Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Shania Suha Marwan
Dream - Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia mendorong perkembangan teknologi digital yang semakin lebih cepat. Hampir semua aktivitas sekolah, bekerja, maupun belanja yang semula dikira hanya bisa dilakukan tatap muka ternyata bisa dilakoni online.
Salah satu yang terpengaruh cukup besar dengan perubahan ini adalah generasi Z yang diketahui menjadi pengguna terbesar internet di Indonesia.
Merujuk survei Alvara Research Center, kalangan Gen Z setidaknya mengakses internet lebih dari 7 jam sehari. Namun besarnya pengakses dunia maya dari kalangan generasi `kekinian` tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan pengetahuan memadai.
Masih dari survei yang sama ditemukan 40 persen kalangan Gen Z masih berada dalam kategori literasi digital rendah.
Kondisi ini cukup memprihatinkan karena literasi digital untuk Gen Z sangat penting di saat kehidupan di dunia maya yang relatif tidak terbatas.
Presenter dan jurnalis Najwa Shihab menilai masyarakat selama ini tak pernah mendapat pendidikan secara formal tentang cara berkomunikasi dan berinteraksi di dunia maya. Semua pengetahuan dipelajari secara learn by doing.
“ Akhirnya terkadang salah kaprah. Padahal sesungguhnya menurutku, satu hal yang harusnya dibawa apakah kita di dunia maya atau dunia digital, etikanya seharusnya sama,” ungkap Najwa Shihab, dalam peluncuran Generasi Happy Tri Indonesia, Jakarta, 5 Oktober 2022.
Minimnya literasi digital tersebut, lanjut Najwa membuat banyak generasi Z tidak mengetahui mana yang benar dan salah dari aktivitasnnya selama bermain media sosial.
Meski masih ada 40 persen generasi dengan tingkat literasi rendah, Najwa menilai generasi Z memiliki cara yang berbeda dalam memahami sebuah informasi penting.
Perbedaan ini membuat sejumlah informasi yang seharusnya dinilai penting tak bisa ditangkap generasi Z karena cara penyampaiannya yang membosankan.

“ Pendekatannya harus penting dan relevan untuk mereka dan juga menarik untuk mereka. Bagaimana kita mengantarkan informasi yang penting jadi menarik sehingga informasi itu juga penting buat generasi yang kita tuju,” tambah Najwa Shihab.
Senada dengan pandangan Najwa, Indosat Ooredoo Hutchison melalui Tri jga berusaha mengajak generasi Z memahami literasi digital dengan lebih baik lewat program ‘Generasi Happy’. Dengan pemahaman yang lebih baik diharapkan dapat menciptakan dunia digital yang positif dan kreatif.
“ Kami ingin mengajak mereka untuk menciptakan ekosistem media sosial yang aman dan nyaman bagi semua,” ujar Chief Commercial Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Ritesh Singh.

Cara Tri menyampaikan program ini dilakukan melalui beberapa aktivitas menarik seperti Generasi Happy TikTok Challenge yang akan dimulai Desember mendatang.
“ Kenapa TikTok? Karena kita tahu generasi Z banyak menggunakan platform TikTok, yang paling banyak justru di situ. Perlu pendeketan dan cara yang pas untuk bisa reach out generasi Z. Caranya ya harus dengan bahasa yang mereka ngerti,” tambah Najwa Shihab.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya