Xinjiang, 'Kampung' Muslim China yang Kaya Raya

Reporter : Eko Huda S
Selasa, 29 April 2014 17:45
Xinjiang, 'Kampung' Muslim China yang Kaya Raya
Tanah Xianjing ini kaya raya. Di balik gurun gersang itu, terkandung minyak, gas alam, dan batu bara.

Dream - Xinjiang. Inilah kampung para muslim di China. Hampir separuh penduduknya merupakan Suku Uighur dari Turki. Ditambah lagi Kazakh dan Hui. Mereka penganut Islam yang taat dan dikenal saleh.

Daerah otonomi China ini terletak di wilayah barat laut. Berbatasan langsung dengan delapan negara tetangga sekaligus. Mulai Rusia hingga India. Wilayahnya luas. Hampir seperenam wilayah China. Atau kira-kira seluas Iran.

Namun, tanah seluas 1,6 juta meter persegi itu tak semuanya bisa dihuni manusia. Hanya sekitar seperempat wilayah saja yang bisa didiami manusia. Sisanya, gurun gersang. Gurun Taklamakan.

Tapi jangan salah. Tanah Xianjing ini kaya raya. Di balik gurun gersang itu, terkandung minyak, gas alam, dan batu bara. Cadangan minyak diperkirakan antara 20-40 miliar ton, atau sekitar 20 persen cadangan minyak China. Gas alam sedikitnya 12,4 triliun kaki kubik.

Menurut data yang dilansir pemerintah China, pada 2008 Xinjiang memproduksi 27,4 juta ton minyak mentah atau melebihi produksi ladang-ladang di Shandong. Terbesar ke dua. Sampai-sampai China membangun pipa sepanjang 2.600 mil atau sekitar 4.000 kilometer, yang mengalirkan migas ke sebagian besar kota seperti Shanghai hingga ke Beijing dari wilayah ini.

Xinjiang punya sejarah panjang. Dari dulu wilayah ini sungguh menarik untuk dikuasai. Sejak millenium ke dua sebelum masehi Xinjiang jadi rebutan banyak kekaisaran, Han di China, Turki, dan Mongol.

Dulu, daerah ini sangat penting. Menjadi urat nadi Jalur Sutera. Jalur perdagangan penting dalam sejarah yang menghubungkan daerah timur China hingga Eropa. Inilah pintu gerbang Jalur Sutera bagi China.

Semasa Dinasti Han, sekitar 60 sebelum masehi, daerah ini bernama Xiyu atau Qurighar yang berarti “ wilayah barat”. Wilayah itu kemudian dikenal dengan sebutan Hujiang yang berarti “ batas muslim” semasa Dinasti Qing.

Akhirnya diubah menjadi Xinjiang saat Manchu memimpin Dinasti Qing, sekitar 1759. Xinjiang, yang berarti “ perbatasan baru”. Daerah ini resmi masuk ke wilayah China sejak 1949. Menjadi daerah otonomi.

Selama Dinasti Song, (960 - 1279), China mengalami pertumbuhan ekonomi spektakuler. Melalui Jalur Sutera, para saudagar muslim menjadi penggerak roda ekonomi. Saat itulah kaum muslim mulai mengatur urusannya sendiri berdasar hukum Islam. Mereka mulai mengatur lingkungan, menunjuk qadi alias hakim, serta membangun masjid.

Islam tumbuh pesat di Xinjiang. Pemerintah China pun ketar-ketir. Pada pertengahan 1980-an, China mengirim Suku Han ke Xinjiang secara besar-besaran untuk mengimbangi populasi penduduk pemeluk Islam. Hingga kini, Suku Han di Xinjiang jumlahnya sekitar 41 persen. Dua persen lebih sedikit dari Suku Uighur.

Belakangan ini, kabar pergolakan di Xinjiang lebih kerap kali terdengar. Meski hidup dalam tekanan, muslim Uighur masih mempertahankan keyakinan mereka. Mereka tetap memakai kopiah. Serta pergi ke masjid-masjid. Muslim Uighur merasa, inilah kampung mereka.

Beri Komentar