Pulau Onrust (http://hanifahbackpacker.blogspot.com/)
Dream - Reruntuhan tembok itu terlihat tua. Sudah berlumut dan menghitam di beberapa sudutnya. Seolah tak terurus. Sejumlah tumbuhan bahkan menempel subur, bak perdu di belantara. Di sudut lain, tonggak-tonggak beton bekas pondasi berjajar rapi.
Puing-puing itu merupakan bekas barak haji di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, Jakarta. Seabad silam, pulau ini digunakan untuk karantina jamaah haji nusantara. Baik yang berangkat maupun yang tiba dari Tanah Suci. Pulau inilah saksi bisu susahnya berhaji saat masa kolonial.
Berhaji tempo dulu memang tak semudah zaman sekarang. Tak ada pesawat. Semua jamaah harus lewat laut. Belum lagi, aturan ketat penjajah yang mempersulit umat Islam untuk berhaji. Kala itu, Belanda takut jamaah haji pulang ke Tanah Air dengan membawa ide perlawanan.
Oleh sebab itu, Belanda memonopoli pemberangkatan haji. Kapal-kapal Inggris yang mengantar jamaah haji Tanah Air di-stop. Hanya kapal-kapal api Belanda yang boleh membawa jamaah haji sampai ke Arab.
Untuk mempermudah pengawasan, Belanda membangun penampungan. Dan mulai 1911, pulau Onrust dipilih menjadi embarkasi jamaah haji nusantara. Dulu ada tigapuluh lima barak. Masing-masing mampu menampung seratus jamaah. Para jamaah haji harus tinggal di Pulau Onrust selama lima hari.

Barak haji Pulau Onrust, Sumber: Wikipedia
Tak hanya saat berangkat. Para jamaah yang tiba dari Tanah Suci juga dikarantina di pulau ini. Belanda juga takut jamaah haji dari Mekah membawa penyakit menular. Saat tiba, Belanda menyemprot kapal dan barang-barang jamaah haji dengan cairan pembunuh kuman. Para jamaah wajib mandi dan berganti pakaian karantina. Mereka kemudian diperiksa di Pulau Cipir yang terletak di dekat Onrust.
Jamaah yang sehat boleh melaju ke Pulau Onrust melalui jembatan apung. Sementara yang berpenyakit tetap ditahan di Pulau Cipir. Kini, bangunan pusat kesehatan di Pulau Cipir tinggal puing-puing. Sementara jembatan penghubung dengan Pulau Onrust sudah sirna.
Pulau Onrust menjadi tempat transit jamaah haji selama duapuluh dua tahun. Setelah itu, Pulau Onrust tak lagi jadi embarkasi haji. Pulau ini berubah fungsi menjadi tempat buangan dan penjara bagi pelaku kriminal.
Kini, pulau yang masuk wilayah Jakarta Utara itu menjadi tujuan wisata. Di pulau yang luasnya tak sampai delapan hektare itu, masih bisa ditemui reruntuhan asrama haji. Hanya satu bangunan yang masih utuh. Dulunya bangunan yang masih berdiri itu menjadi rumah dokter. Saat ini difungsikan sebagai museum.
Di pulau itu, juga banyak ditemukan peninggalan Belanda. Hampir empat abad silam, pulau ini menjadi tempat galangan kapal Belanda. Belanda mendirikan benteng-benteng di pulau yang namanya berarti ‘tak pernah tidur’ ini. Kini, bekas-bekas benteng itu juga masih bisa dilihat. (Dari berbagai sumber, Ism)