Muslim Pahlawan `Paman Sam`

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 17 November 2016 21:35
Muslim Pahlawan `Paman Sam`
Mereka hanya kaum minoritas. Namun bukan berarti pengorbanannya kecil. Jiwa dan raga diabdikan untuk Paman Sam. Inilah kisah pahlawan muslim AS

Dream – Gedung Wells Fargo di Philadelphia bergemuruh. Lautan manusia riuh bersorak. Teriakan dan siulan ramai bersahutan. Poster-poster didominasi warna merah biru ikut bergoyang.

Ribuan orang pasang mata itu gemetar mendengar pidato seorang pria paruh baya. Pria berkacamata itu berdiri berdampingan istrinya di atas podium kecil. Seorang wanita dalam balutan kerudung abu-abu. Sedari tadi dia setia menemani suaminya.

Lafal bahasa Inggrisnya tak orisinil. Masih bercampur aksen Asia. Tapi suara lantangnya, menyulut emosi yang mendengarnya.

Di tengah pidato, tangan kanan pria itu merogoh saku jas. Sorakan masih terus bergema. Sebuah buku biru kecil dengan kotak berwarna putih diacungkan. Sambil mengoyangkan buku itu, dia berkata, “ Saya dengan senang hati akan meminjamkan salinan konstitusi Amerika Serikat ini.” Lagi-lagi gedung itu bergemuruh.

“ Bacalah kata-kata kebebasan dan persamaan di depan hukum,” teriak pria itu dengan suara tertahan emosi.

Pria berkacamata itu Khizr Khan. Di depan peserta Konvensi Nasional Partai Demokrat dia berkisah pilu. Cerita perasaan seorang ayah yang ditinggal mati anakanya. Sang putra bernama Humayun Khan. Dia seorang tentara Amerika Serikat berpangkat kapten. Khizr harus merelakannya gugur di Perang Irak 2014 lalu.

Humayun gugur sebagai pahlawan. Bersama 14 orang tentara muslim Amerika dia dianugerahi Bronze Star and Purple Heart. Lencana terhormat seorang prajurit Negeri Paman Sam.

Dan pidato singkat Khan malam itu jadi perbincangan media AS. Disebut sebagai pidato paling kuat. Seluruh peserta memberi penghormatan dengan bertepuk tangan sambil berdiri (standing ovation). PIdatonya pun viral di jagat sosial media.

*****

Khan bukan tanpa alasan menjadi buah bibir warga AS. Pidato singkat Khan menjawab lontaran negatif Donald Trump. Pria yang kala itu menjadi calon presiden dari Partai Republik. Dari mulutnya terlontar sentimen miring pada kaum minoritas. Tak hanya kaum muslim, tapi juga para imigran.

Trump seperti lupa catatan sejarah Negeri Paman Sam. Muslim Amerika bukan penduduk yang menumpang gratisan. Apalagi sampai menjadi benalu. Jejak muslim Amerika sudah membekas sejak Perang Saudara masih berkecamuk di Negara itu. Bukan cuma jadi penduduk, tapi pahlawan.

Dengar saja penuturan Craig Cinsidine, sosiolog dari Rice University yang dikutip laman politifact. Ratusan tahun silam muslim Amerika telah berjasa besar untuk negeri itu. Bahkan sejak Amerika masih diselimuti Perang Saudara.
Sebutlah nama Bampett Muhammad. Perwira muslim yang berperang untuk Virginia Line antara tahun 1775-1776. Nama lain muncul di jajaran tentara Washington bernama Yusuf Ben Ali. Dia pria keturunan Arab Afrika Uyang bekerja bersama Jenderal Thomas Sunter dari South Carolina.

Peter Buckminster, yang berjuang untuk Boston, adalah sosok lain tentara muslim Amerika yang paling dihormati. Peter mengubah nama belakangnya menjadi Salaam yang berarti damai.

Mereka hanya segelintir tentara muslim Amerika yang tercatat. Ada 15.000 tentara Amerika keturunan Arab, sebagian besar muslim, terjun ke medan Perang Vietnam. Sejarawan Edward E Curtis mencatat 12 tentara muslim Amerika bahkan mengorbankan nyawa selama perang itu.

Yang terbaru, lebih dari 3.500 muslim Amerika ikut berperang di Afganistan dan Irak.

Dan muslim Amerika tak hanya berjasa dengan menjadi tentara. Sejak kaki menginjak tanah Amerika sekitar tahun 1520-an, banyak muslim Amerika telah menjadi pahlawan buat Paman Sam. Mulai dari dunia politik sampai atlet.

Berikut ini adalah muslim Amerika `pahlawan` Paman Sam:

 

1 dari 5 halaman

Muslim Pejuang Kesetaraan AS

Siapa tak kenal namanya. Simbol sejarah perjuangan Hak Asasi Manusia (HAM). Malcolm X adalah pejuang Amerika yang menginginkan kesetaraan masyarakat kulit hitam dan kulit putih. Tokoh konsisten dan berani, meski lawan bukan kelompok enteng.

Terlahir dengan nama Malcolm Little, dia mengalami getirnya hidup sebagai warga Amerika sejak masih kecil. Ayahnya tewas dalam insiden yang dinyatakan sebagai kecelakaan biasa oleh kepolisian. Padahal, banyak yang yakin ayahnya dibunuh oleh kelompok Black Legiun, sekelompok orang kulit putih yang ingin menghapus kulit hitam di AS.

Insiden itu pula yang merenggut kesadaran ibunya sehingga menjadi gila. Keadaan yang membuat Malcolm Little dan delapan saudara kandungnya tercerai berai.

Pindah ke Boston, Malcolm digelandang ke penjara di tahun 1946. Ditangkap dan ditahan selama 10 tahun karena tuduhan perampokan. Selama di penjara, Malcolm Little memanfaatkan banyak waktunya untuk belajar.

Suatu hari, salah satu saudaranya, Reginald mengunjungi Malcolm di penjara. Kedua berbincang mengenai Islam dan gerakan Nation of Islam. Perbincangan yang menarik perhatian Malcolm.

Setelah bebas, Malcolm bergabung dengan kelompok yang dipimpin Elijah Muhammad itu. Dia pun memeluk Islam, tapi tidak mengubah nama menjadi Arab. Malcolm memutuskan untuk menghilangkan kata Little di namanya, yang melambangkan perbudakan. Dia mengganti kata itu dengan X, yang berarti suku yang hilang.

Bersama NOI, Malcolm X berjuang membela kelompok tertindas. Karismanya mampu menarik banyak orang untuk menjadi Muslim dan bergabung dengan NOI. Tetapi, di tengah jalan, Malcolm memutuskan keluar dari NOI karena kelompok itu hanya memperjuangkan kepentingan sendiri, mendirikan negara Islam.

Pada 1964, Malcolm pergi ke Mekah untuk menjalankan umrah. Ibadah yang mengubah pandangannya. Malcolm memandang semua kulit putih bisa menjadi saudara. Pesannya tidak lagi hanya untuk kelompok tertentu, melainkan semua ras.

Keputusan yang membuatnya tewas saat berpidato di Manhattan Audubon Ballroom. Dia mengalami 15 luka tembak pada 21 Februari 1965. Pelakunya ternyata adalah bekas rekan perjuangannya di NOI, Talmadge Haver, Norman 3X Butler, dan Thomas 15X Johnson.

2 dari 5 halaman

Maestro `Skyhook` Abdul-Jabbar

Jika Eropa terkenal karena sepakbolanya, Amerika adalah gudang pebasket handal. Olahraga ini memang familiar di Tanah Paman Sam. Telah banyak legenda lahir dari olahraga ini. Satu diantaranya bernama Kareem Abdul-Jabbar.

Abdul-Jabbar adalah atlet basket Amerika beragama Islam. Karirnya diawali saat masih duduk di bangku SMA. Kala itu, dia masih bernama Ferdinand Lewis Alcindor. Dia berhasil membawa tim basket SMA New York City menjadi juara di sejumlah pertandingan, dengan 71 kali kemenangan.

Prestasi ditorehkannya saat menjadi mahasiswa di University of California, Los Angele. Di bawah asuhan pelatih legendaris John Wooden, Alcindor mengantarkan tim basketnya, Bruins menjadi pemenang kejuaraan National Collegiate Athletic Association (NCAA) tiga tahun berturut-turut pada 1967 hingga 1969.

Kemampuannya mengolah bola basket membawa Alcindor dilirik klub basket NBA. Alcindor bergabung dengan klub Milwaukee Bucks di tahun 1969. Tidak butuh waktu lama bagi Alcindor beradaptasi. Bersama Bucks, Alcindor membawa klub itu meraih 27 kali kemenangan dalam satu musim.

Sesaat setelah membawa timnya mengalahkan Baltimore Bullets di laga final NBA. Alcindor memutuskan memeluk Islam. Dia mengganti nama menjadi Kareem Abdul-Jabbar.

Nama Abdul-Jabar makin bersinar saat bergabung dengan klub NBA tersohor, LA Lakers. Dia membawa klub itu menjadi juara abadi selama 15 musim pertandingan.

Abdul-Jabbar akan dikenang sebagai pemain terbaik NBA sepanjang masa. Tembakannya yang dikenal dengan ‘Skyhook’ hingga kini belum ada yang mampu menandingi.

 

3 dari 5 halaman

Walikota Muslim

Saud Anwar bukanlah warga asli Amerika. Dia imigran asal Pakistan. Tiba di Tanah Pengharapan bukan tanpa keahlian. Saud punya keahlian sebagai seorang dokter.

Anwar pertama kali menginjakkan kaki di Amerika pada 1991. Kala itu, dia adalah seorang peneliti muda asal Karachi yang baru lulus sekolah kedokteran. Rencananya, Anwar akan melanjutkan pendidikan di Amerika.

Di Universitas Illinois, Anwar menempa diri menjadi seorang dokter. Di saat yang sama, dia juga berkuliah di jurusan kesehatan masyarakat di Universitas Yale, New Haven, Connecticut. Cita-citanya hanya satu, menjadi dokter ahli yang membantu banyak orang.

Dia tinggal di South Windsor, sebuah kota di negara bagian Connecticut. Selama tinggal di sana, dia menjalani profesi sesuai yang dia cita-citakan. Dia menjadi dokter spesialis paru-paru dan juga mengajar di Universitas Connecticut.

Anwar tak pernah membayangkan akan menjadi tokoh sejarah dalam pemerintahan di Amerika. Setelah 25 tahun, Anwar terpilih sebagai Walikota South Windsor. Anwar memimpin sebuah kota yang dihuni 26.000 penduduk non-Muslim, dengan hanya sekitar 100 warga Muslim. Itu merupakan kali pertama South Windsor, juga Amerika, memiliki walikota seorang Muslim.

 

 

4 dari 5 halaman

Senator itu Seorang Muslim

Keith Ellison merupakan anggota parlemen Amerika yang membuat sejarah. Dia adalah senat pertama Amerika yang beragama Islam. Keith terpilih sebagai anggota senat pada 2006.

Keith merupakan anak ketiga dari pasangan Leonard dan Clida Ellison. Dia bersama tiga saudaranya berkarir sebagai pengacara. Sementara satu saudara lainnya merupakan dokter.

Dunia organisasi memang sudah dienyam Keith sejak duduk di bangku SMA. Dia juga tercatat sebagai anggota senat di University of Detroit Jesuit High School Academy. Saat berusia 19 tahun dan berkuliah di Wayne State University di Detroit, Michigan, Keith memutuskan memeluk Islam Sunni.

Lulus kuliah pada 1981, Keith memutuskan menikah dengan kekasihnya sewaktu SMA. Dia lalu pindah Minneapolis dan melanjutkan kuliah di University of Minnesota Law School. Saat kuliah di kampus ini, Keith sempat menulis beberapa artikel untuk mendukung Louis Farakhan, seorang tokoh Nation of Islam. Artikel ini belakangan menjadi kontroversi di tengah pencalonan dia sebagai anggota parlemen.

Lulus kuliah hukum, Keith bekerja di perusahaan Lindquits & Vennum selama tiga tahun. Dia merupakan litigator untuk hak-hak sipil warga negara, ketenagakerjaan, dan perlindungan hukum. Dia lalu menjadi kepala LSM yang memberikan jaminan perlindungan hukum bagi kaum miskin.

Pada 2002, Keith terpilih menjadi anggota senat Minnesota. Padahal, saat itu dia berasal dari partai kecil.

Karirnya di dunia politik semakin melejit. Pada pemilihan umum 2004, Keith meraih 84 persen suara dan terpilih kembali sebagai anggota senat Minnesota. Dia menggantikan posisi Martin Olav Sabo, salah satu dari delapan anggota parlemen dari Minnesota.

Pada pemilihan 2006, Keith mendapat suara sebanyak 56 persen. Dia berhasil mengalahkan Alan Fine dari Partai Republik, Jay Pond dari Partai Hijau, dan Tammy Lee dari Partai Kemerdekaan.

5 dari 5 halaman

Sang Kapten Pembela AS

Dia adalah seorang militer yang berjasa bagi Amerika, meski seorang keturunan Pakistan. Namanya sempat menjadi pemberitaan media Amerika saat masa kampanye menjelang pemilihan presiden Amerika. Penyebabnya, Donald Trump berencana akan melarang Muslim masuk AS. Pernyataan ini membuat ayah Khan, Khizr Khan tidak terima. Trump dinilai tidak menghargai perjuangan anaknya yang telah merelakan nyawa demi Amerika.

Lahir di Dubai, Uni Emirat Arab, Khan bersama orangtuanya pindah ke Amerika. Dia menempuh pendidikan di University of Virginia, lalu mendaftar di Akademi Perwira Angkatan Darat Amerika.

Lulus pada 2000, Khan resmi tergabung dalam Angkatan Darat Amerika. Dia berencana akan menempuh karir sebagai pengacara militer. Berdasarkan penuturan ayahnya, Khan punya idola yaitu senator dan mantan tawanan perang John McCain.

Pada 2004, Khan mendapat pangkat kapten. Dia lalu ditugaskan memimpin Batalyon 201 Divisi Tambahan dan bergabung dengan Divisi Infanteri 1 di Vilseck. Irak menjadi medan tugas pertama bagi Khan.

Pada 8 Juni 2014, Khan tengah memeriksa seorang penjaga pos di Baqubah. Tiba-tiba satu unik taksi mencurigakan mendekat ke posisinya. Melihat ada yang aneh, Khan segera memerintahkan bawahannya menjauh, sementara dia sendiri berlari ke arah taksi itu.

Beberapa saat kemudian, taksi itu meledak. Khan gugur dalam tugas. Meski begitu, dia berhasil meledakkan bom sebelum tiba di panel masuk. Alhasil, puluhan prajurit yang sedang makan di dekat panel itu selamat.

Beri Komentar