Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Masalah Stunting Pada Anak Foto: Shutterstock
Dream - Stunting merupakan masalah gizi kronis yang mengakibatkan gagalnya pertumbuhan pada anak. Pada bayi yang baru lahir, stunting ditandai dengan bobot yang rendah serta badan yang lebih kecil dan pendek.
Permasalahan stunting terjadi karena gizi pada anak tidak tercukupi sejak 1000 hari pertama masa kehidupan atau sekitar tiga tahun sejak anak masih di dalam kandungan.
Menurut Sinteisa Sunarjo, Group Business Unit Head Woman Nutrition KALBE Nutritional, anak dengan masalah stunting biasanya mengalami gangguan kesehatan serta keterlambatan dalam perkembangan kognitif dan monotorik.
" Dampak dari stunting di mana banyak bayi lahir dengan berat badan rendah, badannya kecil dan pendek berpengaruh pada masalah kesehatan serta mengalami perlambatan perkembangan kognitif dan motorik," ujar Sinteisa dalam acara peluncuran 'Smart Sharing: Program Kerja Sama Penurunan Angka Stunting di Indonesia', Selasa 4 Mei 2021.
Selain kurangnya asupan gizi pada anak saat 1000 hari kehidupan pertama, stunting juga dapat disebabkan oleh faktor eksternal seperti buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, dan kebersihan lingkungan yang kurang terjaga.
Indonesia saat ini masih menduduki peringkat 4 negara dengan kasus stunting terbanyak di dunia. Dengan presentase yang mencapai 27,67 persen, kondisi gizi kronis tersebut masih lebih tinggi dibandingkan toleransi maksimal stunting yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), yaitu kurang dari 20 persen.
" Bahkan hingga akhir tahun lalu, status Indonesia masih berada di urutan ke-4 dunia dan urutan ke-2 di Asia Tenggara terkait kasus balita stunting,” tutur dr Zamhir Setiawan, Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (BKKBN)
Tingginya angka stunting di Indonesia membuat presiden Joko Widodo pada Januari 2021 lalu menargetkan penurunan angka stunting hingga 14 persen pada 2024 mendatang serta menekan angka kematian ibu hingga di bawah 183 kasus per 100 ribu jumlah ibu melahirkan.

Menyikapi tingginya kasus stunting di Indonesia, Kalbe Nutritionals melalui brand Prenagen yang bekerja sama dengan Klikdokter turut mendukung upaya BKKBN melakukan percepatan penanganan kejadian stunting.
Melalui 'Smart Sharing: Program Kerja Sama Penurunan Angka Stunting di Indonesia' Prenagen, Klikdokter serta BKKBN akan melakukan serangkaian kegiatan edukasi online maupun offline yang menjangkau dan melibatkan bidan di seluruh Indonesia.
" Kami dari Kalbe Nutrisionals bergerak untuk berpartisipasi aktif dalam menganggulangi stunting ini. kami berterimakasih kepada BKKBN telah bersedia berkerja sama dengan prenangen dan kamu berterimakasih kepada klik dokter," kata Ongkie Tedjasurja, President Director KALBE Nutritionals dalam kesempatan yang sama
Selain itu program kolaborasi ini juga melakukan pilot project studi observasional dan program intervensi gizi untuk pencegahan stunting dibeberapa daerah di Indonesia.
Edukasi secara online akan diadakan melalui aplikasi Klikdokter serta website dan media sosial yang dimiliki Prenagen, BKKBN. Sedangkan secara offline dilakukan di klinik-klinik melalui para bidan.
Selanjutnya, kolaborasi ini juga akan menggelar rangkaian webinar untuk komunitas bidan dan masyarakat secara umum, serta sejumlah kegiatan Social Media Live yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap stunting.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya