Perjalanan Haru Gadis Polandia Peluk Islam

Reporter : Sandy Mahaputra
Kamis, 28 Agustus 2014 06:30
Perjalanan Haru Gadis Polandia Peluk Islam
Saat itu dia bertemu muslim dari Libanon. Meskipun mereka tidak religius atau mengajari Ayesha tentang Islam.

Dream - Ayesha Islam merupakan muslimah asli Polandia tapi dibesarkan di Denmark dan Swedia. Perjalanan Ayesha menuju Islam dimulai pada 1995 di Swedia.

Saat itu dia bertemu muslim dari Libanon. Meskipun mereka tidak religius atau mengajari Ayesha tentang Islam, namun sikap mereka memiliki efek pada Ayesha. Dia jadi selalu ingin berada di sekitar muslim.

Pada usia 18, Ayesha punya keinginan kuat untuk menjadi seorang psikolog. Dan dorongan ini membawanya ke Amerika Serikat untuk ketiga kalinya pada 2001. Di sana dia belajar kesehatan mental dan psikologi kriminal. Sampai suatu hari, dia bertemu seorang pria tua dengan janggut dan gaun putih panjang di tengah-tengah Manhattan, AS.

Pria itu ternyata seorang imam di sebuah masjid di New Jersey. Ayesha menjelaskan, dirinya memang tertarik dengan Islam dan ingin mengetahuinya sebagai perbandingan. Kemudian mereka terlibat dalam sebuah diskusi tentang agama. Setelah beberapa lama berbincang, Ayesha mulai tertarik dengan konsep Islam yang dijelaskan.

Ayesha terkesan dengan kata-kata imam itu saat memberi makan burung. Dikatakan pria itu, burung-burung ini tidak tahu bahwa hari ini di tempat ini mereka diberi makan seperti yang sudah ditulis dan direncanakan oleh Tuhan. Tuhan yang sama yang memberi makan pada manusia. Tidak satupun hari yang terlewatkan oleh burung yang pergi mencari makan pada pagi hari, dan pulang dalam keadaan kenyang pada sore hari.

Dari pertemuan dengan imam itu, Ayesha mulai mempelajari Islam. Dia mendapat salinan Alquran dari temannya asal Yaman. Dia juga mulai membeli buku-buku Islam dan memakai kerudung di kepalanya. Seorang teman muslim asal Maroko memberinya video 'The Message' yang juga memberi pengaruh pada perjalanan Ayesha.

Tak hanya itu, dia juga belajar puasa dengan harapan bisa menjadi orang yang disiplin dan mendapat ketenangan pikiran. Ayesha belum tahu bagaimana menjadi seorang muslim secara 'resmi'.

Namun tak lama, seorang teman lain dari Maroko menjelaskan tentang cara masuk Islam. Ayesha menjadi sedikit takut sebelum masuk Islam. Ayesha masih ingat kata teman muslimnya. Kapanpun dia siap memeluk Islam, dia harus memberitahu temannya itu dan pergi ke sebuah masjid.

Setelah merasa siap menjadi muslim, Ayesha menghubungi temannya itu dan mereka pergi ke masjid. Tepat pada ulang tahunnya yang ke-30, Ayesha menerima Islam dan menjadi seorang muslim.

Namun keputusan Ayesha menjadi ironi. Ayesha melihat bagaimana teman-teman dan keluarganya sangat ingin mendengarkan kegagalan dia dalam hidup dan masalah cinta. Setiap Ayesha berbicara tentang sesuatu yang masuk akal seperti psikologi dan khususnya Islam, mereka menyingkir dan menolak untuk mendengarkan. Namun Ayesha mengatakan dalam hatinya bahwa hidup harus berjalan terus.

Hidup Ayesha telah berubah dalam arti bahwa dia melihatnya sebagai ujian daripada permainan. Jadi Ayesha kini lebih serius dalam menata kehidupannya. Menyaksikan keesaan Allah dan Muhammad sebagai nabi terakhir telah menyapu semua kebohongan yang telah dibangun dalam pikirannya.

Sekarang Ayesha dapat melihat kehidupan jauh lebih jelas, memahami sifat manusia dengan lebih baik, dan menerima diri sebagai manusia dengan ketidaksempurnaan. Islam Juga mengajar Ayesha tentang tanggung jawab seorang muslim atas tindakannya dan dengan itu berhenti menyalahkan orang lain atau diri sendiri. (Ism, Sumber: On Islam)

Beri Komentar