Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit akibat bakteri yang menyerang sistem pernapasan. Sifatnya yang berupa infeksi dapat disembuhkan dengan konsumsi antibiotik.
Tapi jangan senang dahulu. TB ternyata bisa berkembang menjadi penyakit yang lebih serius seperti kanker.
Riset Kesehatan Dasar 2013 menyebutkan bahwa 28,7 persen dari pasien kanker paru mengalami kesalahan diagnosa sebagai TB, di mana 73,4 persen diantaranya sudah mengonsumsi obat anti TB selama lebih dari satu bulan.
" TB itu sifatnya infeksi dan peradangan, sehingga menjadi salah satu pemicu sel paru-paru berkembang secara tidak normal menjadi kanker," ujar Niken Palupi, Kepala Subdirektorat
Penyakit Kanker dan Kelainan Darah DPPTM Kemenkes di Jakarta, Selasa 6 Februari 2018.
Niken menyebutkan, pasien TB yang termasuk ke dalam kelompok berisiko kanker harus lebih waspada. Seperti perokok, orang yang sering terpapar polusi, dan mereka yang sering bekerja di lingkungan karsinogenik.
Batuk berkepanjangan, batuk berdarah dan sesak napas juga patut diwaspadai, karena kanker paru biasanya terjadi pada kasus TB dengan Bakteri Tahan Asam (BTA) positif.
" Lakukan evaluasi setelah pengobatan anti-TB dengan OAT adekuat selama satu bulan. Apabila tidak membaik, harus rujuk ke pemeriksaan yang lebih lanjut. Bisa jadi itu bukan TB,
melainkan kanker atau bisa jadi itu TB yang disertai dengan kanker," ujar Niken.
Deteksi kanker paru-paru dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti foto thorax, tes diagnostik Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) dan tes ct-DNA untuk melengkapi tes
biopsi. Sementara pengobatanya masih serupa dengan kanker lainnya, seperti chemotherapy, targeted therapy atau immunotherapy.
(Sah/Laporan Annisa Mutiara)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya