Masjid Al Makmur, Oase di Tengah Pusat Ekonomi Tanah Abang

Reporter : Eko Huda S
Rabu, 4 Maret 2015 09:42
Masjid Al Makmur, Oase di Tengah Pusat Ekonomi Tanah Abang
Masjid Al Makmur tetap kokoh berdiri, tak tergilas oleh roda-roda ekonomi Pasar Tanah Abang yang bergerak super cepat.

Dream - Bangunan itu berhimpit di permukiman padat. Berjejal dengan kios-kios penjual kurma. Berada di tengah hiruk pikuk pusat perekonomian Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Bentuknya sangat mencolok. Dua menara menjulang. Berdiri kokoh mengapit tiga pintu masuk yang beratap kubah hijau. Kaligrafi indah terpahat di atas pintu-pintu masuk itu. Inilah Masjid Al Makmur.

" Masjid ini juga dikenal Masjid Arab," tutur Khoirul, pengurus Masjid Al Makmur saat berbincang dengan Dream.co.id di Jakarta, kemarin.

Arsitektur Masjid Al Makmur mirip gaya Timur Tengah, namun dengan sentuhan yang cukup modern. Bagian atas pintu masuk berbentuk lengkung-lengkung. Sementara, pucuk dua menara berbentuk kubah menyerupai bawang.

Di bagian dalam, kesan klasik sangat kental. Kusen pintu warna dan jendela bergaya abad 17. Ruang utama terbentang luas dengan hamparan karpet merah. Sejumlah pilar tampak kokoh menopang atap dengan plafon berhias lampu-lampu kristal.

" Masjid ini mampu menampung hingga 5.200 jamaah. Di belakang terdapat tiga makam yang dikeramatkan," kata Khairul.

Masjid Al Makmur, Oase di Tengah Pusat Ekonomi Tanah Abang© MEN

Bagian mihrab dibangun cukup luas dan tinggi. Di sebelah kiri terdapat jendela yang menghubungkan dengan bagian luar. Di bagian tengah, terdapat mimbar kayu yang megah. Bentuknya tinggi dan diukir indah. Sementara, pada bagian kanan terdapat dia pintu yang menghubungkan dengan ruangan lain.

Masjid ini punya sejarah panjang. Cikal bakalnya dibangun pada tahun 1704 oleh bangsawan Kerajaan Islam Mataram yang dipimpin KH Muhammad Asyuro. Semula, masjid ini hanyalah surau yang berukuran sekitar 12×8 meter.

Surau itu terus berkembang hingga anak turun Muhammad Asyuro. Kedua anak KH Muhammad Asyuro, KH Abdul Murod Asyuro dan KH Abdul Somad Asyuro, meneruskan dakwah sang ayah hingga abad XX.

Masjid Al Makmur, Oase di Tengah Pusat Ekonomi Tanah Abang© Dream Bimo

Surau itu beberapa kali dipugar. Pembangunan besar-besaran dilakukan atas inisiatif tokoh masyarakat Tanah Abang keturunan Arab, Habib Abu bakar bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Habsyi. Tahun 1915, surau diperluas jadi 44x28 meter. Perluasan dilakukan di atas tanah wakaf dari Habib Abu bakar dengan rancangan dari seorang arsitek Belanda.

" Dulu masjid ini juga dijadikan tempat pertemuan Kerajaan Mataram dengan Kerajaan Banten untuk menyusun strategi mengusir penjajah. Karena lokasi strategis dilalui sungai besar," ujar Khoirul.

Selain strategis, kala itu Tanah Abang menjadi satu-satunya wilayah yang tidak dikuasai oleh penjajah. " Masjid ini sangat cocok untuk berkumpulnya warga pribumi. Bahkan guru silat Pitung H Naipin pernah belajar silat di sini," tambah Khoirul.

Masjid itu kemudian diperluas lagi pada tahun 1932. Kala itu perluasan ke arah utara seluas 508 meter persegi. Pada tahun 1953, diperluas ke arah belakang hingga 525 meter persegi. Kini luas total masjid ini sebesar 2.175 meter persegi.

Sejumlah pemimpin negeri ini tercatat pernah mengunjungi Masji Al Makmur. Mulai Presiden Soekarno, M Natsir, Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, Tokoh Nahdlatul Ulama Wahid Hasyim, dan pemimpin lainnya.

Kini, lingkungan masjid ini telah berkembang pesat. Menjadi pusat tekstil terbesar di Asia tenggara. Namun, Masjid Al Makmur tetap kokoh berdiri, tak tergilas oleh roda-roda ekonomi Pasar Tanah Abang yang bergerak super cepat. Masjid itu seolah menjadi oase di tengah pusat perbelanjaan itu.

Laporan: Bimo Putranto Prihandono

Baca Juga: Cerita Perut Rasulullah Berbunyi saat Salat Jika Dibaca Sampai Pagi, Niscaya Bisa Melihat Malaikat Kisah Bilal dan Azan Terakhirnya Surat-surat Peninggalan Nabi Muhammad Kisah Percobaan Pembunuhan Rasulullah Kisah Nenek Pembenci Rasulullah Kebaikan Hati Muslim Norwegia ke Tokoh Anti-Islam Jakarta, Masuk Daftar Kota Berbahaya Buat Pelancong Wanita

Beri Komentar