Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi. (Source: Shutterstock)
Dream - Sahabat Dream selama ini mungkin banyak yang mengira semua orang memiliki tulang berwarna putih. Walau tidak pernah melihatnya secara langsung, keyakinan itu datang lewat ucapan orang tua, pelajaran guru, maupun pepatah yang menyebut tulang berwarna putih.
Kenyataan, warna tulang tidak selalu putih seperti yang diyakini selama ini. Warna tulang bisa dipengaruhi oleh asupan yang dikonsumsi sehari-hari, terutama obat-obatan tertentu. Hal itu diungkapkan Dokter Kulit, Arthur Simon melalui unggahan Instagram.
" Misalnya... Konsumsi antibiotik minosiklin untuk pengobatan jerawat bisa mengubah warna tulang kita menjadi.... HITAM. Ada juga antibiotik tetrasiklin, ternyata bisa mengubah warna tulang kita menjadi... HIJAU KEKUNINGAN," tulisnya.
Keduanya cukup sering diresepkan untuk dikonsumsi rutin karena digunakan sebagai obat jerawat. Menurut Arthur, warna tulang bisa menentukan seberapa sering seseorang mengonsumsi antibiotik.

Foto: Shutterstock
Sementara warna asli tulang memang bukanlah putih, melainkan pink yang disebabkan oleh banyaknya pembuluh darah di sekitarnya.
Lihat postingan ini di Instagram
Dream - Merawat tulang merupakan hal yang penting untuk menjaga kesehatan keseluruhan tubuh. Seiring bertambahnya usia, kepadatan atau massa tulang semakin menurun. Banyak yang beranggapan menjaga kesehatan tulang hanya untuk kaum lansia.
Hal tersebut tidak tepat, justru Sahabat Dream yang masih berusia 20-an harus menjaga kesehatan tulang. Hal ini untuk mengurangi risiko osteoporosis. Osteoporosis adalah kondisi muskuloskeletal (tulang, sendi, dan otot) kronis yang ditandai dengan penurunan kepadatan, kualitas, dan kekuatan tulang yang meningkatkan risiko patah
tulang.
Kondisi ini kadang-kadang disebut sebagai silent killer karena seringkali tidak ada gejala yang terlihat sampai tulang melemah menyebabkan patah tulang. Dokter Ari Setyaningrum, SpKO, Ketua Tim Kerja Kesehatan Olahraga, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mengungkap bahwa osteoporosis merupakan silent disease yang menjadi penyebab kematian tertinggi.
" Kami harap masyarakat semakin peduli atas kesehatan tulang, mari bersama terapkan gaya hidup sehat," ujarnya dalam acara Konferensi Pers 20 Tahun Anlene Lawan Osteoporosis, Kamis 20 Oktober 2022.
Menjalani pola hidup sehat dan aktif adalah hal yang bisa dilakukan untuk mencegah osteoporosis. Pada kesempatan yang sama, dr. Ari menyampaikan 5 hal yang bisa dilakukan untuk mencegah osteoporosis sejak dini, yaitu sebagai berikut:
Meningkatkan Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik dilakukan setidaknya 30 menit per hari sebanyak 3 kali seminggu. Aktivitas dapat meliputi aerobik, kelenturan, dan keseimbangan.
Konsumsi Makanan Bergizi
Mengonsumsi makanan bergizi yang bermanfaat untuk tulang. Dari kalsium, mineral, zinc, mineral, dan magnesium.
Paparan Sinar Matahari
Setiap orang disarankan untuk mendapatkan paparan matahari yang cukup guna membantu mendapatkan vitamin D yang bermanfaat untuk tulang. Jangan malas berjemur pagi hari ya!
Waspadai Faktor Risiko Individu
Faktor risiko seperti riwayat keturunan, penyakit lain, penggunaan obat-obatan jangka panjang, menopause dini, dan penurunan tinggi badan yang signifikan juga berpengaruh.
Kunci dari kesehatan tulang, sendi, dan otot adalah tetap bergerak aktif dan pemeriksaan kesehatan rutin. " Pada dasarnya, osteoporosis biasanya menunjukkan gejala seperti sakit punggung yang parah, kehilangan tinggi badan, atau membungkuknya tulang belakang. Oleh karena itu, pemeriksaan kepadatan tulang, sendi, dan otot penting untuk dilakukan," kata dr. Lily Indriani Octovia, MT, M.Gizi, SpGK(K), Sekretaris Jenderal Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi) dalam acara yang sama.

Dalam rangka bulan kesadaran Osteoporosis yang jatuh pada bulan Oktober 2022, sekaligus merayakan kontribusi selama 2 dekade (20 tahun), Anlene menggelar acara edukasi publik dan pemeriksaan kesehatan massal pada kepadatan tulang, sendi dan otot, di sejumlah titik strategis. Kegiatan ini digelar gratis di Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya mulai dari bulan Agustus hingga Desember 2022.
Laporan: Meisya Harsa Dwipuspita
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya