Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Cerita Muhamad Ikbal, Penemu Amplop Penuh Dolar AS dan Euro di Rusun Nagrak

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 7 Maret 2022 13:57
Cerita Muhamad Ikbal, Penemu Amplop Penuh Dolar AS dan Euro di Rusun Nagrak
Ia sempat keringat dingin saat menemukan uang itu.

Dream – Pemuda itu sedang duduk di sebuah bukit yang luas. Ia mengenakan sarung tradisional Lombok warna biru yang dia kalungkan di lehernya. Sarung itu dan rambutnya terlihat sedikit terbang tertiup angin. Kedua tangganya nampak memeluk kedua kakinya. Kepalanya menengadah ke langit.

Pemuda itu tengah duduk di sebuah bukit yang diselimuti hamparan rerumputan hijau. Bukit itu langsung menjorok ke laut lepas. Di atasnya, langit biru terbentang luas. Senada dengan warna biru laut di bagian bawahnya. Deretan awan putih terlihat bergumpal-gumpal, seperti mozaik yang memperindah foto itu.

Itu adalah foto yang dipilih pemuda itu untuk tampil di foto profil WhatsApp pribadinya. Sudah sepekan ini dia menampilkan foto profil itu di nomor WhatsApp pribadinya.

“ Saya sekarang masih di Lombok,” kata pemuda itu, Muhamad Ikbal, 23 tahun, petugas kebersihan Rumah Susun (Rusun) Nagrak, Cilincing, Jakarta Utara, saat dihubungi Dream.co.id pekan lalu.

Muahamad Ikbal saat di Lombok


Ia mengaku foto dirinya itu diambil saat dia tengah berada di Bukit Merese, Lombok. Ikbal memang tengah liburan selama seminggu di Lombok, Nusa Tengara Barat.

Liburan itu merupakan hadiah yang diberikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, atas kejujuran Ikbal mengembalikan amplop penuh uang dolar Amerika Serikat dan Euro di tempat kerjanya di Rusun Nagrak yang belakangan jadi viral dan menarik perhatian Sandiaga Uno.

Ia berada di Lombok sejak tanggal 19 sampai 24 Februari 2022. Selama di Lombok, dia ditemani staf Sandiaga Uno untuk menikmati pemandangan. Ia juga sempat mendatangi Sirkuit Mandalika dan tempat-tempat wisata lain di Lombok.

Pada hari kedua dia berada di Lombok, dia juga  bertemu langsung dengan Sandiaga Uno di Sirkuit Mandalika.

" Saya tidak pernah menyangka seperti ini. Saya berangkat hari Sabtu, setelah dihubungi sehari sebelumnya lewat video call oleh pak Sandiaga. Besoknya saya langsung terbang ke Lombok," katanya.

Muhamad Ikbal saat video call dengan Sandiaga Uno

Menurut Ikbal, ini adalah pengalaman pertamanya berlibur ke luar Jawa. Itu juga pengalaman pertamanya selama seumur hidup naik pesawat terbang.

Selama ini pengalamannya berlibur paling jauh di pantai Anyer dan Puncak. Makanya, selama berada di pesawat terbang, jantungnya berdegup kencang karena memang dia tak pernah naik pesawat.

" Jadi saya tidak bisa bilang apa-apa. Tidak pernah menyangka saya berada di titik ini sekarang," ujarnya.

Selain berlibur gratis, dia juga mendapat uang saku untuk membeli oleh-oleh. Ia mengaku bersyukur atas liburan ini. " Tidak pernah menyangka. Tiba-tiba saya ada di Lombok."

Tak hanya itu. Dia juga menerima uang Rp 15 juta dari atasannya, Novita Dewi, Direktur Jakarta Experience Board atau PT Jakarta Tourisindo, salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Ikbal saat menerima uang pernghargaan Rp 15 juta dari Dirut PT JEB, Novita Dewi

" Saya juga sudah diangkat jadi karyawan tetap. Saya merasa bersyukur sekali," ujarnya. Padahal, masa kerjanya belum sampai dua bulan.

***

Muhamad Ikbal lahir di Bogor, 17 Juli 1999. Ia tinggal di Kampung Cemplang, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Ikbal adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ayah dan ibunya bercerai  sejak Ikbal kecil. Saat ayahnya bercerai dengan ibunya, usia Ikbal masih lima tahun. Ikbal dan dua saudaranya lalu dibesarkan oleh ibunya.

Ibunya bekerja sebagai karyawan konveksi di Jakarta. Karena itu, Ikbal dititipkan dan diasuh oleh neneknya di Kampung Cemplang, Bogor, karena ibunya harus bekerja di Jakarta.

Tapi, seminggu sekali, di akhir pekan, ibunya yang biasa dipanggil Umi, selalu pulang. Selain memberi uang hasil kerjanya untuk kebutuhan rumah tangga, Umi selalu menasehati Ikbal dan dua saudaranya.

Ibunya sering mengatakan, " Kerja itu harus jujur. Jangan ambil barang yang bukan milik kita. Salat lima waktu." Itulah sedikit nasehat ibunya sejak Ikbal kecil.

Ikbal menghabiskan pendidikan SD sampai SMP di Madrasah. Alasan Ikbal masuk Madrasah sebetulnya lebih karena alasan ekonomi.  Karena masuk SD saat itu mahal, maka dia disekolahkan di Madarasah Ibtidaiyah. Lalu meneruskan ke Madrasah Tsanawiyah Matanal Anwar, dan kemudian bersekolah di SMK Cahaya.

Setelah Ikbal tamat SMK tahun 2018, Ikbal sempat kerja jadi tukang sablon selama empat tahun. Itu terjadi pada tahun 2018 sampai 2022.

Dulu, pesanan sablon dari anak-anak SMA cukup ramai. Tapi saat pandemi datang, order mulai jarang ketika pelajar SMA belajar dari rumah. Usaha sablon pun sepi.

Maka, dia pun mulai mencari pekerjaan baru. Awal tahun 2022, dia melamar sebagai petugas kebersihan di PT Jakarta Experience Board atau PT Jakarta Tourisindo, sebuah BUMD milik Pemprov DKI Jakarta.  Ia mendapat informasi lowongan itu dari kerabatnya.

Ia mulai bekerja di perusahaan itu sejak tanggal 28 Januari 2022. Ia kemudian ditempatkan sebagai tenaga kebersihan Rumah Susun Nagrak, di Cilincing, Jakata Utara.

Ia bekerja sebagai tenaga kebersihan atau house keeping.  Di sana dia mendapat mess atau penginapan di menara atau tower 4 Rusun Nagrak itu. Di Rusun Nagrak sendiri ada 5 menara yang dibuka.

***

Kejadian penemuan amplop berisi dolar AS dan Euro itu terjadi pada hari Rabu tanggal 9 Februari 2022, jam 19.40 WIB. Pada hari itu Ikbal kebagian shift kerja sore, dari jam 4 sore sampai jam 12 malam.

Saat itu dia mendapat tugas untuk membersihkan dan merapikan kamar yang sudah selesai digunakan mereka yang menjalani karantina. Kebanyakan yang menjalani karantina di sana baru datang dari luar negeri. Mereka yang menjalani karantina di Rusun Nagrak umumnya adalah pekerja migran Indonesia.

Bila mereka yang menjalani karantina positif Covid-19, maka Ikbal harus menggunakan alat perlindungan diri atau APD. Tapi bila yang menjalani karantina tidak positif, Ikbal tidak perlu mengenakan APD. Cukup pakaian kerja dengan protokol kesehatan yang ketat.

Nah, kamar yang disuruh dia bersihkan karena penghuninya baru keluar itu ada di Tower 2, lantai 10, unit 11. Sebelumnya dia memang sudah diberi data tentang penghuni kamar yang keluar karantina hari itu.

Dia pun mendatangi kamar di Tower 2, lantai 10 unit 11 itu. Tapi kamar itu terkunci. Jadi dia pun mengambil kunci terlebih dahulu untuk membuka kamar. Setelah kamar terbuka, ia mulai merapihkan kamar. Kamar itu terdiri dari empat kasur.  Satu kamar memang bisa dihuni oleh empat orang.

Setelah menyapu, dia mulai mengganti seprai yang berantakan karena baru saja dipakai. Pada saat mau memasang seprai dan mengangkat ujung kasur, tangannya menyentuh sebuah benda. Setelah dia lihat, benda itu ternyata sebuah amplop putih yang berada di tepi sudut kasur atas.

Awalnya dia ingin membuang amplop itu ke tempat sampah. Tapi tak jadi. “ Saya penasaran. Saya pun membuka amplop itu,” katanya.

Ternyata saat amplop dibuka, ada amplop lain lagi di dalamnya. Dan isinya penuh mata uang asing. Ada pecahan 100 Euro dan pecahan U$ 100. Belakangan dia tahu jumlahnya 2.050 Euro dan U$ 3.000 atau senilai  lebih dari Rp 65 juta.

" Waktu itu saya keringat dingin. Ada pikiran yang tidak-tidak. Ada pergolakan, ambil, jangan, ambil, jangan," ujarnya menceritakan pergulatan batin dirinya.  Jujur dia mengaku belum pernah melihat uang sebanyak itu.

Amplop yang ditemukan Ikbal

Saat tengah dalam kebimbangan itu, mendadak dia teringat nasehat ibunya: " Kerja harus jujur. Kalau itu bukan hak kita, jangan diambil."

Barulah setelah teringat pesan ibunya, Ikbal merasa lebih tenang. Ia pun melapor ke atasannya tentang temuan amplop berisi uang itu melalui pesan WhatsApp. Tidak sampai lima menit dia ditelepon atasannya, pak Hengki. Tak lama kemudian atasannya Hengki datang dengan penjaga keamanan Rusun Nagrak yang berasal dari unsur TNI.

Di situ, Ikbal ditanya tentang kronologi penemuan amplop itu. Ia lalu menceritakannya. Setelah itu Ikbal disuruh memperagakan penemuannya untuk difoto oleh petugas keamanan TNI guna dibuatkan kronologi kejadian.

Ikbal saat rekonstruksi kejadian

Sesudah itu, petugas keamanan TNI dan atasannya itu turun ke bawah untuk menyimpan uang temuannya itu di kantor, seraya menunggu pemiliknya datang.

Ikbal pun meneruskan kerjanya di kamar itu. Nah, pada saat itu, mendadak datang pemilik amplop itu yang belakangan dia tahu bernama Syaiful Amin. Syaiful merupakan steward di Mediterranean Shipping Company yang baru saja kembali dari Mesir.

Steward adalah jabatan seseorang yang tugasnya mengurus alat-alat yang ada di dapur, bar, restauran dan banquet pada suatu hotel termasuk untuk kebersihan dapur. Pemilik amplop itu datang dengan wajah cemas dan nafas tersengal.

Di depan kamar, ia pun langsung menanyai Ikbal, " Mas lihat uang saya yang ada di bawah kasur?"

Ikbal pun menjawab, " Iya, saya yang temukan dan sudah saya serahkan ke atasan saya." Wajah pemilik amplop itu terlihat sedikit lega.  

Lalu Ikbal mengantar pemilik amplop itu ke kantor atasannya. Usai mengantar, Ikbal kembali ke kamar untuk kembali bekerja sampai jam kerjanya usai.

***

Belakangan, pemilik amplop, Syaiful Amin, menulis kesaksian atas kejujuran Muhamad Ikbal di Facebooknya melalui akun Iphoel Syaiful, tanggal 15 Februari 2022 pukul 12.39 WIB. Ia menulis sebagai berikut:

" Beberapa waktu lalu, saya kembali dari negara Mesir dan harus melakukan karantina di Rusun Nagrak Cilincing. Pada Rabu, 9 Februari lalu, masa karantina akhirnya selesai, hasil swab saya pun negatif, sehingga saya diperbolehkan pulang. Saat perjalanan pulang, saya tersadar amplop berisi uang di tas saya tidak ada. Jumlah uang yang ada lumayan besar, ada 2.050 Euro dan 3.000 Dolar AS atau total lebih dari Rp. 65 juta.

" Saya bergegas kembali ke Rusun Nagrak dengan harap-harap cemas uang saya dapat kembali. Sesampainya di Rusun Nagrak, saya menuju front office yang dijaga oleh petugas dari Jakarta Experience Board (JXB), saya laporkan perihal uang saya yang hilang. Petugas bertanya jumlah uang, lokasi terakhir dan detail lainnya. Sepertinya petugas memastikan itu adalah uang saya, setelah mereka yakin, uang tersebut dikembalikan kepada saya. Lega banget.

" Saya mengucapkan terima kasih kepada Muhammad Ikbal, petugas kebersihan yang menemukan uang saya dan dengan penuh kejujuran melaporkan penemuan uang tersebut. Kejujuran ini semakin mahal di kondisi yang serba sulit. Ada banyak pilihan buat Mas Ikbal dan dia memilih untuk berbuat benar.

" Saya mengucapkan apresiasi dan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ikbal dan petugas Jakarta Experience Board serta bapak-bapak Satgas dari TNI.

" Apresiasi dan terima kasih juga saya sampaikan kepada Presiden RI Bapak @jokowi,  Menteri Parekraf Pak @sandiuno, @bnpb_indonesia, @kodam_jayakarta, Kementerian Kesehatan @kemenkes_ri, serta @jxboard yang telah membuat lokasi karantina menjadi lebih nyaman dan melayani kami dengan baik.

" Terima kasih, semoga kejujuran mas Ikbal dapat menjadi teladan bagi kita semua," tulis Syaiful.

Gara-gara unggahan itu, kejujuran Muhamad Ikbal jadi viral dan membetot perhatian Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno. Ikbal pun ditelepon melalui video call oleh Sandiaga Uno pada Jumat 18 Februari 2022  untuk  mendengar langsung kronologi kejadiannya.

Sementara itu, Muhammad Ikbal merasa terkejut ketika ditelepon sang menteri. “ Terima kasih pak Sandi. Saya selalu ingat pesan ibu saya kalau kerja itu harus jujur,” ujar Ikbal.

Berkat kejujurannya, Sandiaga Uno menawarkan paket jalan-jalan ke Mandalika. “ Yuk kapan kita ke sana, tunggu Ikbal libur,” kata Sandi.

Ternyata Sandiaga Uno tak sedang bercanda. Esoknya, Sabtu 19 Februari 2022, Ikbal langsung dijemput dan hari itu juga terbang ke Lombok. Sehingga dia bisa memasang foto dirinya di Bukit Merese, Lombok, sebagai foto profil di WhatsApp pribadinya.

Itu jadi akhir bahagia bagi Ikbal. Seorang pemuda jujur yang memegang teguh nasehat ibunya. Pemilik amplop itu, Syaiful Amin, benar ketika dia menulis: " Kejujuran ini semakin mahal di kondisi yang serba sulit. Ada banyak pilihan buat Mas Ikbal dan dia memilih untuk berbuat benar." (eha)

Beri Komentar