Dream - Panggung terbuka Piazza Stage di Gandaria City itu mendadak hening. Di atas panggung, 10 gadis berhijab tampak tegang. Sementara tak kurang 200 orang di sekitar panggung menunggu dengan hati berdebar, Jumat 2 Oktober lalu.
Sang pembawa acara tahu, ketegangan itu bakal pecah jika dia membacakan nama yang tertera di lembaran kertas yang dibawanya.
Sejurus kemudian sang pembawa acara berbicara dengan lantang. " Inilah muslimah yang akan berangkat umroh ke tanah suci...," pembawa acara itu kembali membuat jeda. Suasana tegang makin menyelimuti.
Pengunjung sejumlah restoran yang sedari tadi sibuk menyantap makanan seolah ikut tersihir. Angin sore itu bertiup agak kencang membawa serta debu dan dedaunan kering. Hembusannya menerobos ke bawah atap berbentuk kerucut karya Genius Loci, perusahaan arsitek yang kondang di kawasan Asia.
" Juara pertama adalah...Prisila Rosa Malinda. Selamat!" akhirnya sang pembawa acara menyudahi ketegangan yang mereka ciptakan tak kurang dari 10 menit itu.
Prisila, gadis yang disebut itu langsung pecah tangisnya, haru. Finalis lain segera menghambur ke arahnya memeluk dan memberi ciuman ucapan selamat. Tepuk tangan meriah dari barisan pengunjung ikut memarakkan suasana. Beberapa pengunjung menitikkan air mata.
Sila, begitu sang juara akrab dipanggil, bersujud syukur diatas paggung. " Alhamdulillah, Subhanallah, ini gak disangka," tuturnya dengan bibir bergetar saat mendapatkan ucapan selamat.
Gadis berusia 20 tahun yang tinggal di Dramaga, Kabupaten Bogor itu menyisihkan 1172 pendaftar Dauky Dream Girls 2015. Dan dia berhasil meraih tiket perjalanan umrah ke Mekah.
Takut dibegal...
© Dream
Hafal Quran Sejak Kecil
Pagi itu, menjelang final Dauky Dream Girls 2015, Prisila Rosa Malinda bangun jauh sebelum ayam berkokok. Gadis kelahiran Palembang, 11 Juni 1995 itu berangkat dari rumah dengan mengendarai motornya pukul empat dini hari, sendiri.
Dia harus memburu kereta api pertama yang membawa penumpang dari Bogor ke Jakarta. " Ngeri, takut dibegal. Tapi aku punya Allah yang Maha Pelindung," kenang Sila.
Setengah jam kemudian sesampai di stasiun Bogor, azan Subuh belum berkumandang. Sementara kereta segera harus berangkat.
Sekitar lima menit setelah kereta meninggalkan stasiun, Subuh tiba. Sila pun menunaikan salat dengan wudhu yang sudah disiapkannya sebelum berangkat tadi. Dia lewatkan dua rakaat dengan khusyuk di atas gerbong yang masih agak lengang.
Sila memang terbiasa mandiri. Dia berasal dari keluarga sederhana, bahkan sempat terpisah dengan orangtua yang pindah ke Bogor, Jawa Barat. Saat itu dia harus tinggal bersama kakek dan neneknya di Palembang, Sumatera Selatan. Sementara orangtua bersama dua adiknya tinggal menumpang bersama saudara.
Sila baru bisa pindah dan berkumpul dengan keluarga saat memasuki kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA). Mereka pindah ke rumah kontrakan. Baru Mei lalu, mereka mempunyai rumah sendiri di pinggiran kota hujan, di Kelurahan Petir, Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Saat Dream.co.id berkunjung ke rumahnya pekan lalu, rumah itu tampak resik dan asri. Tembok berkelir biru. Dengan akses jalan yang hanya bisa dilalui motor.
Saat ini Sila sambil kuliah, bekerja di salah satu instantasi Pemerintah DKI Jakarta, kantor Kelurahan Pancoran, Jakarta Selatan. Kesehariannya, dia harus bangun pukul empat dini hari. Sambil bersiap berangkat kerja, dia tunaikan salat Subuh.
" Setelah itu aku berangkat naik motor ke stasiun Bogor bersama papa yang kantornya di Kemenpora, Senayan," kata Sila bercerita.
Sila sudah bekerja selama setengah tahun. Dia bertugas di bagian Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Melayani langsung warga yang hendak membuat yang berkaitan dengan kependudukan.

" Saya kerja dari Senin sampai Jumat. Mulai jam 8 pagi sampai 4.30 sore. Tapi setiap minggu pertama dihari Jumat ada program khusus, jam kerja sampai jam 10 malam," kata gadis yang sempat bercita-cita menjadi juru masak ini.
Pulang kerja. Sila tak bisa berleha-leha di kamarnya. Ia harus berkutak mengerjakan tugas kuliah. Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Mercu Buana Cibubur kuliah dengan sistem online.
Setiap Sabtu, ia baru diwajibkan ke kampus, kuliah tatap muka dari pagi hingga petang. Jika sudah kelar, lulusan SMA PGRI 4 Bogor itu selalu menyempatkan membaca dan melatih hafalan Al-Quran, sebelum beranjak ke peraduan.
Maklum sejak kecil Sila selalu belajar di sekolah Islam. Satu hal yang mengagumkan, sejak berusia sembilan tahun atau tepatnya kelas empat SD dia sudah hafal 30 Juzz Al-Quran. Subhanallah....
© Dream
Sang bunda, Yurnaningsih, sangat bangga dengan putrinya itu. Di saat anak seumurnya masih bergantung pada orangtua, Sila justru sudah bekerja, membantu keluarga dan membiayai kuliah sendiri.
" Saya makin terharu dan bangga ketika ia menjadi pemenang Dauky Dream Girls 2015. Tidak menyangka. Alhamdulillah," kata Yurnaningsih tersenyum.
Sila dikenal tipe anak 'rumahan'. Ia lebih suka menghabiskan waktu libur kerja dan kuliah untuk berkumpul bersama keluarga. Biasanya, saat itu, dia menyalurkan hobi membuat kue dan mengajak main sang adik.
Adapun di mata sahabat, wanita yang memiliki lesung pipi itu adalah sosok yang tekun dan ulet.
" Dari dulu dia termasuk anak pekerja keras karena mempunyai keinginan kuat. Selalu berusaha mencapai keinginannya itu. Akhirnya jadi juara satu Dream Girls. Hebat!," komentar Deswita Rahmayanti, sahabat Sila di Palembang yang tengah datang ke Jakarta.
Dengan pencapaian sekarang, Sila tak lantas berpuas diri. Ia masih punya mimpi lain yang ingin diwujudkan. Salah satunya, membuka usaha cafe dan butik fesyen. " Ini lagi mulai nabung dikit-dikit. Doain ya," ujar dia tersipu malu.
" Mimpi tidak akan pernah tidur. And I am Hope. Allah pasti punya skenario terbaik untuk kehidupan kita," itulah kata-kata penyemangat Sila untuk terus mengejar mimpinya.