Bima Arya Larang Peringatan Hari Raya Syiah di Bogor

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 28 Oktober 2015 14:02
Bima Arya Larang Peringatan Hari Raya Syiah di Bogor
Surat edaran ini hasil dari silaturahim unsur Muspida Kota Bogor ke tempat-tempat kegiatan jemaah Syiah.

Dream - Pemerintah Kota Bogor pimpinan Walikota Bima Arya telah mengeluarkan surat edaran Nomor: 300/ 1321- Kesbangpol tentang imbauan pelarangan perayaan Asyura (Hari Besar Kaum Syiah) di Kota Bogor.

Menurut Kepala Bagian Humas Sekretaris Daerah Kota Bogor, Encep Moh Ali Alhamidi, Jumat 23 Oktober 2015 menyebutkan surat edaran ini lahir dengan memperhatikan setidaknya tiga hal.

" Pertama, sikap dan respon Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor Nomor: 042/SEK-MUI/KB/VI/2015 tentang paham Syiah. Kedua, surat pernyataan ormas Islam di Kota Bogor tentang penolakan segala bentuk kegiatan keagamaan Syiah di Kota Bogor, dan terakhir, ini hasil rapat musyawarah pimpinan daerah," beber Encep seperti dilansir situs resmi Pemkot Bogor, kotabogor.go.id.

Encep pun menyambung adanya surat edaran ini merupakan hasil dari silaturahim unsur Muspida Kota Bogor ke tempat-tempat kegiatan ritual Syiah. " Dengan mempertimbangkan kondusivitas kantibmas di Bogor, maka Walikota memandang perlu mengeluarkan surat edaran ini," jelasnya.

Encep merinci ada dua inti surat edaran ini. Pertama, sebutnya, melarang kegiatan perayaan yang dilakukan jemaat Syiah di Kota Bogor. " Kedua, melarang kepada jemaat Syiah agar tidak memobilisir masyarakat baik internal, antar desa/kelurahan atau mendatangkan anggota Syiah dari luar Kota Bogor," ucapnya.

Berdasarkan informasi dari berbagai pihak, lanjut Encep, termasuk pantauan dari Kesbangpol Jumat, 23 Oktober 2015, tidak ada kegiatan kumpulan massa jemaah Syiah di lokasi yang diperkirakan akan menjadi tempat perayaan. " Situasi wilayah terpantau aman dan kondusif," kata Encep. (Ism, Sumber: kotabogor.go.id)

1 dari 4 halaman

MA Saudi Tolak Kasasi Hukuman Mati Ulama Syiah

Dream - Mahkamah Agung (MA) Arab Saudi menolak kasasi atas hukuman mati terhadap ulama Syiah terkemuka, Syeikh Nimr Al Nimr. Dia didakwa menyerukan aksi unjuk rasa pro-demokrasi dan ditahan pada 2012, yang memicu protes hingga menelan korban tewas sebanyak tiga orang.

Saudara Nimr, Mohammed mengatakan putusan tersebut dibacakan dalam sidang tanpa pengacara atau anggota keluarganya. Nasib Syeikh Nimr sekarang berada di tangan Raja Salman yang berwenang memberikan pengampunan.

" Kami tidak ingin apapun terjadi kepada dia atau Ali atau kepada pemuda lainnya," ujar Mohammer Al Nimr. Sejumlah pengamat politik Syiah Saudi pernah mengingatkan protes akan meluas jika eksekusi tersebut dijalankan.

Lebih dari 20 warga Syiah tewas dalam demonstrasi di provinsi bagian timur Qatif antara 2011 dan 2013, yang disebut sebagai protes terhadap diskriminasi sektarian, peran Riyadh dalam mengakhiri protes di Bahrain dan nasib masyarakat setempat yang sebelumnya ditahan.

Tiga orang tewas dalam unjuk rasa selama dua hari setelah Nimr ditahan, bersama seorang polisi. Otoritas setempat menyebut kematian terjadi setelah aksi lempat bom molotov kepada polisi, tetapi aktivis lokal menyebut hal tersebut banyak terjadi saat demonstrasi berlangsung.

Nimr merupakan salah satu pemimpin Syiah yang paling vokal di Qatif, kerap mengeluarkan kritik menyerang penguasa keluarga Al Saud dan mendorong adanya pemilihan umum. " Tetapi dia cukup berhati-hati saat berbicara mengenai kekerasan," ujar pengamat.

Itu tidak mencegah Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi menuduhnya berada di balik serangan terhadap polisi, bersama tersangka lain yang telah bekerja atas nama Syiah Iran, rival dari Kerajaan Arab Saudi.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian mengatakan dalam wawancara degan stasiun televisi, " Eksekusi terhadap Al Nimr berarti Saudi harus mengeluarkan biaya sangat besar," ungkap dia.

Terkait pemberitaan ini, Otoritas Arab Saudi pernah mengeluh melalui konsul Inggris terkait media barat yang menyebut eksekusi Al Nimr bermuatan politik.

Pekan lalu, Perdana Menteri Inggris David Cameron, berharap eksekusi terhadap Al Nimr tidak jadi dijalankan.

Sumber: theguardian.com

2 dari 4 halaman

`Romeo-Juliet` Afghanistan, Bulan Madu di Dalam Gua

Dream - Ini kisah pasangan asal Afghanistan, Mohammad Ali (21) dan Zakia (18). Pasangan ini disebut-sebut sebagai " Romeo dan Juliet Afghanistan" , karena lika-liku perjalanan cinta mereka yang sungguh mengharukan. Mereka terlunta-lunta tanpa restu orangtua.

Menurut laman Daily Mail, Selasa 12 Agustus 2014, pasangan ini sejak kecil dibesarkan di sebuah peternakan. Orangtua keduanya saling bertetangga. Namun, dua keluarga itu beda faham. Keluarga Zakia dari etnis Tajik dan menganut Sunni. Sementara keluarga Ali dari etnis Hazara dan menganut Syiah.

Perbedaan itulah yang menjadi pangkal cerita cinta terlarang ini. Keluarga Zakia merasa malu karena putri mereka menikah dengan seorang penganut Syiah. Ali sempat ditangkap dengan tuduhan kejahatan moral, tapi kemudian dilepaskan. Keluarga Zakia bahkan sampai mengancam akan membunuh pasangan ini.

Karena ancaman itulah, Zakia dan Ali terpaksa kawin lari. Mereka kabur dari rumah keluarga Zakia dan bersembunyi. Usia pernikahan mereka memang sudah empat tahun. Namun keduanya tak berani kembali ke rumah karena takut ancaman pembunuhan itu terjadi.

Selama empat tahun itu pula, Zakia dan Ali terus berpindah. Dari rumah satu teman ke teman lainnya. Bahkan dari satu gua ke gua lainnya. Bulan madu pun harus mereka lakukan di dalam kondisi memprihatinkan, di alam bebas, beralaskan batu-batu gua yang keras dan kasar.

Meski hidup dalam keprihatinan selama menikah, pasangan ini tetap setia. Cobaan teramat berat itu tak menggoyahkan hati mereka. Ali tetap mencintai Zakia. Demikian sebaliknya, Zakia tetap menghormati Ali sebagai kepala keluarga.

Sekarang, pasangan ini tinggal bersama keluarga Ali. Semula, ayah Ali menentang pernikahan mereka, sama seperti keluarga Zakia. Namun ayah Ali kemudian sadar. " Saya menyaksikan penderitaan anak saya. Keluarga Zakia masih mengancam kami," tutur ayah Ali.

 Romeo-Juliet Afghanistan, Bulan Madu di Dalam Gua

Ali dan Zakia. Sumber foto: Daily Mail

Sementara, ayah Zakia tetap tak merestui pernikahan anaknya. Sang ayah tetap ingin anak perempuan itu dikembalikan ke keluarga. Ayah dan saudara-saudara Zakia bahkan dilaporkan terus berpatroli di sekitar rumah keluarga Ali.

Organisasi Hak Asasi manusia (HAM) setempat mengatakan, nasib pasangan ini menggambarkan betapa banyaknya kesalahan interpretasi terhadap hukum moral dan sosial di Afghanistan.

Organisasi ini mencatat, 95 persen perempuan Afghanistan dipenjara gara-gara kejahatan moral, seperti lari dari rumah atau melakukan hubungan seks di luar pernikahan. (Ism)

3 dari 4 halaman

Sosok `Malaikat Pencabut Nyawa` yang Ditakuti ISIS

Dream - Abu Azrael adalah salah satu tentara Irak yang paling ditakuti kelompok ISIS. Dijuluki 'malaikat kematian', mantan dosen ini tergabung dalam Brigade Imam Ali, sebuah kelompok milisi Syiah Irak yang disponsori Iran untuk melawan ISIS.

Dalam foto-foto yang beredar luas di media sosial, Azrael berpose dengan mengangkat kapak, dan memanggul senjata berat bak Rambo di film yang dibintangi oleh Sylvester Stallone. Simak galeri fotonya! [FOTO] Sosok Pencabut Nyawa yang Ditakuti ISIS

(Ism, Sumber: Daily Mail)

4 dari 4 halaman

Geger Salat Tiga Waktu di Jombang

Dream - Kota Santri Jombang dihebohkan dengan beredarnya stiker berukuran kecil berisi ajakan melakukan salat tiga waktu.

Misalnya, salat dzuhur dan ashar, dilakukan pada waktu dzuhur. Kemudian salat magrib dan isya dilakukan pada waktu isya. Salat tiga waktu itu disebut salat jamak.

Namun yang membedakan, salat jamak itu bisa dilakukan meski tidak bepergian. Kemudian salat itu diperuntukkan bagi petani, pedagang kaki lima dan pekerja lainnya.

" Jamak boleh dilakukan tiap hari meski tidak bepergian," tulis dalam stiker tersebut dikutipDream.co.id dari laman Beritajatim.com, Selasa 17 Februari 2015.

Stiker yang sudah masuk ke MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jombang ini diterbitkan PPUW (Pondok Pesantren Urwatul Wutsqo) Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek.

Pondok yang berada di Bulurejo itu bukan kali ini saja membuat heboh. Belum lama ini, PPUW juga membuat sensasi dengan menerapkan hukum cambuk di pesantren itu.

Hj Quratul Ayun, istri dari KH Qoyim Ya'qub, pengasuh PPUW menjelaskan stiker yang mereka edarkan ini untuk para pekerja yang sibuk.

Diantaranya para sopir, tukang becak, dan para buruh tani. Karena mereka tidak bisa tepat waktu untuk melaksankan salat lima waktu.

Quratul Ayun kemudian menyodorkan dasar hukum tentang ajaran salat tiga waktu tersebut, yakni surat Al Isra' ayat 78.

Dalam surat itu, kata dia, ada tiga waktu salat. Pertama, saat tergelincirnya matahari, kemudian gelap malam, dan terang fajar. " Salat jamak juga ada dalam hadits nabi," katanya.

Reaksi MUI

Sekretaris MUI Jombang, KH Junaidi Hidayat, membenarkan beredarnya stiker tersebut. MUI menilai himbauan yang diterbitkan PPUW cukup meresahkan masyarakat. " Kami sangat menyesalkan beredarnya stiker itu, karena berpotensi menyesatkan," kata Junaidi.

Dalam waktu dekat, MUI segera memanggil pengasuh PPUW untuk mengetahui alasan PPUW menerbitkan ajakan salat tiga waktu. 

(Ism, Sumber: Beritajatim.com)

Beri Komentar
BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie