'Titik Temu', Ajang Pembuktian Transformasi Dian Pelangi

Reporter : Ratih Wulan
Senin, 22 Mei 2017 18:44
'Titik Temu', Ajang Pembuktian Transformasi Dian Pelangi
Dian Pelangi memberi kejutan yang lebih segar pada para pelanggan setianya.

Dream - 26 tahun berkiprah di dunia desain busana muslim Tanah Air, Dian Wahyu Utami atau kerap disapa Dian Pelangi seperti tak kehabisan ide. Kali ini, pemilik brand Dian Pelangi menghadirkan koleksi terbarunya yang lebih segar.

Dian Pelangi yang juga menjabat Creative Director ini mengungkapkan perusahaan keluarganya itu ingin membentuk citra yang lebih berkarakter. Misi ini dijalankan dengan menggali unsur-unsur modern tanpa meninggalkan ciri khasnya selama ini.

" Butuh waktu hingga delapan tahun untuk meyakinkan ayah, ibu, kakak dan adik saya untuk mengenalkan konsep baru. Hingga akhirnya sepakat dengan tema 'titik temu' yang saya perkenalkan hari ini," ungkap Dian.

 Dream.co.id© dream.co.id

Bertempat di bilangan Menteng, Jakarta Pusat pada Minggu, 21 Mei 2017, Dian secara resmi merilis konsep baru. Dia tetap menitikberatkan pada pemakaian kain nusantara seperti songket, batik, dan teknik pewarnaan jumputan tradisional.

Lewat kesempatan itu, Dian juga menegaskan tujuh label yang berada di bawah naungan Dian Pelangi akan direformasi menjadi empat label baru. Keputusan itu diambil berdasarkan perkembangan tren modest wear, serta meningkatnya kompetensi brand fashion secara internasional.

" Re-branding ini diharapkan dapat membuat brand Dian Pelangi menarik dan memenuhi selera pelanggan modest fashion secara global," ucap Dian.

Empat label baru tersebut yaitu Prive, Krama, Nom dan Men yang khusus untuk busana pria. Setiap label membawa ciri khas masing-masing sesuai dengan target usia dan demografi market para pelanggannya.

 Dream.co.id© dream.co.id

Dian menjelaskan Prive merupakan proyek idealismenya. Brand ini nantinya masih akan mengedepankan konsep dengan pemakaian bahan-bahan premium seperti songket atau batik tulis.

Sedangkan Krama, yang dalam Bahasa Jawa berarti 'halus' untuk menggambarkan selera fashion yang lebih dewasa. Seluruh koleksi dituangkan dalam konsep ready to wear yang eksklusif.

" Kalau Prive itu di atas Rp5 juta, sedangkan Nom juga dari Bahasa Jawa yang berarti 'muda', memang nanti akan di-mass production dengan kisaran harga Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Sedangkan untuk yang Men konsepnya lebih ke outer dengan kisaran Rp700 ribu hingga Rp1,5 juta," tutupnya.

 

Beri Komentar