Lantunan Alquran Sang Mantan Preman

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 31 Maret 2016 20:30
Lantunan Alquran Sang Mantan Preman
Jumakir kapok menjalani hidup dengan kebiasaan mabuk dan berjudi. Hatinya tergerak untuk belajar lagi Alquran mulai dari nol

Dream - Huruf-huruf Arab terdengar bersautan. Ada yang membaca secara terbata, ada yang tersengal, ada pula yang sudah sedikit lancar.

Semua melantun penuh semangat dari sebuah rumah Joglo. Letaknya tak jauh dari masjid Dukuh Jemawan, Desa Jemawan, Kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.

Mereka bukanlah anak-anak kecil. Melainkan puluhan orang dewasa hingga lansia. Meriung di sana dengan penuh tekad.

Duduk bersila beralaskan dipan mereka memegang Iqro. Mulai mengeja huruf-huruf Arab yang tertera di buku itu.

Dari kelompok orang yang rata-rata usianya setengah abad itu, terselip seorang pemuda perawakan sangar. Badan besar dengan kumis tebal. Jumakir namanya.

Sembari terbata-bata, Jumakir terus membaca sederet huruf hijaiyah yang terangkai menjadi kata-kata.

Meski dengan pelan tak ada kesan enggan. Ia justru merasa senang bisa membaca kata-kata itu. Sudah lama ia tidak belajar Iqro. Jadi lupa bagaimana melafalkan huruf tersebut.

Saban malam selepas Magrib, Jumangkir belajar membaca Iqro. Aktivitas itu berbeda 180 derajat dari yang dahulu ia lakukan. Waktu Jumangkir lebih banyak di warung remang-remang. Mabuk dan bermain judi.

Jika kalah dan tak punya uang, ia berbuat onar di kampung. Banyak warga takut jika bertemu Jumakir.

Sampai suatu hari, hidayah turun dari Allah SWT dan membuatnya tersadar hingga ingin meninggalkan kebiasaan buruknya.

Belajar membaca Iqro adalah salah satu cara bagi dia untuk menutup lembaran masa lalunya yang kelam.

****

 

1 dari 2 halaman

Sarang Preman Berganti Kampung Berkah

Bagi masyarakat Klaten dan sekitarnya, desa Jemawan begitu mengerikan. Masyarakat banyak mengenal Jemawan sebagai sarang preman.

Letaknya yang terpencil dan jauh dari pusat keramaian semakin memperkuat stigma negatif tersebut.

Jumakir salah satunya. Ia adalah preman paling senior di sana. Ia bekerja sebagai kuli angkut truk skam dengan penghasilan Rp50.000 per hari.

Uang itu sebenarnya cukup memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sayangnya, Jumakir punya kebiasaan mabuk dan berjudi, yang menyebabkan penghasilannya tidak pernah menjadi rezeki bagi istri dan anak-anaknya.

Kebiasaan itu membuat istri dan anak-anaknya jengah. Sampai suatu ketika, keluarga yang dibangun Jumakir hampir berantakan. Di saat itulah, Jumakir tersadar dan memutuskan bertobat dan menghentikan kebiasaan itu.

Jumakir lantas berusaha mendirikan salat wajib di sela-sela kegiatannya dan aktif mengikuti pengajian.

Saat salat, Jumakir tersadar tidak mampu memahami huruf Arab sehingga kesulitan membaca Surat Al Fatihah.

Kesadaran itu mengantarkan Jumakir untuk kembali belajar membaca Alquran. " Sebagai Muslim, saya sadar agar ibadah saya sempurna, saya harus bisa mengucapkan lafal Surat Al Fatihah dengan baik," kata Jumakir.

Dia mulai mengenal huruf hijaiyah dari Iqro jilid 1. Tahap demi tahap dijalani Jumakir tanpa rasa ragu ataupun malu. Semangat terus terpancar dari wajah Jumakir, apalagi ketika mampu mengkhatamkan satu jilid buku Iqro.

Perubahan itu membuat keluarganya bangga. Mereka terus memberikan dukungan kepada Jumakir agar tidak menyerah sampai bisa membaca Alquran.

Kini, tidak pernah sekalipun salat wajib berjamaah dia lewatkan. Saat ini, Jumakir sudah bisa membaca Alquran.

Meski terbata-bata, Jumakir berusaha terus membaca Alquran. Dia tidak ingin kembali terjerumus kekebiasaan buruknya.

****

 

2 dari 2 halaman

Semangat Bangkit dan Mandiri

Sebagai dusun dengan stereotipe negatif, nafas religi sama sekali tidak berhembus di dusun Jemawan.

Kriminalitas menjadi hal biasa bagi warga Jemawan. Bahkan, generasi muda Jemawan begitu akrab dengan kemaksiatan.

Adalah Ustaz Rifqi Albana yang tergerak membuat perubahan di Jemawan. Bersama Al Azhar Peduli Ummat, sang ustaz terjun ke desa itu.

“ Dulu mayoritas pemudanya sangat umum dan terbiasa dengan kemaksiatan,” kata Ustaz Rifqi.

Upaya berdakwah dan memberdayakan masyarakat yang dijalankan Ustaz Rifqi bukan tanpa halangan.

Sempat terjadi penolakan dari warga. Itu tidak membuat Ustaz Rifqi mundur. Dengan sabar, ustaz Rifqi mendekati warga, hingga akhirnya mereka bisa menerima dakwahnya.

" Sempat ada penolakan, sempat dituduh teroris," kata Ustaz Rifqi.

Dari situ terbentuklah sebuah wadah belajar membaca huruf Arab, yang kemudian dinamai Griya Iqro.

Kehadiran Griya Iqro ternyata tidak hanya memberikan manfaat kepada para warga berupa bisa membaca huruf Arab. Melalui Griya Iqro, para santri mendapat program pemberdayaan ekonomi dengan modal dua ekor kambing.

Mereka diminta merawat dan mengembangbiakkan dua ekor kambing yang telah mereka terima. Keuntungan dibagi menggunakan sistem bagi hasil.

" Alhamdulillah, selama satu tahun lebih ini, dari dua ekor kambing, saya telah memiliki sembilan kambing dari bantuan YKPU dan Al Azhar Peduli Ummat," kata Jumakir.

Lantaran kegigihannya mengajak para warga belajar Alquran dan agama, Jumakir dipercaya menjadi Ketua RT 22/10 sejak 2014. Dia juga dipercaya menjadi bendahara Kelompok Peternak Griya Iqro.

Pengalaman Jumakir begitu berharga jika dilewatkan begitu saja. Dia tidak punya motivasi apapun untuk bertobat, hanya ingin memperbaiki diri. Kini, Jumakir telah nyaman dengan kehidupan barunya dan membuang jauh kebiasaan lamanya.

Beri Komentar