Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Gelombang Tinggi (merdeka.com)
Dream - Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingkatkan adanya potensi terjadinya gelombang laut tinggi hingga akhir Juli nanti. Para nelayan dan pengguna transportasi laut diminta waspada.
Kepala BKMG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan gelombang tinggi bakal terjadi di perairan Indonesia pada 23-28 Juli dengan ketinggian 2,5-6 meter. Sedangkan puncaknya diprediksi terjadi pada 24-25 Juli dengan ketinggian gelombang 4-6 meter.
" Sementara tinggi gelombang 2,5-4 meter (berbahaya) berpeluang terjadi di perairan Sabang, perairan barat utara dan barat Aceh, perairan barat Pulau Simeulue hingga Kepulauan Mentawai, perairan barat Bengkulu hingga Lampung, Selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Jawa hingga Pulau Sumbawa, Selat Bali-Selat Lombok-Selat Alas bagian selatan, perairan selatan Pulau Sumba, Laut Sawu, perairan selatan Pulau Rote," ujat Dwikorita, dikutip dari laman bmkg.go.id, Senin 23 Juli 2018.
Menurut Dwikorita, gelombang tinggi ini dipicu angin yang berhembus dengan kecepatan tinggi di wilayah Mascarane High di Samudra Hindia.
" Dan terjadinya swell akibat dari kejadian Mascarane High yang menjalar hingga wilayah perairan barat Sumatera dan selatan Jawa hingga Pulau Sumba," kata dia.
Mascarene High adalah tekanan tinggi yang bertahan di Samudra Hindia. Kondisi ini memicu terjadinya gelombang tinggi di perairan selatan Indonesia.
Selanjutnya, Dwikorita mengimbau masyarakat yang sedang berwisata di kawasan pantai untuk mewaspadai bahaya rip current atau arus kuat air. Arus ini bergerak menjauhi pantai dan dapat menyapu para perenang.
Rip/back current merupakan pertemuan ombak yang sejajar dengan garis pantai. Kondisi ini menyebabkan arus balik dengan kecepatan tinggi mencapai 2 meter per detik.
" BMKG pun berupaya memberikan peringatan bahaya rip current kepada masyarakat melalui media sosial," kata Dwikorita.
Lebih lanjut, dia mengimbau nelayan menunda penangkapan ikan untuk sementara waktu hingga gelombang tinggi mereda. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya