Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kehamilan yang dinanti-nanti akhirnya terjadi. Harapan akan menimang buah hati dalam hitungan bulan bakal jadi kenyataan. Tapi yang terjadi malah keguguran. Janin dalam kandungan tak mampu bertahan.
Kondisi ini bagi banyak ibu menimbulkan trauma yang mendalam. Apalagi jika keguguran terjadi berulang.
Belum lagi jika terdapat komplikasi yang terjadi setelahnya. Keguguran dalam
beberapa kondisi memang bisa mengancam nyawa ibu, terutama jika disertai banyak pendarahan.
" Ibu harus segera mendapat pertolongan dengan infus dan transfusi darah. Berbahaya juga jika keguguran disertai dengan infeksi, harus diberikan antibiotik yang cukup adekuat," ujar dr. Boy Abidin, spesialis obstetri dan ginekologi kepada Dream.co.id.
Beberapa kasus keguguran dipicu oleh infeksi atau bisa juga disertai infeksi. Penanganan infeksi ini harus segera dilakukan, karena menurut dr. Boy akan sangat berbahaya bagi nyawa ibu jika terlambat ditangani.
Komplikasi pasca keguguran juga jadi hal yang harus jadi perhatian. Risiko komplikasi bisa sangat tinggi jika ibu memiliki kadar HB yang rendah, dan hal ini bisa diketahui dari pemeriksaan darah.
" Daya tahan tubuh yang menurun, proses pendarahan yang lama, pemberian antibiotik yang tidak adekuat, bisa memicu komplikasi setelah keguguran," ungkap dr. Boy.
Penanganan keguguran sebenarnya sangat bergantung pada kondisi ibu. Jika keguguran yang terjadi secara spontan dan tak ada lagi sisa jaringan, maka dokter akan melakukan observasi
saja.
Tapi jika masih terdapat jaringan, prosedur kuretase akan dilakukan dan ibu bisa jadi dirawat selama beberapa hari.
Setelah keguguran terjadi, ibu juga tetap harus memperhatikan kondisi tubuh. Jika masih terjadi pendarahan lebih dari 2 minggu, segera periksa ke dokter.
" Dilihat setelah proses abortus apakah masih terjadi pendarahan atau tidak, kalau bersih seharusnya pendarahan tidak berlangsung lebih dari 2 minggu. Lihat juga apakah ibu terjadi
peningkatan suhu badan yang merupakan tanda infeksi), harus segera periksa ke dokter," pesan dr. Boy.
Untuk informasi seputar kesehatan dan kehamilan lainnya dari dr. Boy, bisa dilihat akun Instagram dan channel YouTube-nya di sini.
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi