebab itu, Andreas mengimbau untuk berhati-hati dalam penggunaan obat tersebut dan pastikan berkonsultasi secara matang dengan dokter terlebih dahulu.

Sumber: Liputan6.com/ Aretyo Jevon Perdana

5 dari 5 halaman

Pemecatan Dokter `Cuci Otak` Terawan Ditangguhkan IDI

Dream - Keputusan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menangguhkan pemecatan dr Terawan Putranto. Kepastian tersebut diperoleh setelah IDI mengeluarkan keterangan pers terkait nasib dokter yang ramai dibicarakan karena dianggap melanggar kode etik kedokteran.  

Sebelumnya, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI memutuskan dokter yang praktik di RSPAD Gatot Subroto itu dipecat dari keanggotaan karena dianggap melakukan pelanggaran kode etik berat. Salah satunya adalah teknik cuci otak yang selama ini dilakukan dr Terawan. 

" Menunda melaksanakan putusan MKEK karena keadaan tertentu. Oleh karenanya dokter Terawan masih berstatus sebagai anggota IDI," kata Ketua Umum PB IDI Profesor Ilham Oetama Marsid di Kantor PB IDI, Jakarta Pusat, Senin 9 April 2018, seperti dikutip dari Liputan6.com

Dalam keterangannya, IDI merekomendasi agar teknik pengobatan Digital Subtraction Angiogram (DSA) atau terapi 'Cuci otak' dokter Terawan dilakukan uji penilaian oleh tim Health Technology Assesememt (HTA) Kementerian Kesehatan.

Sebelumnya, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) memberi sanksi ke dokter Terawan. Surat ditandatangani Ketua MKEK Pusat DR Dr Prijo Sidipratomo SpRad (K).

MKEK menduga dokter yang identik dengan terapi Brain Washing melalui metode diagnostik Digital Substraction Angiography (DSA) itu sudah berlebihan dalam mengiklankan diri. Menurut MKEK, tidak sepatutnya dokter Terawan mengklaim tindakan cuci otak itu sebagai tindakan pengobatan (kuratif) dan pencegahan (preventif) stroke iskemik.

Alasan lain yang memperkuat MKEK menjatuhkan sanksi itu karena dokter Terawan diduga menarik bayaran dengan nominal yang tidak sedikit. Selain itu, menurut MKEK, janji-janji dokter Terawan akan kesembuhan setelah menjalankan tindakan cuci otak (brain washing). Padahal, terapi tersebut belum ada bukti ilmiah atau Evidence Based (EBM).

Reporter: Muhammad Radityo Priyasmoro/ Liputan6.com

[crosslink_1]

Beri Komentar
Detik-detik Bom Bunuh Diri Meledak di Polrestabes Medan