Mengenal Dekompresi, Kondisi yang Renggut Nyawa Penyelam Pencari Lion Air

Reporter : Sugiono
Sabtu, 3 November 2018 17:37
Mengenal Dekompresi, Kondisi yang Renggut Nyawa Penyelam Pencari Lion Air
Syachrul Anto, penyelam tim Basarnas pencari korban Lion Air JT610, diduga meninggal akibat mengalami dekompresi. Apa itu dekompresi?

Dream - Seorang penyelam tim Basarnas bernama Syachrul Anto dilaporkan meninggal saat bertugas mencari korban Lion Air di perairan Karawang, Jawa Barat, pada Jumat 2 November kemarin.

Dansatgas SAR, Kolonel Laut (P) Isswarto, mengatakan penyelam yang merupakan anggota dari Indonesia Diver Rescue Team itu meninggal diduga akibat mengalami dekompresi.

" Diduga dekompresi karena tekanan. Harusnya naik pelan-pelan. Lima meter berhenti dulu sampai muncul (ke permukaan). Dia mungkin langsung," kata Isswarto saat dihubungi Merdeka.com, Sabtu 3 November 2018.

Bagi penghobi olahraga selam, kata dekompresi mungkin terdengar tidak asing lagi. Namun lain halnya dengan orang awam yang mungkin tidak tahu apa itu dekompresi.

Dikutip dari Alodokter.com., dekompresi adalah penyakit atau kondisi yang mengancam jiwa akibat tubuh mengalami perubahan tekanan, baik air atau udara, yang terjadi terlalu cepat.

Bagi seorang penyelam, dekompresi ini selalu mengintai kapan saja jika tidak hati-hati ketika naik ke permukaan.

Ketika seorang sedang menyelam, maka dekompresi akan muncul jika proses kembali menuju ke permukaan tidak dilakukan secara bertahap.

Untuk kasus Syachrul, dia kemungkinan tidak menerapkan safety stop yaitu berhenti beberapa menit di kedalaman tertentu, sesuai aturan dasar keselamatan menyelam.

Pada dasarnya, tubuh perlu waktu untuk beradaptasi dengan perubahan tekanan yang ada di sekitarnya.

Jika perubahan tekanan terjadi terlalu cepat, nitrogen yang terkandung dalam darah akan membentuk gelembung-gelembung yang bisa menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ.

Pembuluh darah atau jaringan organ yang tersumbat itu dapat menimbulkan rasa sakit dan gejala lain jika tidak segera ditangani dengan baik.

1 dari 8 halaman

Faktor Yang Meningkatkan Risiko Terkena Dekompresi

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami dekompresi. Beberapa di antaranya adalah:

  • Dehidrasi.
  • Langsung melakukan penerbangan setelah menyelam.
  • Obesitas.
  • Berusia di atas 30 tahun.
  • Memiliki penyakit jantung.

Meski terjadi di dalam air atau di udara, dekompresi ini memiliki gejala yang harus diwaspadai. Beberapa gejala dari dekompresi itu antara lain adalah:

  • Nyeri pada sendi.
  • Pusing.
  • Tubuh terasa lemas.
  • Sesak napas.
  • Ruam.
  • Terdapat bagian tubuh yang terasa kesemutan dan mati rasa.
2 dari 8 halaman

Cara Mencegah atau Menghindari Dekompresi

Dekompresi merupakan kondisi yang bisa dicegah atau dihindari. Bagi seorang penyelam, beberapa upaya di bawah ini dapat mencegah munculnya dekompresi:

  • Menaati aturan keamanan dan perintah dari instruktur selam.
  • Terapkan safety stop atau berhenti beberapa menit di kedalaman tertentu (umumnya 4-5 meter), sebelum kembali ke permukaan.
  • Konsultasikan dengan instruktur mengenai batasan kedalaman dan durasi menyelam.
  • Bila perlu, gunakan dive computer atau alat khusus yang dapat membantu penyelam mengukur kedalaman hingga durasi penyelaman yang tersisa.
  • Hindari melakukan penerbangan atau perjalanan ke tempat tinggi, setidaknya 24 jam setelah menyelam.
  • Hindari sauna atau mandi dengan air panas setelah menyelam.
  • Bagi yang baru pulih dari penyakit dekompresi, dianjurkan untuk tidak melakukan penyelaman terlebih dahulu, setidaknya untuk 2 minggu.
  • Pastikan cairan tubuh cukup atau tidak dehidrasi.

Bagi yang memiliki riwayat penyakit jantung dan asma, sebaiknya tidak melakukan penyelaman. Jika memang tertarik ingin menyelam, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

(Sumber: Alodokter.com)

3 dari 8 halaman

Penyebab Meninggalnya Penyelam Basarnas Saat Mencari Korban Lion Air Jatuh

Dream - Seorang penyelam dari tim Basarnas dilaporkan meninggal saat bertugas mencari korban Lion Air di perairan Karawang, Jawa Barat, pada Jumat 2 November kemarin.

Dilansir Liputan6.com, korban diketahui bernama Syachrul Anto. Dia merupakan anggota dari Indonesia Diver Rescue Team.

Dansatgas SAR, Kolonel Laut (P) Isswarto, mengatakan Syachrul meninggal diduga akibat mengalami dekompresi.

" Diduga dekompresi karena tekanan. Bekerja tidak tahu waktu, harusnya naiknya pelan-pelan, lima meter berhenti dulu, sampai muncul (ke permukaan). Dia mungkin langsung," kata Isswarto saat dihubungi Merdeka.com, Sabtu 3 November 2018.

Isswarto menambahkan, aktivitas penyelaman untuk mencari korban dan serpihan pesawat Lion Air JT610 seharusnya telah berakhir pada pukul 16:00 WIB.

Hal ini dilakukan karena kondisi gelap dan cuaca yang kurang bersahabat. Namun, korban masih berada di bawah laut hingga pukul 16.30 WIB.

" Korban dari sipil, penyelam Basarnas," kata Isswarto.

Saat ini jenazah Syachrul sudah berada di rumah duka di Surabaya, Jawa Timur.

" Laporan ke saya hanya terjadi dekompresi. Terus dibawa ke chamber di KN Victory. Tindakan lanjut saya tidak monitor (karena di bawah Basarnas)," ujar Isswarto.

4 dari 8 halaman

Detik-detik Penyelam Basarnas Meninggal

Dream - Tim SAR terus melakukan upaya pencarian terhadap jasad para penumpang yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di perairan Karawang, Jawa Barat.

Namun, di tengah upaya tersebut, tim SAR menerima kabar yang menyedihkan. Dilansir Liputan6.com, tim pencari korban Lion Air harus kehilangan salah seorang penyelam yang meninggal dunia saat bertugas Jumat, 2 November kemarin.

Dansatgas SAR, Kolonel Laut (P) Isswarto, saat dihubungi Merdeka.com, membenarkan kejadian tersebut. Dia mengatakan, kecelakaan terjadi sekitar Pukul 16.30 WIB.

Menurut Isswarto, korban adalah warga sipil yang menjadi anggota tim Basarnas yang bertugas menyelam untuk mencari korban Lion Air jatuh.

" Korban dari sipil, penyelam Basarnas, di bawah Basarnas, bukan kita," kata Isswarto, Sabtu 3 November 2018.

Isswarto menegaskan, pihaknya telah mengakhiri proses penyelaman untuk mencari korban Lion Air jatuh pada pukul 16.00 WIB.

Namun, dia merasa heran karena masih ada tim yang melakukan penyelaman hingga pukul 16.30 WIB.

" Sore jam setengah lima (kecelakaan terjadi). Kita tutup jam 4 karena cuaca gelap, saya close. Tapi kok masih ada yang menyelam," terang dia. Jenazah korban telah dievakuasi sejak kemarin.

5 dari 8 halaman

Temuan Mengejutkan di Lokasi Black Box Lion Air JT610

Dream - Tim Badan SAR Nasional (Basarnas) memaparkan sejumlah temuan berdasarkan visualisasi ROV dan penyelam di lokasi ditemukannya FDR black box Lion Air JT610. Ditemukan roda pesawat, puing badan pesawat dan beberapa korban.

" Ada beberapa korban kita lihat sebarannya cukup luas. Kita melihat hal paling besar, roda pesawat, dua ban begitu, kemudian body cukup besar," kata Kabasarnas Marsekal Madya M Syaugi di posko evakuasi Lion Air di JICT 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis malam.

Ia menjelaskan, temuan ini berdasarkan visualisasi alat canggih ROV yang diturunkan di lokasi penemuan FDR black box hingga pukul 16.30 WIB. Tim penyelam lalu menyisir area dasar laut hingga pukul 17.45 WIB.

" Barang-barang itu ada di bawah kapal (lokasi ditemukan black box). Kita sapu, sisir dari kapal itu ada kanan atas, kanan bawah, kiri atas, kiri bawah dan depan," ujarnya.

Jaraknya sekitar 40-50 meter. Dan ternyata di situ banyak serpihan besar sepeti yang tim Basarnas ditemukan kemarin.

Ia menambahkan, tidak semua temuan itu bisa diangkat ke kapal. Tim membutuhkan bantuan alat crane untuk mengangkat puing besar pesawat.

6 dari 8 halaman

Lokasi Jatuhnya Lion Air JT610 Ternyata 'Kuburan' Harta Karun

Dream - Jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 pada Senin pagi, 29 Oktober 2018, di perairan Karawang atau di Laut Jawa, ternyata menyisakan sebuah penemuan yang cukup mengejutkan.

Di perairan, di mana pesawat jenis Boeing 737 Max 8 itu jatuh, ternyata adalah kawasan kuburan kapal-kapal karam yang membawa muatan cagar budaya. Termasuk harta karun VOC.

Tidak hanya kapal-kapal berusia ratusan tahun yang karam di sekitar Tanjung Pakis. Kapal-kapal era modern pun banyak yang tenggelam di perairan tersebut.

Di beberapa area perairan Tanjung Pakis itu bahkan sempat ada penemuan benda-benda cagar budaya. Hal itu dibenarkan Sekretaris Dinas Perikanan, Sari Nurmiasih via ponselnya, Kamis (1/11).

" Salah satu yang sempat ada penemuan benda cagar budaya itu di perairan Cilamaya. Saat itu warga menemukan benda-benda berupa koin emas diduga peninggalan kongsi dagang pemerintah kolonial, Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) guci-guci peninggalan Cina hingga jangkar berusia ratusan tahun," kata Sari, dilansir Planet Merdeka.com.

Sementara itu, menurut keterangan resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan‎ tahun lalu, benda-benda cagar budaya merupakan barang muatan kapal karam (BMKT).

BMKT itu tersebar di 463 titik di perairan Indonesia mulai dari Kepulauan Riau, Selat Karimata, Perairan Bangka Belitung hingga Laut Jawa.

Sebaran kapal tenggelam tersebut umumnya membawa komoditi dan barang dari Cina, ‎Asia Barat dan Eropa. Termasuk Belanda (VOC), Inggris hingga Spanyol.

7 dari 8 halaman

Harta Karun Itu Bernilai...

Dalam keterangan resminya itu, KKP menyebut setiap lokasi BMKT memiliki sisi ekonomi bernilai antara 80 Ribu - 18 juta dolar AS.

" Secara umum memang di Laut Jawa termasuk perairan Karawang merupakan satu kawasan BMKT. Termasuk di kawasan perairan Tanjung Pakis (lokasi jatuhnya pesawat Lion Air) juga wilayah BMKT. Cuma memang sejauh ini baru ditemukan di Tangkolak, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilamaya," ujar Sari.

Kata Sari, jauh sebelum pemerintah membuat sistem BMKT, warga sekitar utara Karawang sering menemukan benda-benda cagar budaya yang bernilai tinggi.

" Sebelum ada aturan seperti ini, dulu warga di utara Karawang kerap menemukan koin-koin emas VOC hingga benda-benda antik seperti potongan guci hingga keramik, semuanya dijual per kilo. Padahal itu memiliki nilai tinggi," kata dia.

Okih Hermawan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Karawang, menambahkan sejumlah barang temuan di perairan Karawang oleh warga saat ini sudah diserahkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan.

" Untuk sementara di sana dulu karena di kami belum ada galeri untuk penyimpanan koleksi tersebut. Nah, sekarang dalam tahapan untuk membangun galeri tersebut yang dikoordinasikan dengan Dinas Pariwisata Pemprov Jabar," ujar Okih.

8 dari 8 halaman

Tim SAR Memang Sempat Mendeteksi

Pernyataan para pejabat pemerintah Karawang itu memang beralasan. Pada pencarian hari ke-3, Tim SAR mendeteksi benda mirip badan pesawat Lion Air.

Namun, saat dilakukan penyelaman, yang ditemukan justru sebuah kapal kayu yang karam hingga rangka kapal yang sudah usang.

Pengangkatan BMKT di wilayah perairan Karawang sebenarnya pernah dilakukan sebelumnya. Pengangkatan BMKT sempat dilakukan di perairan Karawang pada 2008 oleh PT Paradigma Sejahtera.

Sebelumnya pada tahun 2004, Paradigma juga pernah melakukan pengangkatan BMKT di perairan Cirebon hingga perairan Kabupaten Subang.

Beri Komentar