Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Koleksi Wignyo Rahadi/Indonesian Fashion Chamber
Dream – Indonesian Fashion Chamber (IFC) Jakarta Chapter sukses menggelar Jakarta Fashion Trend (JFT) 2022 pada Rabu, 9 Februari 2022 lalu dengan tema FashionArt.
Dihelat di Soehana Hall, The Energy Building, Jakarta, acara yang berlangsung pukul 11.00-20.00 WIB ini diramaikan dengan koleksi dari puluhan fashion desainer Indonesia. Salah satunya adalah Wignyo Rahadi.

Membawa unsur batik ke dalam helatan sebagai fashion kultural merupakan suatu karya seni yang memiliki nilai filosofi dan histori tinggi.
Mengangkat wastra batik Banyuwangi yang merupakan representasi dari perpaduan fashion dan art, Wignyo berhasil didukung Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Jember demi pengembangan ekonomi syariah nasional melalui produk fashihon halal di Banyuwangi serta dukungan gerakan nasional Bangga Pakai Produk Lokal.
Memilih Banyuwangi sebagai latar belakang dari koleksi batik yang dibawakan, sebab batik Banyuwangi ramai dibuat masyarakat Osing yang mana merupakan suku asli Banyuwangi, Jawa Timur.
Kegiatan membatik dalam masyarakat Osing telah jadi suatu tradisi yang secara turun-temurun hingga detik ini.

Dengan mengangkat tema Osing sebagai apresiasi terhadap suku Osing, batik Banyuwangi yang diaplikasikan designer Wignyo dalam koleksi modest wear terinspirasi dari elegansi dan estetika gaya muslimah yang praktikal.

Koleksi Wignyo ini didesain dalam bentuk dress dengan permainan layer dinamis dan aksentuasi yang mempertegas siluet seperti variasi outer dan obi.
Kemudian, Wignyo juga menghasilkan paduan blus dan celana dengan siluet dan detail dari teknik konstruktif seperti modifikasi bustier dan cape.
Dipadu dengan material tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), Wignyo menegaskan bahwa unsur batik Banyuwangi tetap dipertahankan menjadi pusat atensi dari koleksi ini.
Motif batik Banyuwangi yang digunakan antara lain Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Alas Kobong, Cendrawasih, Moto Pitik, Sisik Melik, Gedekan, Kawung, dan Sekar Jagad.


Sedangkan untuk pemilihan warna, di koleksi-koleksi ini Wignyo ingin mengekspos motif batik kultural dengan warna yang mencuri perhatian, seperti merah marun, ungu, dan coklat karena dapat memperkuat elegansi dari koleksi Osing.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya