Polisi (3): Bripda Taufiq, Polisi yang Tinggal di Kandang Sapi

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 19 Januari 2015 19:28
Polisi (3): Bripda Taufiq, Polisi yang Tinggal di Kandang Sapi
Berjalan kaki 7 kilometer ke markas polisi karena tak punya ongkos. Masuk polisi tanpa menyuap. Simpati dan bantuan publik pun mengalir.

Dream – Pagi baru saja merekah. Kumandang azan subuh baru saja mengangkasa setengah jam lalu. Di sebuah gubuk, seorang pemuda berbadan tegap sudah bersiap dengan seragam cokelat kebanggaannya.

Usai salat subuh, diam-diam dia menyelinap keluar dari rumahnya yang sempit itu kala hari masih remang-remang tanah. Lalu mulai berlari menuju tempatnya bekerja.

Pandangan masih samar saat menyusuri jalan raya yang masih sepi dan gelap. Perut yang masih kosong dan udara dingin pagi yang menusuk tidak lagi dipedulikannya. Di sepanjang jalan, dia hanya berpapasan dengan satu dua kendaraan.

Baru seperempat perjalanan, keringat sudah mengucur deras di wajah dan seragam Muhammad Taufiq Hidayat. Pemuda 20 tahun itu pun memperlambat larinya sejenak.

Setelah energi terkumpul kembali, ia menarik nafas panjang, lalu berlari lagi. Tak terasa hampir satu jam lebih lebih dia berlari dan berjalan. Setelah menghabiskan jarak sejauh 7 Kilometer, Taufiq akhirnya tiba di Markas Kepolisian Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Condongcatur, Sleman. Di situlah tempat ia bekerja.

Tapi hari itu Taufiq kurang beruntung. Meski sudah berangkat pagi-pagi buta, ternyata ia masih telat juga. Saat sampai di Polda, teman-temannya sudah kelar melaksanakan apel pagi yang dimulai pukul 06.30 WIB.

" Dari mana kamu? Jam segitu baru datang!" tanya atasannya dengan nada tinggi.

" Siap salah komandan. Saya tidak punya kendaraan, jadi harus lari dari rumah saya di Jongke ke sini," jawab Taufiq tegas sambil menahan letih. Pakaiannya masih basah karena keringat.

Sang atasan tak percaya begitu saja. Paling alasan itu cuma akal-akalan saja. Taufiq pun tetap dihukum. Tapi belakangan, atasannya kaget bukan kepalang

dengan kejujuran anak buahnya itu.  Seperti apa?....

1 dari 2 halaman

2 Tahun Tinggal di Bekas Kandang Sapi

Sambil berlalu usai memberikan hukuman, Direktur Sabhara Polda DIY, Kombes Yulza Sulaiman rupanya menyimpan rasa penasaran dengan alasan anak buahnya. " Masa iya jalan kaki dan lari ke sini? Memang tidak ada uang sama sekali?" tanya dia dalam hati.

Nalurinya sebagai polisi tak begitu saja percaya. Akhirnya Kombes Yulza dan anggota polisi lainnya diam-diam membuntuti Taufiq pulang ke rumah. Dari situlah terungkap, begitu mirisnya kehidupan Taufiq, polisi baru berpangkat Bripda di kesatuan Sabhara Polda DIY.

Si atasan terenyuh, begitu melihat rumah Taufiq di Jongke Tengah, Sendangadi, Mlati, Sleman. Rumah itu dulunya bekas kandang sapi. Bangunan itu jauh dari layak. Tidak memiliki daun pintu, hanya gorden kumal yang menutupnya. 

Dindingnya pun tak lagi utuh. Sebagian saja yang dibatako. Sisanya lagi bolong. Sebuah spanduk bekas pun dibentangkan menggantikan tembok. Di atas lantai tanah, ada dua buah ranjang dengan kasur lusuh dan sebuah lemari kayu besar yang sudah keropos.

Rumah itu dibangun oleh ayah Taufiq setelah bercerai dengan ibunya dua tahun lalu. Meski hanya bekas kandang sapi, mereka tetap harus membayar sewa tanah.

Sudah dua tahun ini, Taufiq tinggal di rumah itu bersama ayahnya dan tiga orang adiknya. Bagi pria kelahiran 20 Maret 1995, bau busuk kotoran sapi yang menyengat dari kandang sapi di dekat gubuk mereka, sudah tidak lagi terasa.

Saat malam tiba, Taufiq tidur bersama dengan tiga adiknya di dalam rumah. Sedangkan ayahnya,  Triyanto. 50 tahun, tidur di bak mobil tua yang biasa dipakai untuk menambang pasir. " Karena tidak ada tempat, jadi bapak tidur di bak mobil. Kadang juga di pos ronda," kata dia.

2 dari 2 halaman

Masuk Polisi Tanpa Menyuap

Meski dihimpit kemiskinan, Taufik menolak menyerah. Ia justru terlecut membantu keluarganya hidup lebih layak.

Sewaktu di bangku Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN), ia termasuk siswa yang aktif di organisasi. Salah satunya Pramuka. Dari situ pula ia termotivasi menjadi seorang polisi.

Taufiq juga pernah bekerja sebagai staf perpustakaan sekolahnya, di SMKN 1 Sayegan. Ia tidak digaji, tapi hanya menerima honor ala kadarnya. Dia juga ikut menambang pasir dan membantu pembina Pramuka.

" Jaga perpustakaan itu Rp 500 ribu per bulan, ditambah membantu pembina Pramuka jadinya sekitar Rp 700 ribuan. Lumayan bisa bantu bapak," kata dia.

Setelah lulus sekolah, pada 2014 ia mencoba mendaftar menjadi anggota Polri. Sebelum tes, dia mengaku melakukan puasa Senin-Kamis. Dia juga meminta restu dari ayahnya saat hendak mendaftar.

Usahanya tak sia-sia. Saat pengumuman hasil tes, ia terkaget-kaget ketika diterima. Dia merasa seperti mimpi bisa menjadi seorang polisi. Taufiq lulus menjadi polisi tanpa keluar uang sepeser pun. Karena, jangankan membayar suap, untuk hidup sehari-hari pun dia dan keluarga kesusahan.

" Pas pengumuman, saya minta bapak nampar saya. Ternyata bukan mimpi. Bahkan waktu sampai SPN (Sekolah Polisi Negara) saya masih tak percaya," ujar Taufik mengingat momen mengharukan itu.

Waktu pendaftaran ikut seleksi ia sudah berjalan kaki dari rumah ke lokasi tes. Tapi kemudian ada tawaran boncengan dari temen yang ikut seleksi. " Sempat dipinjami motor dari bengkel. Setelah selesai seleksi motor itu saya kembalikan."

Kini, Bripda Taufiq memilih tidur di Polda, meski ia sudah dipinjami sepeda motor oleh atasannya. Alasannya bukan karena takut terlambat, tapi merasa kasihan melihat ayahnya yang tidur di bak mobil, beratapkan langit.

Dengan hati begitu mulia, ia ingin memberikan gaji pertamanya nanti untuk sang ayah. " Insya Allah kalau cukup, gaji pertama saya buat cari kontrakan, biar bapak tidak perlu lagi tidur di luar, biar adik-adik juga nggak kedinginan kalau hujan," ujarnya.

Kabar terakhir, Pemerintah Kabupaten Sleman memberikan bantuan sebuah kamar di Rumah Susun Sewa selama setahun secara gratis untuk keluarga Taufiq. Bahkan, orang nomor satu di DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) juga berencana memberikan sepeda motor untuk Bripda Taufiq.

Apa yang dilakukan Bripda Taufiq menjadi pelajaran buat kita semua bahwa kekurangan semestinya tidak pernah menjadi halangan dalam meraih cita-cita. Sejak masuk polisi tanpa menyuap. Berjalan kaki 7 kilometer setiap hari karena tak punya ongkos. Tinggal di bekas kandang sapi. Namun kesulitan hidup itu tak membuatnya mengeluh. 

Bripka Taufiq adalah polisi pemula. Jalan panjang dan ujian-ujian terhadap kejujuran dan komitmennya sebagai polisi masih terbentang di hadapannya. Tapi kemiskinan dan keprihatinannya tinggal di kandang sapi semoga tak membuatnya lupa diri. Bahwa yang terpenting bagi polisi adalah kejujuran. Tidak lebih… (eh)

Baca juga:

Kisah Para Polisi Jujur Jenderal Polisi Jujur Itu Bernama Hoegeng Aiptu Jailani, Polisi Langka Penilang Istri Sendiri

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup