Songket Usia 100 Tahun Dibawa ke Ajang Busana Muslim Dunia

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Selasa, 18 September 2018 14:29
Songket Usia 100 Tahun Dibawa ke Ajang Busana Muslim Dunia
Selain Itang Yunasz, desainer-desainer yang akan tampil di sana adalah Dian Pelangi, Khanaan, Rani Hatta, Nurzahra, dan IKYK.

Dream – Enam desainer Indonesia akan mengikuti pameran bertema Contemporaray Muslim Fashions di Amerika Serikat. Salah satu desainer yang akan tampil di pameran ini adalah Itang Yunasz.

Itang mengatakan, Contemporary Muslim Fashions ini merupakan bentuk nyata saling menghargai dan toleransi antarumat beragama.

" Bagi saya, berbusana bukanlah sekadar fashion, tapi bisa diibaratkan jiwa kami sebagai Muslim," kata Itang di Jakarta, ditulis Selasa 18 September 2018.

Dia akan memberikan hadiah kepada kurator karena telah menggelar acara bergengsi itu. Itang akan memberikan kain songket yang usianya mencapai lebih dari 100 tahun.

“ Nanti kain antik ada songket dari Padang. Usianya 100 tahun, akan saya berikan ke kurator di sana," tutur dia.

Selain Itang, desainer-desainer yang akan tampil di sana adalah Dian Pelangi, Khanaan, Rani Hatta, Nurzahra, dan IKYK. Bersama Itang, mereka akan tampil di pameran di De Young Museum, Fine Arts Museum of San Fransisco, Amerika Serikat.

Contemporary Muslim Fashions merupakan ajang busana Muslim terbesar pertama di dunia dan diikuti oleh 53 negara dari seluruh dunia. Acara ini akan berlangsung pada 22 September 2018—9 September 2019. Untuk mengikuti pameran itu, para desainer harus melewati proses kurasi selama dua tahun.

1 dari 3 halaman

Enam Desainer Fashion Muslim Indonesia Tampil di AS

Dream – Tren fashion Muslim di Tanah Air masih terus berkembang. Tak hanya di negara Muslim, tren busana yang di juga dikenal dengan sebutan modest fashion ini juga meluas ke dataran Afrika, Eropa hingga Amerika.

Kiprah para desainer Indonesia di belantika modest fashion ini pelan-pelan mulai diakui dunia. Bahkan, enam desainer Indonesia rencananya akan bertolak ke Amerika Serikat untuk memamerkan karya desainnya. 

Enam desainer itu memenuhi undangan De Young Museum, Fine Arts Museum of San Fransisco, Amerika Serikat yang akan menggelar pameran bertema " Contemporary Muslim Fashions" .

Event fashion Muslim pertama yang diselenggarakan selama tiga bulan dari 20 September 2018 hingga 9 Januari 2019 akan dihadiri desainer dan rumah mode Indonesia seperti Dian Pelangi, Khanaan, Itang Yunasz, Rabu Hatta, Nurzahra dan IKYK.

" Ini prestasinya Indonesia bisa sampai ke level internasional. Alhamdulillah ini prestasi bersama, ini prestasi desainer Indonesia bukan hanya yang berangkat saja," kata Dian Pelangi di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin 17 September 2018.

Tak hanya desainer INdonesia, pameran ini juga diikuti 53 negara lain yang memiliki karya fashion Muslim.

" Jadi benar-benar melibatkan banyak negara. Ini mau meng-highlight contemporary Muslim," ucap Dian.

Ia menjelaskan, para desainer tak bisa sembarangan ikut dalam pameran tersebut. Panitia harus terlebih dulu melakukan kurasi selama dua tahun untuk melihat karya desain para perancang modest fashion yang akan ditampilkan.

Selain memamerkan rancangan busana muslimnya di pembukaan fashion show event tersebut, Dian juga menjadi pembicara dalam sesi tanya jawab bersama kurator.

2 dari 3 halaman

Coreta Louise Usung Batik Sulawesi Utara di New York Fashion Week

Dream - Desainer Coreta Louise memperkenalkan batik khas Sulawesi Utara di panggung New York Fashion Week. Wanita asal berusia 49 tahun mengaku rancangannya terinspirasi dari wanita penjual jamu gendong.

" Untuk bentuk busana yang ditampilkan, terinspirasi dari mbok jamu. Tangan di baju dibuat terpisah seperti mbok Jamu menggendong bakul," kata Coreta Louise dalam keterangan tertulisnya, Rabu 12 September 2018.

batik Coreta Loise

Foto : dok. Coreta Louise

Coreta Louise membagi menjadi tiga kategori pada rancangannya ready to wear, evening gown dan kebaya dengan tampilan modern, classy dan elegan.

Dalam rancangannya, Coreta menggunakan enam bahan untuk seluruh ranjangan yang ditampilkan seperti Laser Cut Leather, Organza, Gazar, Liquid, Polyester, Linen.

 

 

3 dari 3 halaman

Detail Busana

Dream - Sementara untuk detail, Coreta menggunakan kulit laser cut yang kemudian dijahit satu persatu ke baju dengan jahitan berbentuk zig zag. Lalu untuk detail lain Coreta menggunakan embroidery atau bordir.

" Laser cut itu memiliki tulisan sanskrit Jawa, hanacaraka. Kemudian laser cut motif bunga sepatu yang memberi simbol kekayaan Indonesia, terutama pulau Jawa," tuturnya.

Coreta Louise

Foto : dok. Coreta Louise

Dalam rancangannya, Coreta Louise Kopoyos menampilkan kombinasi warna the glam, gold, dan black serta tekstur batik khas Sulawesi Utara (Sulut). Rancangannya itu dibuat menyesuaikan dengan kebutuhan pasar yang ada di Amerika Serikat.

" Kalau di Amerika, juga di Eropa, mereka tidak suka yang terlalu ramai, jadi saya memadukan tradisional batik sesuai dengan selera mereka," tuturnya.

Coreta Louise

Foto : dok. Coreta Louise

Wanita kelahiran Manado 13 Desember 1968 ini merasa bersyukur karyanya diterima sangat baik saat menampilkan kurang lebih 12 rancangan Couture kontemporer di New York Fashion Week.

" Mereka antusias, hingga saat ini sudah terjual beberapa ke Jepang, Paris dan Indonesia kemudian sudah ada pesanan untuk produk turunannya," tuturnya. (ism)

Beri Komentar