Tokoh Time (2): Cerita Jokowi, dari Tukang Kayu ke Istana

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 4 Mei 2015 20:35
Tokoh Time (2): Cerita Jokowi, dari Tukang Kayu ke Istana
Wajah Indonesia tiba-tiba muncul di daftar 100 tokoh paling berpengaruh dunia 2015 versi majalah Time. Dia adalah Presiden Jokowi, satu dari tiga pemimpin muslim paling berpengaruh di planet bumi.

Dream - Gema takbir terus bersahutan tiada putus mengurung kota Solo, Jawa Tengah. Mengalun merdu penuh kegembiraan. Hari kemenangan, Idul Fitri yang jatuh esok harinya, disambut warga dengan beramai-ramai keliling kampung dan jalanan mengumandangkan asma Allah.

Siapa sangka, kemeriahan malam takbiran itu dalam sekejap berubah. Dentuman keras memekakkan telinga terdengar dari depan pos pengamanan polisi tak jauh dari Tugu Gladak, Jalan Jenderal Sudirman, Solo.

" Dhuarrr...!!!" ledakan keras terdengar tepat 28 menit menjelang tengah malam. Situasi berubah kacau, gaduh. Ada delapan polisi dan warga di sekitar ledakan langsung lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Beruntung tidak ada korban jiwa. Meski pos polisi itu hancur luluh lantak.

Bom mengusik kedamaian kota Bengawan. Warga dirubung resah.

Malam itu juga, Sabtu 19 Agustus 2011, polisi menggelar olah TKP. Warga merubung menonton dari jauh berbatas garis polisi.

Sesosok pria kurus berkemeja putih dan celana panjang hitam turun dari motor dan mendekat ke lokasi. Petugas menghampirinya dan meminta dia menjauh dari lokasi. Di tengah cahaya remang, polisi itu terkejut. Pria yang baru saja turun dari motor itu ternyata orang nomor satu di kota Solo.

Benar saja, sang walikota Joko Widodo (Jokowi) datang tanpa pengawalan seorangpun.

Kapolresta Solo, Komisari Besar Polisi Asjima’in langsung mendekat. Dia melaporkan sejumlah temuan di lokasi kepada sang walikota. Jokowi terlihat menundukkan pandangan dan merenung beberapa menit.

Jokowi sadar ada kelompok yang belum teridentifikasi yang ingin membuat keresahan. Namun ia meminta warga tetap tenang dan merayakan Lebaran dengan menjalankan salat Idul Fitri seperti biasa.

Satu hari sebelum ledakan itu, ada aksi penembakan di Pos Pengamanan Lebaran di Gemblegan, Serengan, Solo. Dua polisi cidera.

" Hari ini, masyarakat harus tetap menjalankan salat Idul Fitri. Tidak perlu takut. Saya dan polisi akan terus melakukan pengamanan," tegas Jokowi.

'Jaminan' dari sang walikota membuat warga Solo sedikit lega. Apalagi sang walikota selalu hadir di masyarakat dalam kondisi apapun. Senang maupun susah.

Itu hanya sepenggal dari kehidupan Joko Widodo yang bermula dari tukang kayu hingga kini mengisi Istana Negara sebagai Presiden RI ke-7.  

Semua bermula dari....

1 dari 3 halaman

Lahir dari 'Rahim' Rakyat

Jokowi merupakan presiden pertama Indonesia yang seluruh karir politiknya dibesarkan dalam jaman reformasi. Dibesarkan dalam kultur demokrasi.

Tangga karirnya ditentukan rakyat. Dipilih rakyat menjadi Walikota. Mendapat kepercayaan suara rakyat sebagai Gubernur. Hingga meraih kepercayaan sebagain besar rakyat Indonesia untuk menjadi Presiden. Para pendukung menyebutnya sebagai pemimpin yang lahir dari rahim rakyat.

Jokowi bukanlah keturunan ningrat. Datang dari keluarga sederhana. Bahkan bisa dibilang susah. Pria berusia 53 tahun ini lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo yang hidup pas-pasan di Surakarta, Jawa Tengah.

Menjadi sulung dari empat bersaudara, dia sudah harus ikut memikul beban " dapur keluarga" saat usianya masih sangat belia, 12 tahun. Menjadi kuli panggul untuk memenuhi keperluan sekolah. Kalau ada sisa, baru bisa jajan.

Bukan saja susah, rumah keluarga ini bahkan pernah digusur. Tiga kali pula. Tentu saja pahit. Tapi kepahitan itulah yang membentuk kepribadian sekaligus kepekaan pria pemilik nama kecil Mulyono ini.

Lulus SMA, pria yang menjadi walikota nomor tiga terbaik dunia versi The City Mayors Foundation ini melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dia lulus pada 1985. Tahun itu pula Jokowi diterima menjadi pegawai di BUMN, PT Kertas Kraft Aceh.

Setahun berselang, Jokowi menikahi Iriana. Setelah menikah, Jokowi tak kerasan di Aceh, mungkin juga rindu pada istri dengan bayi tujuh bulan di kandungannya. Dia memilih pulang kampung, hidup bersama Iriana.

Setelah keluar dari perusahaan negara itu, Jokowi ikut menjalankan bisnis furniture kerabatnya. Merasa sudah menghimpun pengetahuan dan pengalaman berdagang, Jokowi membuka usaha mebel sendiri tahun 1988.

Dan itu menjadi tahun manis bagi pasangan Jokowi dan Iriana. Selain bisnis mebel mulai menyala, pasangan ini dikaruniai anak pertama, Rakabuming. Tiga tahun kemudian, lahirlah anak ke dua, Kahiyang Ayu. Sementara anak ketiga, Kaesang Pangarep, lahir empat tahun sesudahnya.

2 dari 3 halaman

Jawaban Sindiran Klemar-klemer

Kiprah politik Jokowi bermula pada 2005. Saat itu, setelah sukses berbisnis, kader PDI Perjuangan ini dicalonkan sebagai Walikota Solo dan dipasangkan dengan F.X. Hadi Rudyatmo.

Jokowi kembali terpilih sebagai Walikota Solo untuk periode ke dua dengan memperoleh suara fantastis. Dia mampu meraup 90 persen suara pemilih.

Menjabat sebagai Walikota Solo, dia membesut banyak prestasi. Jokowi me-rebranding Solo sebagai kota budaya dan kota batik. Dia juga dikenal sebagai pemimpin yang manusiawi. Salah satunya karena berhasil merelokasi pedagang kaki lima dengan damai.

Ratusan pedagang kecil itu luluh, setelah Jokowi mengajak mereka makan siang bersama sebanyak 54 kali, selama 7 bulan. Makan siang sesering itu berlangsung di mana saja. Balai Kota, warung pinggir jalan, wedangan jahe hingga Loji Gandrung.

Cara dia memimpin dan menyelesaikan soal, membetot perhatian media massa. Sejak itulah dia masuk pentas nasional. Meski seringkali disindir sebagai pemimpin yang klemar-klemer, Jokowi sesungguhnya bisa tegas dalam perkara penting.

Pada 2011, dia berani menolak rencana Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah kala itu, yang ingin mendirikan pusat perbelanjaan di lokasi bekas pabrik es Saripetojo.

Jokowi berdalih demi melindungi pasar tradisional. Nama Jokowi semakin berkibar saat memperkenalkan Esemka, mobil rakitan siswa SMK di Surakarta.

Pada 2012, Jokowi ditunjuk PDI Perjuangan menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Dia dipasangkan dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Kedua dilantik sebagai pemimpin Ibukota setelah bertarung dua putaran.

Memimpin Jakarta, nama Jokowi semakin moncer. Elektabilitas pria berperawakan kerempeng ini tak tertandingi. PDI Perjuangan akhirnya mengumumkan Jokowi sebagai calon presiden pada 14 Maret 2014, ia disandingkan dengan politisi senior Golkar, Jusuf Kalla.

Jokowi-JK akhirnya dinyatakan menjadi pemenang Pilpres 2014 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sang lawan, Prabowo-Hatta tak menerima hasil itu.

Dia memilih menggugat hasil itu ke mahkamah. Gugatan itu ditolak. Dan si " muka ndeso" dari Solo itu melenggang ke Istana.

3 dari 3 halaman

Orang 'Biasa' Pertama

Sikap kepemimpian Jokowi sejak awal kariernya menjadi walikota Solo disorot media internasional . Majalah terkemuka, Time misalnya. Mereka sempat membuat kover dengan wajah Jokowi dengan kata-kata “ A New Hope.”

Dan yang terbaru, Presiden Jokowi masuk dalam jajaran 100 tokoh paling berpengaruh di dunia tahun 2015 versi majalah Time. Untuk kategorinya, Jokowi masuk dalam tiga pemimpin muslim paling berpengaruh di planet ini.

Duta Besar AS untuk Indonesia, Paul Wolfowitz menilai sosok Jokowi sebagai tokoh yang anti-ekstremis di Indonesia. Time menulis bahwa Jokowi merupakan " orang biasa" pertama yang mampu mencapai prestasi tersebut.

Sejak terpilih, Jokowi telah memancarkan aura youthful dan pendekatan yang dekat dengan rakyat.

Secara khusus, Wolfowitz terkesan dengan keberanian Jokowi melawan kaum ekstremis yang mengatasnamakan Agama untuk melakukan aksi intimidasi dan teror.

Komitmen Jokowi mempertahankan keberagaman budaya dan agama dinilai sangat penting. Dan itu bisa jadi contoh untuk negara Muslim berdemokrasi yang sukses.

Beri Komentar
Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'