Buku Gratisan Tuntun Gadis Kolombia Peluk Islam

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 6 Maret 2015 07:40
Buku Gratisan Tuntun Gadis Kolombia Peluk Islam
Saidah gigih dalam berdakwah meski ia belum resmi masuk Islam.

Dream - Saidah Paola Dugue Correa, gadis Kolombia telah menemukan Islam. Lahir di kota Bucaramanga, Kolombia, Saidah menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Kota Valledupar di bagian timur laut Kolombia.

Saidah adalah sarjana biologi dari Universidad de Santander (UDES), Bucaramanga. Perkenalan Saidah dengan Islam bermula saat mendapat email dari seorang Muslim Mesir di tahun 2004. Saat itu, ia menulis komentar singkat di sebuah situs Islam yang baru dibacanya. Dia menyatakan tertarik dengan Islam.

Tak disangka, beberapa hari kemudian, dia mendapat email yang menanyakan apakah tertarik menerima buku tentang Islam secara gratis dalam bahasa Spanyol. Email itu dari seorang Muslim Mesir bernama Mostafa Mohye Mossad.

Awalnya Saidah meragukan email tersebut. Dalam pikirannya, dia mengaggap tidak mungkin ada orang yang mau mengirim buku, gratis pula. Tetapi keraguan tidak menyurutkan keingintahuannya terhadap Islam.

Dua bulan kemudian, buku yang dijanjikan Mohye datang. Saidah senang dan mulai rajin berbagi dengan Mohye tentang bagaimana mengenalkan Islam kepada non-Muslim. Saidah bahkan memberikan alamat teman-temannya yang non-Muslim agar dikirimi buku sejenis.

" Juli 2004, kami mulai 'berdakwah'. Kami berempat, Mohye, Maryam, Claudia dan saya sendiri membentuk kelompok kecil. Kini, tahun 2008, jaringan dakwah kami telah meluas hingga terdiri dari 30 orang dari berbagai negara di dunia," kenang Saidah.

Kala itu, banyak temannya dari kalangan Muslim maupun non-Muslim yang heran dengan kegiatannya. Bukan tanpa sebab, Saidah berdakwah kala dirinya belum memeluk Islam.

Tak cuma itu, Saidah gigih mempertahankan Islam jika bertemu dengan orang-orang yang memiliki pandangan salah tentang Islam. Pertanyaan muncul dari temannya. Mengapa Saidah sering belum masuk Islam juga.

" Saat itu saya menjawab, saya hanya ingin belajar tapi belum tertarik masuk Islam," katanya.

Lambat laun, hati Saidah mulai terbuka. Ada perasaan lain yang dirasakannya. Dirinya mulai memahami ada kebenaran dan menganggap Islam adalah satu-satunya jalan dan cahaya kehidupan yang sesungguhnya.

Kondisi itu berlangsung hingga tahun 2007. Sebagian temannya sadar Saidah belum kunjung memeluk Islam.

" Tapi sebenarnya saya sudah bersyahadat dalam hati, mengakui bahwa tidak ada sesuatu yang patut disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya," katanya.

Teman-teman Saidah mengatakan, " Hatimu sebenarnya sudah Islam. Kamu seorang Muslim. Semua yang kamu lakukan adalah perbuatan seorang Muslim. Hanya saja kamu mungkin belum tahu. Kamu harus melakukan syahadat karena itu perkara penting untuk sahnya seorang Muslim."

Akhirnya Saidah mulai memahami perkataan teman-temannya itu. Di akhir bulan Ramadan 2007, ia pergi ke Maicao, sebuah kota di provinsi La Guajira, Kolombia. Dia menemani temannya, Aisha yang akan bersyahadat di sebuah masjid.

Namun keraguan masih menggelayut dalam diri Saidah. Tatkala menyaksikan teman-teman sedang salat, Saidah menyempatkan berdoa kepada Allah untuk membantunya dalam mengambil keputusan.

Doa Saidah didengar Allah. Hati Saidah benar-benar tergerak untuk mengucapkan syahadat. Dia segera memberitahu keinginannya mengucapkan syahadat kepada Aisha dan Muhammad Hamoud.

" Kami pergi ke masjid untuk mengucapkan syahadat. Beberapa menit sebelumnya, saya menelepon orang tua saya untuk memberitahu mereka tentang niat saya ini. Hal itu perlu saya lakukan karena ini adalah keputusan yang sangat penting yang akan mempengaruhi hidup saya," kata Saidah. Beruntung kedua orang tua Saidah tak mempersoalkan keputusan puterinya.

Tidak cukup di masjid, Saidah juga mendeklarasikan keislamannya melalui internet di depan dua orang saksi, yakni Mostafa Mohye dan Ahmed, keduanya dari Mesir.

Keluarga dan teman-teman non-Muslim Saidah menanggapi keislaman Saidah dengan tenang. Mereka bahkan mengomentari dengan candaan.

" Alhamdulillah mereka menerimanya dengan cara yang baik. Keponakan saya, Omar David, 6 tahun, suka menulis kata Allah dalam kaligrafi Arab, dan dia suka lagu-lagu Islami juga. Kadang-kadang ia meminta saya untuk membacakan Alquran."

(Sumber: onislam.net)

 

Beri Komentar
Smartfren Presents Milenial Males Jadi Miliuner Series Eps 2 - Ngebet Viral