Cerita Makam Islam di Jantung Majapahit

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 5 Juni 2014 10:30
Cerita Makam Islam di Jantung Majapahit
Salah satu makam diyakini sebagai pusara Syekh Jumadil Qubro. Ulama Samarkand, Uzbekistan, yang diyakini sebagai keturunan ke-10 dari al-Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.

Dream - Jika Anda berwisata ke Mojokerto, singgahlah ke kompleks Troloyo. Tempat ini merupakan area pemakaman Islam kuno, pekuburan di zaman Kerajaan Majapahit. Kompleks makam yang sudah lama menjadi salah satu tujuan wisata religi di Jawa Timur.

Troloyo terletak di Dukuh Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Kurang lebih dua kilo meter ke arah selatan perempatan Trowulan. Pada hari-hari tertentu, misal Jumat Legi, banyak orang berziarah ke sini. Banyak cara untuk menuju tempat itu.

Di Troloyo ada beberapa kompleks makam. Namun yang banyak dikunjungi peziarah adalah makam utama. Kumpulan makam yang berada di sebuah bangunan yang menyerupai pendopo yang ditopang dengan beberapa pilar besar.

Salah satunya diyakini sebagai pusara Syekh Jumadil Qubro. Ulama Samarkand, Uzbekistan, yang diyakini sebagai keturunan ke-10 dari al-Husain, cucu Nabi Muhammad SAW. Namun, selain di Troloyo, makam yang diyakini menjadi pusara Syekh Jumadil Qubro juga berada di Semarang, Yogyakarta, dan Makassar.

Dari penelitian yang dilakukan, di pemakaman itu memang hanya diketahui satu nama, yaitu Zainudin. Dan nisan dengan nama itu pun sekarang sudah tidak lagi diketahui rimbanya. Sedangkan nama-nama tokoh yang disebutkan di makam ini berasal dari kepercayaan masyarakat.

 Cerita Makam Islam di Jantung Majapahit© Dream

Makam Syekh Jumadil Qubro. Sumber: Youtube

Di kompleks itu, makam yang diyakini milik Syekh Jumadil Qubro tampak berbeda. Makam ulama yang diyakini menurunkan darah kepada para wali penyebar agama Islam di Jawa itu dibuatkan semacam bangunan khusus dan ditutupi kelambu putih transparan. Sementara, sejumlah makam lain berjejer di pendopo tersebut

Di bagian lain, ada pula kubur pitu. Yaitu tujuh makam yang memiliki ciri-ciri Islam, di antaranya tulisan Arab. Berdasar penelitian para sejarawan, makam-makam mulai ada sejak pertengahan tahun 1300-an hingga pertengahan 1400-an.

Dulunya, kawasan Troloyo itu merupakan tempat singgah bagi saudagar muslim yang datang ke Majapahit. Tak sekedar singgah, mereka juga menyebarkan agama kepada penduduk lokal. Kompleks makam ini menjadi bukti hadirnya komunitas Islam di Majapahit. Islam sudah dianut oleh sebagian kecil orang Majapahit.

Selain itu, banyak pula orang-orang Islam dari China yang berada di Ibukota Majapahit itu. Keberadaan mereka juga ditulis di dalam catatan utusan China, Ma Huan, dalam buku Ying Yai - Sing Lan, yang ditulis pada tahun 1416 M. (Dari berbagai sumber)

Beri Komentar