8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
Tes Alergi
Dream – Keluhan alergi jadi salah satu yang paling sering dialami anak-anak. Jika garis keluarga memiliki riwayat alergi memang cenderung tak bisa dihindari. Misalnya, ayah, ibu atau kakek serta nenek memiliki alergi, maka kemungkinan besar, anak juga aka mengalami alergi.
Gejala alergi yang muncul pun tak selalu sama. Bisa berupa gatal di kulit, sesak napas berupa asma atau rhinitis. Selain faktor genetik, beberapa anak juga lebih berisiko mengalami alergi jika mengalami tiga hal, yaitu dilahirkan melalui operasi caesar, penggunaan antibiotik saat persalinan, hingga terpapar asap rokok.
Salah satu alergi yang paling banyak terjadi menurut data Allergy & Asthma Foundation of America, adalah alergi protein susu sapi. Studi di beberapa negara di seluruh dunia menunjukkan kasus alergi protein susu sapi pada anak-anak di tahun pertama kehidupan sekitar 2% sampai 7,5%.
Untuk gejala yang timbul karena konsumsi susu sapi juga tak melulu diare dan sakit perut atau muntah. Tapi bisa pada masalah pernapasan dan kulit.
“ Gejala akibat alergi susu sapi ini dapat menyerang sistem gastrointestinal (50-60%), kulit (50-60%), dan juga sistem pernapasan (20-30%). Reaksi alergi dapat timbul berupa eksim pada kulit, bunyi pada saluran napas, kolik, diare berdarah, hingga konstipasi. Jika tidak segera ditangani dan dibiarkan, keadaan ini dapat menganggu optimalisasi tumbuh kembang si kecil dan memberi dampak jangka panjang terhadap kesehatan di usia dewasa," kata Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(K), M.Kes, konsultan alergi imunologi anak.
Ia menjelaskan ada berbagai macam gangguan tumbuh kembang yang bisa terjadi jika alerginya tidak tertangani dengan baik. Anak bisa tumbuh menjadi picky eaters sehingga mempengaruhi berat badan ideal dan juga pertumbuhan fisiknya.
" Gangguan hormon akibat alergi juga berisiko memunculkan kegemukan atau obesitas, yang jika tidak dikendalikan akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan diabetes di masa depan," ungkap dr. Budi.
Untuk penanganan alergi ini, dr. Budi menganjurkan para orangtua untuk melakukan 3 K, Kenali, Konsultasikan dan Kendalikan yang juga merupakan kampanye dari Nutricia Sarihusada
Pertama kenali risiko dan gejala alergi yang dialami anak. Perhatikan perubahan dalam kebiasaannya sehari-hari terutama dalam pola makan dan gejala yang muncul.
Lalu kedua, konsultasikan ke dokter anak, jika memang alergi cukup parah nantinya dokter anak akan merujuk pada dokter imunologi anak. Terakhir, kendalikan penyebab alergi dengan asupan nutrisi yang tepat dan terapkan gaya hidup sehat dengan menghindari pencetus alergi pada anak.
Sumber: Nutricia Sarihusada
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian