CONNECT WITH US!

'Uang Umroh itu Suci, Urusannya Sama Allah'

Reporter : Arie Dwi Budiawati | Senin, 4 September 2017 20:10
First Travel
First Travel membuka tabir agen travel nakal. Mempermainkan uang jemaah dengan

Dream – Ribuan manusia menyemut di pagi buta, Sabtu 1 November 2014. Pria dan wanita berpakaian serba putih. Berjubel duduk di tempat yang sama. Berpakaian layaknya Tamu Allah di Baitullah, Mekah. Tapi mereka tak sedang berada di Tanah Suci.

Manusia berbusana serba putih itu ada di Jakarta. Di stadion utama Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta. Separuh Stadion berkapasitas 78 ribu itu penuh sesak. Tribun dekat lapangan hampir terisi seluruhnya. Sejauh mata memandang hanya ada lautan manusia.

Mereka takkan pernah melupakan hari itu. Waktu dimana para jemaah agen travel umroh First Travel menorehkan sejarah. Rekor manasik umroh dengan peserta terbanyak di dunia. Gelar dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Tiga tahun berselang, rekor itu berubah jadi cerita masa lalu. Impian ribuan jemaah menginjakkan kaki di tanah suci pupus. Kabar buruk tentang First Travel menyeruak.

Ada 58.682 orang jemaah tak kunjung berangkat. Dari pendaftar 72.682 orang sejak Desember 2016 hingga Mei lalu, baru 14 ribu diberangkatkan. Dari jemaah yang gagal berangkat itu, First Travel diduga mengeruk uang Rp839 miliar.

Satu per satu kabar buruk datang mendera. Kebobrokan First Travel dikuliti. Dari misteri hilangnya uang ratusan miliar rupih sampai gaya hidup glamor si pemilik.

Kejayaan nama besar First Travel runtuh dalam satu hari.

Berbagai analisa dibuat. Mencari nalar apa yang terjadi dengan agen yang dulunya berjaya itu. Dari tarif promo yang supermurah sampai manajemen yang dianggap menjalankan praktik skema Ponzi.

Siapa sebenarnya First Travel? Apa yang membuatnya hancur? Berikut wawancara Jurnalis Dream.co.id, Arie Dwi Budiawati sempat mewawancarai Ketua Dewan Kehormatan Asosiasi Muslim Pengusaha Haji dan Umrah Indonesia (Amphuri), Rinto Rahardjo lewat telepon, Rabu 30 Agustus 2017.

Bagaimana pandangan Amphuri soal kasus First Travel?

(First Travel) bermasalah karena menjual dengan harga murah di mana kalau diperhitungkan, untuk membayar paket saja tidak cukup karena komponennya. Begini misalnya. Tiket saja sudah Rp12 juta. bayar hotel dan segala macam di sana kurang lebih Rp4 juta. Belum bayar visa itu US$75 (Rp1 juta), biaya yang mengantar. Itu hitung-hitungan tidak masuk.

Kalau low season itu dijual di Rp19 juta-Rp20 juta. Kok, dia bisa jual di Rp14 juta. Hitungnya bagaimana? Dia apakan uangnya, kita tidak tahu. 

Dimana letak kesalahannya, skemanya atau promo?

Kesalahannya menjual dengan harga murah dan dikemanakan uangnya itu. Yang saya dengar itu dia berbisnis lain. Bisnis itu tidak berhasil, ada yang beli rumah di London. Itu tidak mendukung.

Sebetulnya bagaimana perhitungan tarif biaya umroh?

Low session itu Rp19 jutaan. High season itu Rp23 juta-Rp24 juta. Tidak ada orang yang jual di Rp18 juta. Mau naik apa? Mau ditempatin di mana? Mungkin pesawat yang tidak jelas. Tidak boleh masuk ke kedutaan, kemudian di sananya tempatnya jauh. Tidak diberi makan atau pulangnya beli tiket lagi. Dikasih.

Jika pakai tarif normal, fasilitasnya apa yang diperoleh jemaah?

Begini. Ilustrasinya itu ada paket bintang 3, 4, 5. Yang paling murah bintang 3, menurut klasifikasi hotel di Arab. Bintang 3 di Indonesia mah bagus. Bintang 3 di Arab seperti losmen. Itu yang paling murah.

Biaya operasional sebenarnya berapa?

Kalau umrah, operasionalnya paling tidak hotel, makan, tour leader ya kurang lebih US$400 (Rp5,34 juta)-US$500 (Rp6,37 juta). Itu tanpa tiket dan visa. Total keseluruhan. Kalau ekonomi Rp19 juta di low season. November-Desember itu high season itu sekitar Rp23 juta-Rp24 juta. Belum lagi Arab minta pajak hotel di sana. Bayar 10 persen. Akan ada kenaikan. Kalau betul kebijakan ini diberlakukan, itu akan naik lagi harga umrah.

Kebijakan khusus?

Kalau Amphuri mengingatkan kepada masyarakat. Kalau mau umrah, jangan percaya dengan harga murah. Karena harga murah itu ada pengorbanan. Ada yang tidak diberangkatkan. Misalnya, ada daftar kelompok 1 ada 100 orang, kelompok II 200 orang, kelompok III ada 300 orang. Yang berangkat grup 1 ini menunggu grup 3, terus grup 2 tunggu grup 4. Ada yang tidak diberangkatkan.

Ada teman-teman saya yang berangkat dengan Rp14 juta, setelah itu tidak berangkat. Dananya dipakai untuk yang berangkat. Itu, kan, lucu. Ada yang dikorbankan. Banyak banget yang tidak berangkat.

Mungkinkan berangkat umrah dengan biaya Rp14 juta?

Tadi saya bilang Rp14 juta itu tidak mencukupi untuk membiayai yang ada. Yang ada, berangkat nggak bisa pulang, beli tiket sendiri. Itu kejadian di biro travel. Masak itu paket setengah doang. Saya pernah tangani kasus itu. Saya sampai tengah malam jemput di bandara. Pulangnya harus beli tiket sendiri.

Kabarnya bisnis umrah First Travel pakai skema Ponzi, bagaimana dampaknya?

Ya dampaknya akan ada yang dikorbankan. Itu sudah pasti. Pokoknya, ini umrah soal ibadah. Tidak boleh dipermainkan. Ini tamu-tamu Allah. Ketentuannya, kalau mampu. Kalau tidak mampu, tidak perlu dipaksakan. Kalau mampu, bayarlah dengan harga yang wajar. Biro perjalanan tidak ambil untung banyak. Saya sarankan ke umat Islam. Kalau mampu, pakai harga bener. Kalo murah ya keblinger.

Pendapat asosiasi melihat biro travel umrah yang menggunakan skema Ponzi?

Sangat menyayangkan, tak bisa diterapkan di umrah. Uang umrah itu tidak boleh dimainkan. Harganya ini. Mampu, bayar berangkat.

Sama dengan haji. Mentang-mentang boleh DP. Bayar, langsung hayu berangkat-berangkat. Giliran pelunasan, tidak bisa (melunasi). Berapa ratus orang tuh yang gugur karena paket hemat seperti itu. Orang tidak membaca persyaratan secara syari. Mau haji bayar 20 juta. Waktu melunasi tidak bisa. Mana utang lagi. Sudah pelunasan tidak bisa,

Apa kebijakan Amphuri pada biro travel umrah yang pakai skema ini?

Kalau ada anggota seperti itu, kita akan peringatkan. Kalau ada anggota seperti itu, ya dikeluarkan dari keanggotaan. Kita tidak mau ada anggota seperti itu. Akan kita keluarkan. Kayak first travel tidak punya asosiasi. Di empat asosiasi ditolak. Di Ampurhi, Himpuh, dia tidak diterima karena dia menjual (paket umrah) dengan harga seperti itu.

(Dalam wawancara sebelumnya, Rinto sempat mengatakan bahwa skema Ponzi ini memang bertujuan untuk menipu. Berikut kutipan wawancara dengan Dream.co.id pada 24 Agustus 2017

Apa bedanya biro umrah nakal dengan yang benar?

Kalau yang benar, mereka tidak berani memutar uang karena itu uang suci, uang umrah, uang ibadah, uang yang urusannya sama Allah. Jemaah membayar dengan harga yang diberikan (maksudnya sesuai ketentuan). Uang itu langsung digunakan untuk keperluan umrah, tidak ada yang diputar. Itu yang dilakukan oleh biro travel umrah yang berlisensi. Tidak ada itu uang di-collect untuk bisnis lain. Tidak berani.

Ciri-ciri travel yang nakal itu seperti apa, Pak?

Ciri-ciri yang menonjol adalah harga yang murah. Harga yang tidak masuk akal dan tidak jelas mana biaya tiket, mana biaya akomodasi, mana biaya tour leader. Tidak masuk akal. Terakhir, kan, penawarannya Rp8,8 juta.

Ada batasan harga (paket umrah, yaitu) Rp19 juta ke atas. Itu ada musimnya. Kalau Desember, kan, peak/high season. Harganya Rp22-23 juta,

Low season itu mulai pertengahan Januari. Harganya Rp19-20 juta sampai sebelum Ramadan. Harga hotel banting-bantingan, jadi kita bisa jual murah. Kalau harga murah, tapi kita jual mahal, kan tidak laku,

Ciri lain?

Travel yang tak berizin. Masyarakat harus sadar sejak mendaftar, travelnya punya izin atau tidak. Izin dari Kementerian Agama, ya, bukan izin yang dari biro travel lain. Itu sama saja dengan tidak berizin. Mending langsung saja ke biro travel (yang berizin).

Lalu, ada fasilitasnya. Kalau fasiliasnya hotel 5 km dari Masjidil Haram, tidak bener itu. Yang paling jauh 800 meter. Itu yang paling murah paketnya.)

Apakah First Travel pernah mengajukan pendaftaran ke asosiasi haji?

Pernah. Dia pernah mengajukan ke asosiasi.

Kapan?

Sudah lama. 4-5 tahun yang lalu. Begitu dapat izin, dia langsung mengajukan. Langsung ditolak. Insya Allah anggota di Amphuri tak ada yang seperti itu.

Saran kepada masyarakat?

Amphuri secara syari mengingatkan masyarakat, berangkatlah ibadah haji sesuai dengan kemampuan. (ini maksudnya umrah kali ya?). panggilan Allah itu apabila mampu. Kalau tidak, jangan dipaksakan. Kalau dipaksakan, kena berbagai tulah.

Secara administrasi, hendaklah cari pakai biro umrah yang memiliki izin dan keanggotaan (asosiasi, misalnya) Amphuri.

Ketiga, harganya itu yang standar travel-travel yang berizin. Misalnya di low season Rp19 juta. High season Rp23 juta-Rp24 juta. Di bawah itu, hati-hati. Bisa jadi kejadian seperti First Travel. Yang menggunakan cara First Travel itu sebenarnya sudah dilakukan travel lain. Tidak ada itu namanya, bayar sekarang, berangkat tahun depan. Itu bohong.

Sebelum kasus FT terkuak, adakah pengaruh terhadap bisnis umrah yang lain?

Oh, kemarin waktu jaya-jayanya berpengaruh sekali. Jemaah yang benar dan resmi, banyak yang lari ke sana. Orang kita kan pada aneh. Carinya yang murah. Giliran ada yang murah, pada pindah. Pas di sana, berangkat nggak, duitnya hilang. Makanya asosiasi menggunakan 5 pasti.

Pengaruhnya seperti apa?

Ada. Orang jadinya berhati-hati. Harus mendaftar di biro perjalanan yang punya izin resmi. Bukan di biro travel yang tidak punya izin, ngaku-ngaku kerja sama dengan biro travel lain. Itu jangan didengarkan. Langsung juga ke biro perjalanan yang ada keanggotaannya.

Apakah jumlah jamaahnya turun?

Ya, turun. Dengan kejadiani ni mereka dengan kejadian ini, tidfak percaya ke bisnis umrah murah.

Berapa penurunannya?

25-35 persen. Malah ada yang ngeluh. Ada yang tidak dapat jamaah. Satu bus setahun. Lebih banyak yang lari ke First Travel.(Sah)

Melly Mono - 'Bagi Rasa' (Acoustic Interview)