Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Dian Pelangi Berbagi Cerita Tentang Dia Tak Boleh Beli Baju Oleh Orang Tuanya. (Foto: Irwanto Djasman)
Dream – Dian Pelangi, nama desainer itu sudah kesohor di dunia modest fashion. Menyebut namanya, semua fashionista pasti langsung mengaitkannya dengan dunia hijab yang terus berkembang cepat di Indonesia dan dunia.
Dengan segudang karya busana santun, siapa sangka jika Dian punya pengalaman masa kecil yang mungkin jarang diketahui publik. Cerita itu diungkapkan Dian saat menjadi bintang tamu dalam rangkaian Roadshow Coffeetone X You Hijab Sketch Competition 2018 yang kin sudah menyapa Palembang.
Tampil anggun di acara tahunan Kopi ABC itu, Dian menceritakan jika orang tuanya sempat melarangnya membeli pakaian saat masih kecil. Bukan karena tak mampu, Dian justru sedang digojlok mendesain pakaian yang kelak menghantarkannya menjadi seorang desainer hijab ternama Indonesia.
Menurut Dian, kesukaannya dengan fashion semakin menguat karena keluarga selalu mengakrabkannya dengan dunia fashion. DIan kerap dikenalkan berbagai jenis kain, terutama kain khas Palembang, songket, yang menjadi usaha orangtuanya.
Larangan membali pakaian diberikan orang tua Dian agar putrinya itu membuat sketsa sendiri dan mendatangi tukang jahit untuk membuat pakaian yang diinginkan.
" Gimana tidak menjadi darah daging, fashion sudah akrab sejak saya masih kecil. Misal saya ikut nge-mal, ke IP (Internasional Plaza, mal tertua di Palembang-red), saya nggak dibolehin beli baju," kata dia.
Didikan orang tua terbukti saat Dian sukses menjadi seorang desainer. Di usia relatif masih muda, 18 tahun, Dian merasakan pengalaman seperti menjadi seorang desainer. Dua tahun usai lulus SMK, Dian sudah merasakan sulitnya merancang sketsa, hasil tak maksimal, dan berbagai pengalaman berharga lainnya.
" Pengalaman dedel-dedel itu saya rasakan, jahitan tak rapi. Artinya saya juga alami jatuh bangun, pasti ada itu,” kata dia.
Dihadapan para calon desainer yang mengikuti Coffeetone X You Hijab Sketch Competition 2018, Dian berpesan agar selalu memiliki tiga P dalam meniti kariernya di dunia fashion.
Tiga P yang dimaksud adalah persistent, passion, dan personality. Pecinta fesyen juga harus melakukan ATM yaitu Amati, Tiru, dan Modifikasi dari berbagai media yang ada.
" Tidak gampang menyerah, kita harus menentukan passion karena menjadi bahan bakar mengejar mimpi,” kata dia.
Dian juga menekankan seorang desainer harus punya pembawaan yang baik, senyum, dan selalu berbagi ilmu. Tentunya, menginspirasi banyak orang.
“ Akhirnya, kita menjadi wanita yang cantik. Cantik dari luar dan dalam. Kalau cantik seperti ini, orang juga melihat kita dari hati,” kata dia.(Sah)
(Laporan: Irwanto Djasman)
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya