Bayi Suriah yang Terluka Diselamatkan dari Rahim Ibunda

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 11 Agustus 2014 18:03
Bayi Suriah yang Terluka Diselamatkan dari Rahim Ibunda
sang bayi tergolek lemah dan sedang disadarkan dengan masker pernapasan di wajahnya, sementara kapas berlumuran darah berada di sisinya. Ibunya terkena pecahan peluru.

Dream - Serangan udara rezim pemerintah Suriah menewaskan 12 orang pada Minggu kemarin dan melukai 23 lainnya, termasuk seorang ibu dan bayi laki-lakinya yang masih dalam kandungan.

Akibatnya, si bayi yang terluka di kepala karena terkena pecahan peluru itu terpaksa dikeluarkan dari rahim ibunya. Kondisi ibu dan si bayi selamat.

Video operasi pengeluaran bayi dari rahim ibunya direkam dan disiarkan oleh gerilyawan di kota Raqa di timur laut Suriah. Namun keaslian video itu tidak dapat diverifikasi.

Dalam video itu, sang bayi tergolek lemah dan sedang disadarkan dengan masker pernapasan di wajahnya, sementara kapas berlumuran darah berada di sisinya.

Dada kecilnya terlihat kembang kempis sebagai tanda sedang merespon pengobatan yang dilakukan para dokter. Sementara kepalanya diperban karena selalu mengeluarkan darah.

" Ibu bayi ini terluka di bagian perut dan kami harus mengeluarkan bayinya. Dia terkena pecahan peluru di kepala dan para dokter mencoba untuk menyelamatkannya," kata sebuah komentar di rekaman video tersebut.

Pemantau Hak Azasi Manusia Suriah juga melaporkan bahwa seorang bayi laki-laki yang terluka telah dikeluarkan dari rahim ibunya.

Dilaporkan, 12 orang termasuk lima anak-anak, seorang wanita dan seorang guru tewas ketika pesawat tempur rezim Suriah membombardir bagian kota Raqa yang dikuasai ISIS.

Sejak ISIS meluncurkan serangan di Irak dua bulan lalu, pasukan rezim Suriah telah berusaha menghalau para militan yang juga menguasai wilayah Suriah bagian timur dan utara.

Di provinsi Deir Ezzor timur, ISIS berhasil menguasai tiga desa dari suku Shuwaitat yang berpengaruh. Dalam pertempuran antara ISIS dan warga suku Shuwaitat, puluhan orang telah tewas dan menyebabkan eksodus lebih dari 5000 warga sipil.

Menurut data Pemantau HAM Suriah, konflik yang berjalan lebih dari tiga tahun di Suriah itu telah menewaskan lebih dari 170.000 orang. Perang sipil tersebut menjadi semakin kompleks sejak munculnya ISIS yang memerangi pasukan pemerintah dan pemberontak utama.

(Ism, Sumber: Arab News)

Beri Komentar