4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Momentum puasa Ramadhan akan melatih mengontrol hawa nafsu. Dari mulai nafsu makan sampai menahan amarah.
Di bulan puasa, umat muslim akan mendapatkan pahala berlipatganda jika berhasil melalui cobaan puasa.
Puasa juga bisa menjadi kesempatan kita untuk berlatih mengontrol emosi, terutama menahan marah.
Melansir dari Time, berdasarkan sebuah studi dalam jurnal Psychology and Aging, rasa marah dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan. Rasa marah kemungkinan dapat meningkatkan risiko inflamasi dan penyakit kronis.

Menurut dua psikolog yakni Carsten Wrosch dan Ute Kunzmann, emosi negatif, seperti marah sebenarnya memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang. Emosi tersebut membuat seseorang jadi mampu melewati suatu kondisi.
" Semua emosi negatif memiliki fungsi positif bila dialami pada saat yang tepat," kata Carsten Wrosh yang merupakan seorang profesor di Universitas Concordia, Kanada.
Peneliti melihat keterkaitan peningkatan marker inflamasi saat orang berumur 80 dan lebih sering merasa marah.
Inflamasi sebenarnya merupakan proses normal yang digunakan tubuh untuk melawan cedera dan infeksi. Namun, inflamasi kronik diasosiasikan dengan berbagai masalah penyakit.
Orang dewasa yang merasakan marah dengan marker inflamasi biasanya juga memiliki penyakit kronik lainnya seperti kanker atau masalah kardiovaskular.
Namun, para peneliti tidak melihat hal yang sama pada rasa sedih dan kaitannya dengan kesehatan.

Rasa marah yang dibiarkan, tentu tidak akan memperbaiki masalah yang dihadapi. Rasa marah hanya akan membawa stres dan dampak lainnya.
" Jika seseorang marah dan mereka mencoba untuk memperbaiki masalah yang tidak bisa diperbaiki, maka itu akan memperpanjang masalah dan menyebabkan disregulasi psikologi," kata Carsten Wrosh.
Para peneliti mengatakan, mungkin memang sulit untuk mengontrol emosi tapi kamu dapat belajar untuk melakukannya.
American Psychological Association menyarankan untuk melakukan relaksasi dan praktik pelepasan stres seperti yoga. Kamu juga harus lebih rasional serta memastikan lingkunganmu tidak membuat merasa stress.
Mayo Clinic pun menyarankan untuk banyak olahraga, sering menonton atau membaca buku humor serta belajar memaafkan.
Sumber Liputan 6
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
