Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Ribuan komputer Asus diduga terinfeksi malware dari pembaruan perusahaan. Temuan itu disampaikaan tim ilmuwan dari Kaspersky Lab.
Dilaporkan CNet, malware itu dikirimkan peretas yang mengambil alih pembaruan melalui Asus Live Update Utility. Para peneliti menemukan serangan itu terjadi pada Januari 2019.
Peretasan itu pertama kali dilaporkan Motherboard. Peretasan, yang oleh Kaspersky Lab disebut Operation ShadowHammer itu, berlangsung antara Juni dan November 2018.
Kaspersky Lab menemukan serangan itu mempengaruhi lebih dari 57.000 orang yang menggunakan produk-produk Asus.
Perusahaan keamanan siber yang bermarkas di Rusia itu hanya dapat menemukan angka-angka itu untuk pengguna produk anti-virus mereka sendiri.
Di luar jumlah itu, Kaspersky Lab memperkirakan malware itu dapat memengaruhi lebih dari satu juta pemilik Asus di seluruh dunia.
Kaspersky Lab menyebut, malware dapat menginfeksi perangkat dengan mengelabuhi sistem keamanan karena menggunakan sertifikat keamanan resmi Asus.
" Vendor terpilih adalah target yang sangat menarik bagi kelompok APT (ancaman persisten lanjutan) yang mungkin ingin memanfaatkan basis pelanggan mereka yang luas," kata Direktur Tim Penelitian dan Analisis Global Kaspersky Lab, Vitaly Kamluk.
Malware dapat muncul di perangkat pengguna dengan banyak cara. Semisal, mengunduh file dari email, membuka PDF yang seharusnya tidak Anda miliki atau melalui serangan berbasis browser.
Head of PR e-Marketing Asus Indonesia, Muhammad Firman menjawab kondisi peretasan yang dialami. Dia menyebut kasus ini sedang didalami Kantor Asus Pusat.
" Saat ini mereka sedang mendalami kasus tersebut dan mencari solusinya," ujar Firman kepada Dream, Selasa, 26 Maret 2019.
Firman mengatakan, belum ada informasi spesifik mengenai dampak malware terhadap pengguna notebook Asus di Indonesia.
" Belum ada informasi juga berapa user dari Indonesia yang terkena imbas," ucap dia.
Meski demikian, Asus akan memperbarui informasi lengkap setelah mendapat kejelasan kasus ini. Sebagai langkah penanggulangan, Asus akan memeriksa dan memperbaiki server yang mengirim pembaruan software ke pengguna. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya