Pengungsi Rohingya, Dihalau Militer Berjuang di Laut Lepas

Reporter : Syahid Latif
Rabu, 20 Mei 2015 15:40
Pengungsi Rohingya, Dihalau Militer Berjuang di Laut Lepas
Banyak negara menghalau para pengungsi ketika masuk lepas pantai.

Dream - Pengungsi Rohingya hampir menghidupkan seluruh hidupnya penuh dengan perjuangan. Ditolak negara-negara yang disinggahi, bertaruh nyawa di tengah laut harus dilewati.

Presiden ACT Ahyudin dalam jumpa pers pembentukan Komite Nasional Solidaritas Rohingya (KNSR), Selasa, 19 Mei 2015, di Jakarta seperti dikutip Dream, Rabu, 20 Mei 2015 mengatakan ribuan warga Rohingya selama ini menggantungkan keselamatannya pada uluran tangan orang lain.

“ Sayangnya, terganjal batas territorial dan diplomatik,” ujar Ahyudin.

Diakui Ahyudin, pengungsi Rohingya selama ini memang banyak menerima bantuan pangan, pakaian, layanan medis serta naungan hidup dari berbagai negara. Namun bantuan ini hanya diberikan sesaat.

" Setelah itu, negara ini menyerahkan kembali kelanjutan hidup para pencari suaka ini ke lautan luas," ucapnya.

Ironisnya, militer di beberapa negara ASEAN pun melaksanakan operasi untuk menghalau kedatangan para pengungsi Rohingya ke bibir pantai.

“ Sehingga mereka tidak akan bisa sampai ke pantai, karena sudah dihalau lebih dulu,” katanya sedih.

Ahyudin mengaku terenyuh dengan inisiatif masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam yang tidak terduga. Para nelayan kota Serambi Mekah ini menjemput saudara sesama muslim yang teraniaya di Myanmar itu menggunakan kapal pribadi. Alhasil, 800 muslim Rohingya sudah diselamatkan oleh nelayan Aceh.

“ Tapi cara merespon kasus ini tidak bisa dilakukan secara sporadis, melainkan butuh pendekatan organisasi,” kata Ahyudin.

ACt berharap Indonesia sebagai negara pemeluk Islam terbesar dunia bisa lebih aktif dalam menangani kasus ini. Bantuan ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia menunjukan martabatnya di hadapan dunia.

“ Sikap ini bukan semata menyelamatkan orang muslim, tapi upaya menyelamatkan dunia, kasus Rohingya adalah soal kemanusiaan,” Ahyudin menekankan.

Kasus kekerasan terhadap warga etnis Rohingya oleh rezim Militer Myanmar telah berlangsung cukup lama. Secara historis, etnis Rohingya sudah hidup di tanah Myanmar sejak abad kedelapan masehi. Namun, keberadaannya tidak pernah diakui secara legal baik secara budaya maupun secara hukum.

Sebagaimana termaktub dalam Burma Citizenship Law yang terbit pada 1982, warga etnis Rohingya dinyatakan sebagai non-national atau bukan warga negara.

(Ism, Laporan: Kurnia Yunita)

Baca Juga: Kisah Dramatis Nelayan Aceh Selamatkan Pengungsi Rohingya Hijaber Malaysia Bantu Pengungsi Rohingya di Aceh Derita Rohingya, Ditolak Malaysia Diselamatkan Nelayan Aceh Derita Pengungsi Rohingya Filipina Hanya Mau Tampung Pengungsi Rohingya Berdokumen Resmi

 

Beri Komentar