Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mie Instan
Dream - Untuk menjaga ketahanan pangan nasional, pemerintah telah mengampanyekan diversifikasi produk. Masyarakat yang mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok diimbau untuk memanfaatkan bahan lain, semisal jagung, sagu, ataupun singkong.
Namun sayang, seruan diversifikasi dinilai salah diterjemahkan. Masyarakat memang mulai meningalkan nasi, tapi justru terdorong beralih pada komoditas yang mayoriyas berasal dari impor.
" Setelah meninggalkan nasi, konsumsi itu justru beralih kepada roti dan mie instan yang berbahan baku mayoritas impor," kata Direktur Utama Badan Urusan Logistik, Sutarto Alimoesso, sebagaimana dikutip Dream dari merdeka.com, Kamis 2 Oktober 2014.
Menurut dia, peralihan konsumsi masyarakat ke bahan yang mayoritas impor itu disebabkan belum adanya bahan pengganti nasi yang kuantitasnya sepadan dengan terigu. Alasan lain, harga lebih bahan subtitusi nasi dari dalam negeri lebih mahal dan kemasan hasil olahan yang kurang menarik.
Sutarto berharap semua pihak, termasuk kampus, bisa memikirkan solusi masalah itu. Bulog juga berharap distributor pangan diwajibkan menyalurkan produk pangan pokok berbahan lokal, seperti singkong atau sorgum. Misalnya, saat distributor mendistribuskan terigu impor 100 kilogram, maka harus menyalurkan 10 kilogram tepung singkong. " Jadi pangan berbahan baku lokal itu juga ikut tersalurkan ke masyarakat," tutur Sutarto.
Sementara itu, Peneliti Ketahanan Pangan PSEKP Kementerian Pertanian, Achmad Suryana, menilai perlu ada reorientasi program ketahanan pangan, menjadi kemandirian pangan. Pengembangan komoditas pengganti beras harus ditentukan secara spesifik dan diberi target waktu yang jelas.
" Kalau kemandirian itu artinya optimalisasi produksi domestik. Ini harus terencana dan sistemik, ada optimalisasi daya saing lokal. Identifikasi mana saja yang mau dikembangkan," ujar dia.
Selain itu, inovasi dan teknologi pertanian jadi harga mati. Alokasi anggaran litbang pertanian juga perlu ditambah. " Karena mungkin sudah ada teknologi yang tinggal dimatangkan 1-2 tahun sudah bisa disebarkan ke masyarakat," tutur Achmad.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya