Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kasus pernikahan sedarah di Bulukumba, Sulawesi Selatan, menyedot perhatian banyak orang. Praktik itu memang dianggap sebagai tabu oleh masyarakat.
Orang-orang umumnya tidak setuju dengan pernikahan sedarah karena bertentangan dengan ajaran agama. Selain itu, menikah dengan kakak atau adik kandung bisa berdampak pada keturunan nantinya.
Dilansir oleh Pscyhology Today pada Selasa, 2 Juli 2019, berhubungan seksual dengan saudara sedarah memiliki kemungkinan anak yang akan dilahirkan dalam kondisi cacat serius.
Sebuah penelitian mengenai dampak dari pernikahan sedarah ini pernah dilakukan di Cekoslowakia. Hasilnya, 42 persen anak dari pernikahan antara ibu dan ayah yang masih saudara kandung dilahirkan cacat, bahkan diketahui ada yang mengalami kematian dini.

Selanjutnya, 11 persen mengalami gangguan mental dan sisanya lahir dengan sehat. Berbeda dengan ibu yang menikah dan memiliki anak dari bukan kerabat, hanya 7 persen yang lahir dengan keadaan cacat.
Debra Lieberman, seorang psikolog evolusi di Universitas Hawai, seperti dikutip Live Science, mengatakan, " Kerabat dekat secara genetik memiliki risiko memiliki keturunan dengan peluang hidup yang kecil."

" Katakanlah Anda mendapat gen buruk dari ibumu dan mendapat salinan gen normal dari ayahmu. Tetapi memiliki anak dengan saudara Anda, secara drastis meningkatkan kemungkinan mendapatkan dua salinan gen buruk dibanding memproduksi dengan seseorang di luar keluarga Anda," Debra menjelaskan.
Para peneliti juga memeriksa empat studi tentang efek pernikahan dengan kerabat tingkat pertama (sepupu) pada kesehatan keturunan. Hasilnya, 40 persen anak dilahirkan dengan kelainan resesif autosom, kelainan fisik bawaan, atau defisik intelektual yang parah dan 14 persen lainnya menderita cacat mental ringan.
Singkatnya, anak dari pernikahan sedarah akan mengalami kematian dini, cacat lahir parah, atau penyakit mental dengan kemungkinan 50 persen.
Penulis: Febrianingsih Alamako/ Sumber: Liputan6.com
Dream - Penyakit menular seksual jadi hal yang sangat menakutkan. Seringkali, penderitanya tak menyadari sampai kondisinya parah atau setelah memeriksakan diri ke dokter.
Salah satu yang membuat khawatir banyak orang adalah tertular penyakit seperti sifilis, gonore, HPV, chlamydia, atau trikomoniasis, karena menggunakan toilet umum. Bisakah demikian?
Tak perlu takut saat menggunakan toilet umum bakal tertular penyakit tersebut. Meski sebelumnya toilet digunakan oleh penderita penyakit seksual. Pasalnya, kemungkinannya sangat-sangat kecil untuk tertular.


" Bakteri atau virus pemicu penyakit menular seksual biasanya tak akan bertahan saat sudah berada di luar tubuh manusia. Dudukan toilet juga bukan lingkungan yang membuat kuman bisa berkembang, dan tak bakal bisa bertahan di sana selama lebih dari 10 detik," kata Christine Greves, seorang dokter kandungan di Orlando Health Winnie Palmer, Amerika Serikat.
Virus herpes misalnya, yang akan dengan cepat mati saat berada di luar tubuh manusia. Hampir tidak mungkin untuk mendapatkan infeksi melalui kontak dengan dudukan toilet, handuk, atau benda lain yang digunakan oleh orang yang terinfeksi.

Hal yang sama berlaku untuk penyakit menular seksual lainnya, seperti siifilis, HPV, HIV, dan kutu kemaluan.
Jika kamu bertanya-tanya, perlukah selalu melapisi dudukan di toilet umum dengan kertas atau menggunakan cairan disinfektan? Jawabannya, sangat tergantung kenyamanan.
" Ini mungkin tidak melindungi kita dari infeksi, tetapi itu bisa melindungi kita dari khawatir tentang kuman apa yang mungkin kita duduki," kata Greeves.
Satu hal yang harus dilakukan, setiap kali kamar mandi, cuci tangan dengan sabun. Pastikan kondisi tangan bersih setelah buang air.
(ism, Sumber: Health.com)