6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
© Dream
Ki Bagus terlahir dari keluarga santri. Sang ayah, Raden Haji Lurah Hasyim, merupakan seorang abdi dalem putihan agama Islam Kraton Yogyakarta. Sejak kecil, dia telah dididik dalam lingkungan keluarga agamis. Selain dari kedua orangtuanya, pria dengan nama kecil R Hidayat ini mendapat asupan ilmu agama dari para kiai di sekitar Kauman. Ki Bagus sempat merasakan bangku sekolah umum, namun hanya sampai ‘Sekolah Ongko Loro’ atau tingkat tiga sekolah dasar sekarang. Dia melanjutkan pendidikan di pesantren Wonokromo, dan mengkaji banyak kitab fikih dan tasawuf. Karirnya di dunia dakwah begitu cemerlang. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah pada 1922. Ki Bagus pernah pula menjabat sebagai Ketua Majelis Tarjih dan anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadiyah pada 1926. Dalam kongres Muhammadiyah 1937, Ki Bagus ditunjuk oleh KH Mas Mansur untuk menggantikannya memimpin persyarikatan. Ki Bagus sempat menolak lantaran merasa tidak sanggup. Tetapi, pada 1942 Mas Mansur harus memaksa Ki Bagus menerima jabatan itu karena dia ditunjuk menjadi Pengurus Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Saat itu, situasi sedang bergejolak lantaran Perang Dunia II. Ki Bagus kemudian memegang amanah itu selama 11 tahun lamanya. Dalam masa kepemimpinannya di Muhammadiyah, Ki Bagus berani melawan kekuasaan militer Dai Nippon yang terkenal kejam. Dia menentang keras perintah militer Jepang yang mewajibkan rakyat Indonesia setiap pagi menghadap ke arah timur laut. Ini sebagai bentuk penghormatan terhadap Kaisar Jepang yang dianggap sebagai titisan Dewa Matahari. Saat Republik berdiri, kiprah Ki Bagus tidak bisa dianggap remeh. Dia tercatat sebagai salah satu anggota konstituante. Melalui jabatan itu, dia terus memperjuangkan pemberlakuan hukum Islam di negara Indonesia. ***
© Dream
Cita-cita itu belum terwujud. Allah SWT menakdirkan Ki Bagus pergi mendahului para pejuang yang lain. Di usianya 64 tahun, Ki Bagus meninggal dunia. Ki Bagus adalah sosok ulama yang sangat menghindari pengkhultusan. Meski jasanya begitu besar, dia tidak mau dianggap sebagai sosok suci. Bahkan saat meninggal, Ki Bagus tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Hanya di sebuah komplek pemakaman umum Kuncen di Kecamatan Wirobrajan, Yogyakarta. Tidak ada penanda apapun di makam itu. Hal ini membuat kesulitan untuk menemukan di mana tepatnya letak makam Ki Bagus sebenarnya. Bahkan, banyak orang yang abai lantaran tidak ada yang tahu di mana letak makam sosok ulama satu ini. Semua terkuak saat Presiden Joko Widodo memberikan gelar Pahlawan Nasional. Buah pikiran Ki Bagus selamanya tidak akan pernah hilang dari identitas bangsa Indonesia. Jejaknya begitu besar bagi berdirinya Republik ini. Dan atas buah pikirannya lah, bangsa ini dikenal sebagai bangsa religius.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya