Cerita Tak Terlupakan Mualaf Papua Naik Haji: Orang Arab Cium-Cium Badan Saya

Reporter : Okti Nur Alifia
Kamis, 11 Agustus 2022 14:35
Cerita Tak Terlupakan Mualaf Papua Naik Haji: Orang Arab Cium-Cium Badan Saya
"Bapak dan adik saya pendeta. Saya mualaf sejak umur 30-an. Alhamdulillah Islam ini di hadapan Allah Rahmatan Lil Alamin," tuturnya.

Dream - Ini kisah ibadah haji seorang mualaf asal Papua, Hasan Adadikam (65), yang telah kembali ke Tanah Air. Saat menjalankan rukun Islam ke lima itu, dia mengaku sampai dicium-cium orang Arab.

Hasan telah menjadi mualaf sejak umur 30 tahun, setelah sebelumnya memeluk agama Kristen Protestan. Sementara itu, ayah dan adiknya merupakan pendeta.

" Bapak dan adik saya pendeta. Saya mualaf sejak umur 30-an. Alhamdulillah Islam ini di hadapan Allah Rahmatan Lil Alamin," tuturnya.

Dia mengaku sudah memberangkatkan istrinya berhaji pada tahun 2004. Tahun inilah kesempatannya untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci.

" Saya sendiri, karena istri sejak tahun 2004 sudah naik haji. Saya berangkatkan dia lebih dahulu. Sekarang baru saya dapat kesempatan dan alhamdulillah," bebernya.

1 dari 4 halaman

Perjalanan Hajinya Disebut Luar Biasa

Mengenakan sorban dan jubah putih, Hasan mengaku, dalam perjalanan hajinya tidak ada keberatan yang dialami. Menurutnya perjalanan ibadah hajinya luar biasa.

" Kami bersyukur kepada Allah karena perjalanan haji ini luar biasa. Petugas di Makassar ini mulai dari Gubernur, Wali Kota, sampai petugasnya semua luar biasa. Karena yang berkesan di ibadah haji kami ini semuanya tidak ada merasa keberatan," ujarnya saat ditemui di Asrama Haji Sudiang Makassar, Rabu, 10 Agustus, dikutip dari Merdeka.com.

Hasan Adadikam merupakan satu-satunya jemaah haji asal Papua dari total 491 orang jemaah pada kloter 15 Makassar. Sebanyak 490 orang lainnya berasal dari Sulawesi Selatan dan provinsi lain.

2 dari 4 halaman

Di Balik Cuaca Ekstrem

Sebelum berangkat, dia sempat mengkhawatirkan cuaca ekstrem yang terjadi di Arab Saudi. Apalagi, saat itu dirinya mendengar berita bahwa suhu di Arab Saudi mencapai 40-50 derajat celcius.

Sesampainya di sana, ternyata yang terjadi justru sebaliknya, hujan lebat terjadi di Masjidil Nabawi.

" Ternyata saat tiba di sana tidak seperti itu. Akhirnya doa kami, masyarakat, dan umat Islam ini yang berkesan di pribadi kami, kemarin kami salat di Masjidil Nabawi itu hujan lebat luar biasa," kata dia.

3 dari 4 halaman

Dicium Orang-orang Arab

Kesan menarik lain yang didapatkan selama 40 hari di Arab Saudi adalah dia sempat dicium orang-orang Arab. 

" Orang Arab sendiri cium-cium badan saya, semua itu karena begitu berkesan di mereka. Saya tidak tahu bahwa apa kehadiran saya selaku mualaf ini dapat diterima atau tidak," ungkapnya.

Kondisi tersebut, membuat rekan satu kloter Hasan pun terharu. Teman-temannya disebut keheranan kenapa dia begitu disenangi orang Arab. Apalagi saat pengurusan paspor, saat tiba di Arab Saudi dia tidak mengalami kesulitan sama sekali.

" Awal mula semua jemaah haji ini heran, kenapa sampai bapak haji ini kok disenangi orang Arab. Sampai di pelabuhan juga kemarin saya mau masuk paspornya, mereka datang ambil pergi cium-cium badanku. Sampai mereka atur saya punya sorban. Semuanya membuat saya bangga dengan itu kehadiran menjalankan ibadah haji," kata pria asal Timika, Papua ini.

4 dari 4 halaman

Berharap Kuota Haji Bertambah

Hasan berharap pelaksanaan haji tahun depan tidak ada lagi pembatasan akibat pandemi Covid-19. Dia juga mengapresiasi petugas haji yang memberikan fasilitas dan pelayanan cukup baik mulai dari makan dan minum hingga hotel. 

" Saya sampaikan ke Menteri Agama saat bertemu di Mekkah, salah satu yang ditingkatkan adalah jemaah haji Indonesia harus ditambah. Tidak usah ragu-ragu dengan covid, karena di Arab itu tidak ada. Cuma di Indonesia selalu menjaga kemungkinan, sehingga tahun berikutnya jemaah haji harus bertambah," tegasnya.

Sosok Hasan sendiri merupakan tokoh masyarakat dan agama di Kabupaten Timika, Papua. Bahkan, Hasan adalah salah satu koordinator pemekaran Provinsi Papua Tengah.

" Sekarang kita sudah masuk Provinsi Papua Tengah. Kebetulan saya salah satu koordinator pemekaran itu," ungkapnya.

 

Beri Komentar