Deretan Fenomena Unik Saat Ramadan 2017

Reporter : Maulana Kautsar
Sabtu, 27 Mei 2017 08:02
Deretan Fenomena Unik Saat Ramadan 2017
Akan ada bintang terang terlihat.

Dream - Sejumlah fenomena alam akan terjadi di langit pada awal Ramadan 1438 Hijriyah. Selain pengamatan hilal untuk menentukan awal Puasa, antara kurun 26 hingga 30 Mei, saat tengah hari, diprediksi matahari berada tepat di atas Kabah.

Menurut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, pada saat itu seolah-olah matahari dapat menjadi petunjuk arah kiblat.

" Tengah hari di Mekah itu kira-kira antara pukul 16.18 WIB. Dengan anggapan plus-minus lima menit, atau 16.13-16.23 WIB, matahari dapat dijadikan pedoman arah kiblat," kata Djamaluddin kepada Dream.co.id, Jumat 26 Mei 2017.

Selain fenomena bulan dan matahari, saat senja dalam kurun waktu itu, akan nampak Sirius, bintang paling terang di langit malam. Tetapi, pengamat perlu menggunakan teleskop untuk melihatnya.

" Venus tampak menjadi " bintang" paling terang, tampak di langit timur (saat) pagi hari," kata dia.

Sesudah berbuka, masyarakat juga dapat menikmati terangnya Jupiter. Planet terbesar di Tata Surya itu akan terlihat usai Maghrib.

" Dan terbenam pada dini hari," kata dia.

1 dari 3 halaman

Bersiaplah, Seluruh Indonesia akan Menikmati Fenomena Alam Ini

Dream - Beberapa waktu lalu para astronom memastikan bahwa sebagian kecil kota-kota di Indonesia akan dilewati Gerhana Matahari Total (GMT) pada 9 Maret 2016 mendatang.

Meski tak seluruh wilayah di Indonesia dilalui fenomena alam yang langka itu, tak perlu khawatir karena kesempatan untuk melihat dan menikmati GMT 2016 tetap terbuka bagi seluruh penduduk Indonesia.

Pasalnya, dinas pariwisata dari beberapa daerah yang akan menjadi titik terjadinya GMT 2016 berupaya mengakomodasi seluruh penduduk Indonesia yang ingin menyaksikan langsung fenomena alam fantastis itu dengan mencanangkan Wisata GMT 2016.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Pariwisata RI, Indonesia.travel, Selasa 15 September 2015, seluruh penduduk Indonesia yang daerah tempat tinggalnya tidak dilewati GMT dapat mengunjungi kota-kota dengan GMT 2016, seperti Palu, Ternate, Bali, Bangka Belitung dan Bandung.

Terkait hal ini, Pendiri Komunitas Astronomi Langit Selatan Avivah Yamani mengungkapkan, wisatawan yang ingin sekadar menikmati fenomena ini dapat bepergian ke kota-kota alternatif yang dilalui Gerhana Matahari Sebagian. Akan tetapi, para penggemar astrofotografi biasanya akan mengambil foto dari kota-kota yang dilintasi Gerhana Matahari Total.

Lebih lanjut lagi Avivah menambahkan, berwisata menikmati Gerhana Matahari sebaiknya didampingi oleh astronom karena selain mendapat panduan mengamati gerhana yang tepat, wisatawan juga dapat memperoleh informasi yang akurat mengenai fenomena tersebut.

" Paket tur wisata GMT biasanya dikemas dengan melakukan perjalanan ke kota-kota di sekitarnya. Setelah mengamati gerhana matahari, wisatawan bisa melakukan kegiatan astronomi lain seperti pengamatan langit malam. Jepang dan Australia adalah contoh dua negara yang sukses mempromosikan pariwisata saat gerhana berlangsung," jelas Avivah.

2 dari 3 halaman

Astronom: Idul Fitri Kemungkinan Jatuh 6 Juli

Dream - Kalangan astronomi yakin hari raya Idul Fitri akan jatuh pada dua hari sebelum akhir pekan di minggu pertama Juli.

Rogan Roberts, kepala astronom dari SciFest Dubai Astronomy Group memperkirakan hari Idul Fitri kemungkinan besar akan jatuh pada 6 Juli 2016.

" Kami tahu bulan akan sepenuhnya tak terlihat pada Senin 4 Juli 2016. Namun pada Selasa, 5 Juli, 1 persen permukaan bulan akan terlihat setelah matahari terbenam. Jadi kemungkinan besar, hari pertama Idul Fitri seharusnya pada Rabu 6 Juli," ujar Roberts mengutip laman Gulfnews.

Meski demikina, Robert mengatakan kepastian awal syawal memang harus menunggu keputusan dari pemerintah Dubai.

Menurut Roberts, bagi penduduk Uni Emkrat Arab yang memiliki ide atau pemikiran ke depan, sebetulnya ada beberapa cara berteknologi maju yang bisa memprediksi akhir blan Ramadan. Dia bahkan yakin, hasil dari penelitian itu cukup akurat.

" Banyak aplikasi yang berkaitan dengan astronomi dan Ramadan di Android atau iOS Store. Pergerkan dari bulan bahkan cukup akurat dalam aplikasi itu. Mereka dibuat menggunakan kalkulasi matematis dan berdasarkan perhitungan ilmiah," jelas Roberts.

Alternatif perhitungan penglihatan awal bulan modern mungkin saja lebih akurat dibandingkan cara tradisional. Cara ini bisa menghilangkan kendala debu, kelembaban, maupun polusi yang terkadang membuat proses tradisional jadi sulit dilakukan.

Namun, beberapa negara sampai saat ini diakui masih menggunakan metode tradisional. Roberts menyontohkan Indonesia yang masih menggunakan teleskop untuk melihat bulan.

" JIka bulan hanya muncul 1 persen, saya sulit melihatnya menggunakan mata telanjang," katanya.

3 dari 3 halaman

Ilmuwan: Alam Semesta Sedang Sekarat

Dream - Para ahli astronomi yang melakukan penelitian terhadap 200 ribu galaksi mengatakan alam semesta saat ini tengah sekarat.

Menurut hasil survei terhadap 200 ribu galaksi menggunakan tujuh teleskop terkuat di dunia, energi yang dihasilkan galaksi-galaksi hanya tinggal setengah sejak keberadaannya dua miliar tahun yang lalu. Dan proses meredupnya kekuatan galaksi itu akan terus berjalan.

Hal ini terjadi di semua jenis panjang gelombang cahaya mulai dari ultraviolet hingga inframerah.

" Kekuatan alam semesta ditakdirkan akan menurun sejak sekarang, seperti orang berusia tua, dan berlangsung selamanya," kata Profesor Simon Driver, pemimpin penelitian dari International Centre for Radio Astronomy Research (ICRAR) di Australia Barat dikutip Dream dari laman Daily Mail, Kamis 13 Agustus 2015.

Laporan penelitian Galaxy and Mass Assembly (GAMA) yang dirilis pada Senin kemarin, adalah penelitian tentang berbagai jenis panjang gelombang cahaya terbesar sampai saat ini.

Para peneliti mengumpulkan data dari teleskop yang paling kuat di dunia, termasuk VIST dan VST di Chili, GALEX dan WISE di Amerika Serikat, dan teleskop Herschel milik European Space Agency (ESA) di Eropa.

Dalam pengumpulan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mereka memetakan dan membuat model dari semua energi yang dihasilkan di alam semesta saat ini.

Mereka kemudian melakukan pemetaan sejarah energi alam semesta.

Seperti diketahui, semua energi di alam semesta berasal dari Big Bang yang menciptakan alam semesta. Kekuatan atau energi tersebut kemudian terkunci sebagai massa di dalam planet-planet atau bintang-bintang yang dihasilkan dari Big Bang.

Bintang bisa bersinar dengan mengubah massa menjadi energi, seperti yang dijelaskan oleh Albert Einstein dalam persamaannya yang terkenal E = MC kuadrat.

Namun, proses ini telah menguras energi secara terus-menerus.

" Sementara sebagian besar energi tumpah di sekitar benda angkasa pada waktu setelah Big Bang meledak, energi tambahan terus-menerus dikeluarkan oleh bintang saat mereka menggabungkan unsur-unsur seperti hidrogen dan helium secara bersama-sama," kata Driver.

Energi yang baru dilepas itu diserap oleh debu yang berjalan melalui sejumlah galaksi, atau lolos ke ruang intergalaksi dan melakukan perjalanan hingga menabrak sesuatu seperti bintang, planet, atau tidak jarang cermin teleskop.

Pengetahuan tentang alam semesta yang secara perlahan memudar kekuatannya telah dikenal sejak 1990-an. Tetapi penemuan terbaru adalah yang paling akurat dan produktif sampai saat ini.

Profesor Driver memaparkan penemuannya itu di sidang umum International Astronomical Union di Honolulu, Hawaii.

Beri Komentar