Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Arsitek Zaha Hadid (observer.com)
Dream - Arsitek wanita muslim terkenal Zaha Hadid mendapat tantangan besar untuk membangun gedung spektakuler baru. Zaha yang tersohor sebagai desainer bangunan-bangunan spektakuler ini diminta membidani pembangunan pusat riset sekaligus perpustakaan bagi dokumen kekejaman Khmer Merah di era 1970-an.
Bangunan bernama Sleuk Rith Institute itu akan didirikan di pusat ibu kota Kamboja, Phnom Penh sebagai peringatan 35 tahun tragedi genosida terhadap dua juta rakyat Kamboja yang dilakukan pemimpin Khmer Merah, Pol Pot.
Proyek terbaru Hadid ini merupakan visi dari aktivis hak asasi manusia You Chhang, 53 tahun, yang ikut merasakan kekejaman rezim Pol Pot antara tahun 1975 hingga 1979.
" Kami harus hidup di bawah penderitaan yang panjang," kata Chhang, yang kehilangan kakak perempuan, paman dan bibinya saat Pol Pot menyebar terornya.
" Kami tidak bisa keluar dari bayang-bayang rezim Khmer Merah, tapi kami tidak mau diperbudak oleh hal itu. Saya ingin institut bisa membawa perubahan dan harapan baru, dan mengeluarkan kami dari pola pikir sebagai korban," tambahnya seperti dikutip Arabianbusiness, Rabu, 15 Oktober 2014.
Kompleks bangunan Sleuk Rith Institute akan difungsikan sebagai pusat studi genosida yang terjadi di seluruh Asia. Pembangunan gedung ini bukan untuk mengenang kembali masa kelam namun mengedepankan sisi pendidikan yang kuat dan jangkauan komponen yang luas.
Pemerintah Kamboja telah menyumbang sebidang tanah untuk pembangunan komplek ini. Sementara biaya pembangunan diperoleh dari kampanye penggalangan dana yang berhasil mengumpulkan US$ 35 juta. Serta sedikit bantuan dana dari USAID.
Lebih dari dua dekade terakhir, Chhang dan timnya telah mengumpulkan arsip tentang kekejaman Khmer Merah yang terdiri dari lebih dari satu juta dokumen, foto, rekaman audio dan film, peta dari 200 penjara dan 20 ribu kuburan massal yang tersebar di seluruh negeri. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya