Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Amel Maelani, 18 bulan, merasakan getirnya hidup di usianya yang masih sangat dini. Dia harus menahan rasa sakit akibat kanker kulit tanpa kasih sayang orangtuanya.
Balita ini menderita kanker hemonia di tangan kirinya. Bukannya dirawat, orangtua Amel justru membuang bocah ini.
Beruntung, ada tetangga Amel yang peduli dengan nasib bocah mungil itu. Dia kini diasuh oleh Ipong Mulyati yang tinggal di Cipadung RT 04 RW 14, Kelurahan Kotalaker, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Ipong mengatakan saat dia pertama kali mengurus Amel, kondisi balita itu memprihatinkan. Luka di tangan kirinya sudah cukup parah.
" Pas diurus sama saya tangan Amel sudah sakit dan berbau. Amel ditinggal orangtua entah kemana. Saya kasihan, jadi diurus sama saya," ujar Ipong, dikutip dari ruber.id.
© Dream
Amel sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Sumedang. Ipong menuturkan biaya perawatan Amel didapat dari dana BPJS Kesehatan.
Sayangnya, Ipong harus menghadapi kendala dalam pembayaran iuran rutin BPJS. Ini lantaran banyak kebutuhan yang harus dia penuhi, sementara pendapatannya sebagai penjual gorengan belum mencukupi.
" Sudah enam bulan saya nunggak iuran BPJS, karena banyak kebutuhan," ucap Ipong.
© Dream
Selanjutnya, Ipong mengaku dia harus memilih mana yang lebih diprioritas antara membeli susu untuk Amel atau bayar iuran BPJS. Belum lagi, dia masih harus membayar sewa rumah yang ditempatinya.
" Kalau bukan atas kemanusiaan, saya sudah tidak sanggup. Tapi saya tetap berusaha," tutur Ipong.
Sebelum memutuskan merawat Amel, Ipong mengaku menemui sejumlah keluarga balita itu. Dia ingin menanyakan nasib Amel selanjutnya.
Mirisnya, Ipong tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Tidak ada satupun keluarga yang berkenan merawat Amel.
Sumber: ruber.id
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya